Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.
Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”
Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”
Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.
Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”
Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.
Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.
Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”
Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”
Si buta tertegun..
Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”
Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”
Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.
Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.
Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”
Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”
Senyap sejenak.
secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”
Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.
Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.
Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.
Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”
Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).
Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.
Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.
Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.
Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.
Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.
Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.
Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.
Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
Kamis, 04 Februari 2010
Tambah 5 menit saja yah
5 menit saja
Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. “Tuh.., itu putraku yang di situ,” katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
“Wah, bagus sekali bocah itu,” kata bapak di sebelahnya. “Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,” sambungnya, memperkenalkan. Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?” Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?”
Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. “Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?” Lagi-lagi Jack memohon, “Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?” pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, iyalah…”
“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu. Pria itu membalas senyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya….”
Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas. Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini?
Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. “Tuh.., itu putraku yang di situ,” katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
“Wah, bagus sekali bocah itu,” kata bapak di sebelahnya. “Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,” sambungnya, memperkenalkan. Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?” Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?”
Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. “Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?” Lagi-lagi Jack memohon, “Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?” pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, iyalah…”
“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu. Pria itu membalas senyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya….”
Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas. Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini?
9 Renungan Motivasi
9 Renungan Motivasi Berikut ini artikel untuk merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri (Self Reframing) :
1.TAKLUKKAN DIRI SENDIRI
“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat.
Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)
Perenungan Diri:
1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?
2. BELAJAR DARI KEKALAHAN
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
- Duduk diam dan tarik nafas panjang
- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
- Ambil pelajaran dari kekalahan itu
- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
- Hembuskan nafas secepat mungkin
- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.
3. PELAUT TANGGUH …
(Bayangkan WS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang,
tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.
4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES
“Tidak Ada Jalan yg Mulus utk Sukses,
Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart,
sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu,
tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.
5. SIAPA YANG KAYA?
“Siapa yang kaya?
Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat
kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai
sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri
saja bahwa hal ini benar.
6. CHOOSE TO BE HAPPY …
We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)
Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”
7. SETIA PADA HAL KECIL
Bukan tindakan besar dan hebat,
yang menentukan hidup kita,
melainkan kesetiaan dalam menekuni
pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap.
Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan.
Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap.
Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna.
Dan, tekad besar untuk menelannya.
Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita.
Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!
8. IMPIAN PERLU UJIAN
(Baca gaya retorik Bung Karno)
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)
keyakinan untuk mencapainya
9. TUM SPIRO, SPERO
“Tum Spiro, Spero” artinya:
“Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini.
Hidup ini sangat berarti, berkaryalah.
Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa.
Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.
Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.
Hening membuat bening…
Bening membuat jelas…
Krishnamurti
1.TAKLUKKAN DIRI SENDIRI
“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat.
Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)
Perenungan Diri:
1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.
2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.
3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”
4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.
5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.
6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.
7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.
8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…
Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?
2. BELAJAR DARI KEKALAHAN
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )
Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:
- Duduk diam dan tarik nafas panjang
- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)
- Ambil pelajaran dari kekalahan itu
- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur
- Hembuskan nafas secepat mungkin
- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin
“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,
sesungguhnya Anda tidak kalah”
Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.
3. PELAUT TANGGUH …
(Bayangkan WS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)
Hidup adalah rangkaian masalah.
Jika kita melihatnya sebagai masalah.
Hidup adalah rangkaian tantangan.
Jika kita melihatnya sebagai peluang.
Tantangan penting untuk otot pikiran.
Tantangan membuat kita bertumbuh.
Tantangan membuat kita kreatif.
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)
Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.
Karena artinya kita memiliki peluang.
(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)
Ya, sebuah peluang untuk Menang.
Pepatah kuno mengatakan:
“Lautan yang tenang,
tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”
Atasilah masalah dengan:
Tetaplah tersenyum.
Tetaplah bergandengan tangan.
Kita hanyalah berbeda, itu saja.
4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES
“Tidak Ada Jalan yg Mulus utk Sukses,
Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )
Perenungan Diri:
Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat
otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan
“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.
“Anda tidak mungkin memahami Work Smart,
sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)
Situasi Indonesia boleh tidak menentu,
tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.
Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.
5. SIAPA YANG KAYA?
“Siapa yang kaya?
Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)
Perenungan Diri:
Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat
kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai
sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri
saja bahwa hal ini benar.
6. CHOOSE TO BE HAPPY …
We always have a choice
We can choose to be happy
or we can choose to be grumpy
But It’s always better, smarter and wiser
to choose to be happy… (Melody Ross)
Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)
“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”
7. SETIA PADA HAL KECIL
Bukan tindakan besar dan hebat,
yang menentukan hidup kita,
melainkan kesetiaan dalam menekuni
pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)
Perenungan Diri:
Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap.
Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan.
Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap.
Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.
“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”
“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”
Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna.
Dan, tekad besar untuk menelannya.
Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita.
Karena sang musuh adalah di ego diri.
Tapi, mungkin!
8. IMPIAN PERLU UJIAN
(Baca gaya retorik Bung Karno)
kala impian membuat kita berbeda
kala cara pikir kita ditertawakan
kala senyuman kita disiniskan
kala warna semangat mulai meluntur
kala impian membuat hati bias
justru teruslah maju dan berpegang
teruslah berpegang pada impian kita
bangunlah keyakinan demi keyakinan
bukankah layang-layang terbang tinggi
karena melawan arah angin
(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)
impian kita hanya perlu diuji
diuji untuk membangun keyakinan
(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)
keyakinan untuk mencapainya
9. TUM SPIRO, SPERO
“Tum Spiro, Spero” artinya:
“Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”
Buanglah kata menyerah dalam hidup ini.
Hidup ini sangat berarti, berkaryalah.
Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa.
Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.
Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.
Hening membuat bening…
Bening membuat jelas…
Krishnamurti
4 Lilin Menyala
Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka
Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.
Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.
Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia mengangis tersedu-sedu.
Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”
Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!
ABOUT MUSIC LITURGY
Liturgical music originated as a part of religious ceremony , and includes a number of traditions, both ancient and modern. Liturgical music is well known as a part of Catholic Mass , the Anglican Holy Communion service (or Eucharist ), the Lutheran Divine Service , the Orthodox liturgy and other Christian services including the Divine Office . Such ceremonial music in the Judeo-Christian tradition can be traced back to both Temple and synagogue worship of the Hebrews .
The qualities that create the distinctive character of liturgical music are based on the notion that liturgical music is conceived and composed according to the norms and needs of the various historic liturgies of particular denominations .
The interest taken by the Catholic Church in music is shown not only by practitioners, but also by numerous enactments and regulations calculated to foster music worthy of Divine service. Contemporary Catholic official church policy is expressed most particularly in the document Sacrosanctum Concilium (items 112-121) of the Second Vatican Council .
While there have been historic disputes within the church where elaborate music has been under criticism, there are many period works by Orlandus de Lassus , Allegri , Vittoria , where the most elaborate means of expression are employed in liturgical music, but which, nevertheless, conform to every liturgical requirement while seeming to be spontaneous outpourings of adoring hearts (cf. contrapuntal or polyphonic music ). Besides plain chant and the polyphonic style, the Catholic Church also permits homophonic or figured compositions with or without instrumental accompaniment, written either in in ecclesiastical modes , or the modern major or minor keys. Gregorian chant is warmly recommended by the Catholic Church, as both polyphonic music and modern unison music for the assembly.
Prior to the Second Vatican Council , according to the Motu proprio of Pius X (22 Nov. 1903), the following were the general guiding principles of the Church: "Sacred music should possess, in the highest degree, the qualities proper to the liturgy, or more precisely, sanctity and purity of form from which its other character of universality spontaneously springs. It must be holy, and must therefore exclude all profanity, not only from itself but also from the manner in which it is presented by those who execute it. It must be true art, for otherwise it cannot exercise on the minds of the hearers that influence which the Church meditates when she welcomes into her liturgy the art of music. But it must also be universal, in the sense that, while every nation is permitted to admit into its ecclesiastical compositions those special forms which may be said to constitute its native music, still these forms must be subordinated in such a manner to the general characteristics of sacred music, that no one of any nation may receive an impression other than good on hearing them." This was expanded upon by Pope Pius XII in his Motu Proprio title Musicae Sacrae.
The qualities that create the distinctive character of liturgical music are based on the notion that liturgical music is conceived and composed according to the norms and needs of the various historic liturgies of particular denominations .
The interest taken by the Catholic Church in music is shown not only by practitioners, but also by numerous enactments and regulations calculated to foster music worthy of Divine service. Contemporary Catholic official church policy is expressed most particularly in the document Sacrosanctum Concilium (items 112-121) of the Second Vatican Council .
While there have been historic disputes within the church where elaborate music has been under criticism, there are many period works by Orlandus de Lassus , Allegri , Vittoria , where the most elaborate means of expression are employed in liturgical music, but which, nevertheless, conform to every liturgical requirement while seeming to be spontaneous outpourings of adoring hearts (cf. contrapuntal or polyphonic music ). Besides plain chant and the polyphonic style, the Catholic Church also permits homophonic or figured compositions with or without instrumental accompaniment, written either in in ecclesiastical modes , or the modern major or minor keys. Gregorian chant is warmly recommended by the Catholic Church, as both polyphonic music and modern unison music for the assembly.
Prior to the Second Vatican Council , according to the Motu proprio of Pius X (22 Nov. 1903), the following were the general guiding principles of the Church: "Sacred music should possess, in the highest degree, the qualities proper to the liturgy, or more precisely, sanctity and purity of form from which its other character of universality spontaneously springs. It must be holy, and must therefore exclude all profanity, not only from itself but also from the manner in which it is presented by those who execute it. It must be true art, for otherwise it cannot exercise on the minds of the hearers that influence which the Church meditates when she welcomes into her liturgy the art of music. But it must also be universal, in the sense that, while every nation is permitted to admit into its ecclesiastical compositions those special forms which may be said to constitute its native music, still these forms must be subordinated in such a manner to the general characteristics of sacred music, that no one of any nation may receive an impression other than good on hearing them." This was expanded upon by Pope Pius XII in his Motu Proprio title Musicae Sacrae.
Karl Edmund Prier SJ dan Musik Liturgi
Oleh DWIKORI SITARESMI
Karl Edmund Prier SJ, pastor kelahiran Weinheim, Jerman, 72 tahun lalu, dikenal karena kiprahnya dalam musik liturgi gereja (Katolik). Kemampuannya mengolah dan mencipta lagu serta memainkan organ tidak diragukan lagi.
Romo Prier berkenalan dengan musik klasik saat berusia delapan tahun. Perkenalan itu menjadi awal ketertarikannya menekuni musik. Prier muda belajar main organ dan piano. Saat berlatih memainkan alat musik itu, mau tidak mau dirinya harus memahami teori musik, ilmu harmoni, analisa lagu, dan komposisi.
Pendidikan musiknya terus berlanjut ketika ia terpanggil menjadi imam dan menjadi anggota Societas Jesu (SJ), Serikat Yesus. Ketekunan itu membuahkan hasil.Karl Edmund Prier dipercaya menjadi guru musik di salah satu kolose di Austria.
Minatnya mempelajari musik berkembang ketika pimpinan Serikat Yesus mengutusnya dirinya menjadi misionaris di Indonesia. Prier jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional. Itu berawal saat Prier tinggal di daerah Wonosari, Jogjakarta. Waktu itu ia masih frater. Ia tinggal di situ untuk mempelajari bahasa Jawa sebelum kuliah teologi di Sekolah Tinggi dan Filsafat Teologi Kentungan, Jogjakarta.
Pada 1960-an itu keadaan Wonosari memprihatinkan. Listrik tidak ada. Kemiskinan di mana-mana. Nasi tidak ada. Gaplek menjadi makanan sehari-hari penduduk setempat. Ketika Natal dirayakan dengan sederhana di Gereja Wonosari, Prier merasa sedih. Matanya menerawang merindukan kampung halamannya.
"Ah, seandainya saya berada di Jerman. Natal pasti terasa lain. Nyanyian Natal terdengar di mana-mana. Suasana sangat meriah."
Lama-kelamaan ia merasakan sesuatu yang lain yang menyentuh hatinya. Seusai misa, Karl Edmund Prier melihat beberapa jemaat yang datang dari tempat yang jauh enggan pulang dan memilih tetap menginap di gereja. Mereka berkumpul dan merayakan Natal dengan makanan seadanya. Hal ini dilakukan karena takut dengan orang-orang komunis yang berada di sekitar gereja.
Di malam hari, tempat itu dipakai untuk berlatih gamelan. Keramahan orang-orang di sekitar yang selalu menyapanya, bahkan menyuruhnya ikut main gamelan, sungguh membuat Karl Edmund Prier makin dekat dengan budaya dan bahasa Jawa.
Saat melanjutkan pendidikan teologi di STFT Kentungan, berbagai gagasan berkembang dalam benaknya. Ia mendapatkan ide-ide ketika membaca hasil Konsili Vatikan II yang salah satu poinnya berbunyi: "Hendaknya musik gereja berpangkal dari budaya setempat."
Karl Edmund Prier berpikir, "Kalau begitu lagu-lagu inkulturasi harus diciptakan agar liturgi gereja bertambah semarak." Untuk itu, menurut Prier, sebuah pusat musik liturgi harus segera dibentuk. Tepat setelah ditahbiskan, Romo Karl Edmund Prier mengusulkan hal itu kepada pimpinan Serikat Yesus. Ternyata, idenya diterima dengan baik.
Jogjakarta dipilihnya sebagai tempat untuk mengembangkan lembaga itu. Karl Edmund Prier berlasan, Jogja masih sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lainnya. Karena itu, Pusat Musik Liturgi (PML) didrikan di Jogja pada 1971. "Kota ini akan menjadi tempat untuk mengolah lagu-lagu inkulturasi dari daerah lain," harap Karl Edmund Prier.
Selain menciptakan musik inkulturasi, Karl Edmund Prier juga menciptakan pendidikan musik bagi umat Katolik di Jogjakarta. Ia memberi perhatian khusus terhadap pembinaan organis yang andal. Menurut dia, pendidikan musik harus diterapkan dengan serius dan berkesinambungan. Maka, dia membuat program pendidikan organis selama tiga tahun.
Mereka yang ingin mempelajari alat musik organ diberi pengetahuan tentang teori musik, teori dan praktik dirigen, liturgi, ilmu harmoni, membuat iringan, berlatih paduan suara, dan praktik organ dengan ujian. Juga ada pentas tiga kali setahun.
Ada satu lagu rohani yang selalu menjadi semboyan Karl Edmund Prier. Lagu itu berjudul NYANYIKAN LAGU BARU BAGI TUHAN. Kata demi kata yang menjadi syair kidung itu memberinya dorongan untuk terus berkarya,mencipta lagu, membuat komposisi musik.
"Menyanyikan lagu baru bagi Tuhan berarti menciptakan lagu baru. Lagu Indonesia yang inkulturatif sesuai dengan cita-cita Konsili Vatikan II," tuturnya.
Karl Edmund Prier sangat menghargai kerja tim. Hal itu dibuktikan saat mengadakan lokakarya komposisi musik gereja. Acara itu selalu menghasilkan lagu-lagu liturgi yang baru. Ia menghendaki setiap lagu yang diciptakan tidak ada nama penciptanya. Maka, tiap karya seni yang dihasilkan lewat acara itu hanya mencantumkan nama "hasil lokakarya komposisi musik gereja".
"Lagu-lagu itu adalah hasil kerja tim PML Jogjakarta. Bukan hasil karya perorangan," ungkapnya.
Karl Edmund Prier selalu memperjuangkan kelestarian lagu-lagu inkulturasi dalam gereja. Ketika pencipta-pencipta lagu rohani yang baru bermunculan, ia tidak merasa tersaingi, bahkan gembira. Namun, ia menyayangkan bila lagu-lagu baru dibuat asal-asalan, tidak liturgis, dan tidak sungguh-sungguh memperhatikan syair. Karya semacam itu hanya bertahan sebentar dan menjadi sampah.
Menurut Karl Edmund Prier, lagu gereja harus dibuat sungguh-sungguh sehingga dapat digunakan untuk membantu umat berdoa. Ia prihatin melihat perkembangan lagu-lagu baru.
"Kini, banyak pencipta lagu rohani yang terpengaruh dengan budaya lagu-lagu pop di televisi sehingga mereka membuat lagu gereja yang ngepop. Mereka merasa bahwa lagu-lagu tersebut sesuai dengan selera anak-anak muda," ujarnya.
Karl Edmund Prier berpendapat, pencipta lagu harus menyadari bahwa umat pergi ke gereja untuk mencari jawaban dari Tuhan atas segala permasalahan hidupnya. Kondisi itu sangat berbeda saat seseorang duduk di depan televisi dengan motivasi mencari hiburan. Maka, lagu gereja yang baik harus mempertimbangkan lirik dan nada yang dapat membantu umat berdoa.
Sejenak Karl Edmund Prier mengingat saat-saat ketika ia masih berada di Jerman. Waktu itu gereja-gereja berusaha menarik kaum muda mengikuti perayaan ekaristi. Mereka boleh menggunakan band dan lagu-lagu pop rohani yang sama sekali tidak liturgis. "Tapi lambat laun anak-anak muda itu tidak menemukan makna liturgi yang sesungguhnya dalam setiap musik yang mereka mainkan," kenangnya.
Karena itu, Karl Edmund Prier terus bersemangat dalam memperkenalkan pemahaman tentang lagu liturgi yang benar kepada masyarakat. Dia juga menginginkan paduan suara berkualitas untuk membawakan semua lagu yang diciptakannya bersama tim PML. Keinginan itu didengar oleh Paul Widyawan. Lahirlah Paduan Suara Vocalista Sonora di Jogjakarta.
Di usia 72 tahun, Karl Edmund Prier terus berkarya. Baginya, tiada hari tanpa musik.
Sumber: Majalah HIDUP, Jakarta
Karl Edmund Prier SJ, pastor kelahiran Weinheim, Jerman, 72 tahun lalu, dikenal karena kiprahnya dalam musik liturgi gereja (Katolik). Kemampuannya mengolah dan mencipta lagu serta memainkan organ tidak diragukan lagi.
Romo Prier berkenalan dengan musik klasik saat berusia delapan tahun. Perkenalan itu menjadi awal ketertarikannya menekuni musik. Prier muda belajar main organ dan piano. Saat berlatih memainkan alat musik itu, mau tidak mau dirinya harus memahami teori musik, ilmu harmoni, analisa lagu, dan komposisi.
Pendidikan musiknya terus berlanjut ketika ia terpanggil menjadi imam dan menjadi anggota Societas Jesu (SJ), Serikat Yesus. Ketekunan itu membuahkan hasil.Karl Edmund Prier dipercaya menjadi guru musik di salah satu kolose di Austria.
Minatnya mempelajari musik berkembang ketika pimpinan Serikat Yesus mengutusnya dirinya menjadi misionaris di Indonesia. Prier jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional. Itu berawal saat Prier tinggal di daerah Wonosari, Jogjakarta. Waktu itu ia masih frater. Ia tinggal di situ untuk mempelajari bahasa Jawa sebelum kuliah teologi di Sekolah Tinggi dan Filsafat Teologi Kentungan, Jogjakarta.
Pada 1960-an itu keadaan Wonosari memprihatinkan. Listrik tidak ada. Kemiskinan di mana-mana. Nasi tidak ada. Gaplek menjadi makanan sehari-hari penduduk setempat. Ketika Natal dirayakan dengan sederhana di Gereja Wonosari, Prier merasa sedih. Matanya menerawang merindukan kampung halamannya.
"Ah, seandainya saya berada di Jerman. Natal pasti terasa lain. Nyanyian Natal terdengar di mana-mana. Suasana sangat meriah."
Lama-kelamaan ia merasakan sesuatu yang lain yang menyentuh hatinya. Seusai misa, Karl Edmund Prier melihat beberapa jemaat yang datang dari tempat yang jauh enggan pulang dan memilih tetap menginap di gereja. Mereka berkumpul dan merayakan Natal dengan makanan seadanya. Hal ini dilakukan karena takut dengan orang-orang komunis yang berada di sekitar gereja.
Di malam hari, tempat itu dipakai untuk berlatih gamelan. Keramahan orang-orang di sekitar yang selalu menyapanya, bahkan menyuruhnya ikut main gamelan, sungguh membuat Karl Edmund Prier makin dekat dengan budaya dan bahasa Jawa.
Saat melanjutkan pendidikan teologi di STFT Kentungan, berbagai gagasan berkembang dalam benaknya. Ia mendapatkan ide-ide ketika membaca hasil Konsili Vatikan II yang salah satu poinnya berbunyi: "Hendaknya musik gereja berpangkal dari budaya setempat."
Karl Edmund Prier berpikir, "Kalau begitu lagu-lagu inkulturasi harus diciptakan agar liturgi gereja bertambah semarak." Untuk itu, menurut Prier, sebuah pusat musik liturgi harus segera dibentuk. Tepat setelah ditahbiskan, Romo Karl Edmund Prier mengusulkan hal itu kepada pimpinan Serikat Yesus. Ternyata, idenya diterima dengan baik.
Jogjakarta dipilihnya sebagai tempat untuk mengembangkan lembaga itu. Karl Edmund Prier berlasan, Jogja masih sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lainnya. Karena itu, Pusat Musik Liturgi (PML) didrikan di Jogja pada 1971. "Kota ini akan menjadi tempat untuk mengolah lagu-lagu inkulturasi dari daerah lain," harap Karl Edmund Prier.
Selain menciptakan musik inkulturasi, Karl Edmund Prier juga menciptakan pendidikan musik bagi umat Katolik di Jogjakarta. Ia memberi perhatian khusus terhadap pembinaan organis yang andal. Menurut dia, pendidikan musik harus diterapkan dengan serius dan berkesinambungan. Maka, dia membuat program pendidikan organis selama tiga tahun.
Mereka yang ingin mempelajari alat musik organ diberi pengetahuan tentang teori musik, teori dan praktik dirigen, liturgi, ilmu harmoni, membuat iringan, berlatih paduan suara, dan praktik organ dengan ujian. Juga ada pentas tiga kali setahun.
Ada satu lagu rohani yang selalu menjadi semboyan Karl Edmund Prier. Lagu itu berjudul NYANYIKAN LAGU BARU BAGI TUHAN. Kata demi kata yang menjadi syair kidung itu memberinya dorongan untuk terus berkarya,mencipta lagu, membuat komposisi musik.
"Menyanyikan lagu baru bagi Tuhan berarti menciptakan lagu baru. Lagu Indonesia yang inkulturatif sesuai dengan cita-cita Konsili Vatikan II," tuturnya.
Karl Edmund Prier sangat menghargai kerja tim. Hal itu dibuktikan saat mengadakan lokakarya komposisi musik gereja. Acara itu selalu menghasilkan lagu-lagu liturgi yang baru. Ia menghendaki setiap lagu yang diciptakan tidak ada nama penciptanya. Maka, tiap karya seni yang dihasilkan lewat acara itu hanya mencantumkan nama "hasil lokakarya komposisi musik gereja".
"Lagu-lagu itu adalah hasil kerja tim PML Jogjakarta. Bukan hasil karya perorangan," ungkapnya.
Karl Edmund Prier selalu memperjuangkan kelestarian lagu-lagu inkulturasi dalam gereja. Ketika pencipta-pencipta lagu rohani yang baru bermunculan, ia tidak merasa tersaingi, bahkan gembira. Namun, ia menyayangkan bila lagu-lagu baru dibuat asal-asalan, tidak liturgis, dan tidak sungguh-sungguh memperhatikan syair. Karya semacam itu hanya bertahan sebentar dan menjadi sampah.
Menurut Karl Edmund Prier, lagu gereja harus dibuat sungguh-sungguh sehingga dapat digunakan untuk membantu umat berdoa. Ia prihatin melihat perkembangan lagu-lagu baru.
"Kini, banyak pencipta lagu rohani yang terpengaruh dengan budaya lagu-lagu pop di televisi sehingga mereka membuat lagu gereja yang ngepop. Mereka merasa bahwa lagu-lagu tersebut sesuai dengan selera anak-anak muda," ujarnya.
Karl Edmund Prier berpendapat, pencipta lagu harus menyadari bahwa umat pergi ke gereja untuk mencari jawaban dari Tuhan atas segala permasalahan hidupnya. Kondisi itu sangat berbeda saat seseorang duduk di depan televisi dengan motivasi mencari hiburan. Maka, lagu gereja yang baik harus mempertimbangkan lirik dan nada yang dapat membantu umat berdoa.
Sejenak Karl Edmund Prier mengingat saat-saat ketika ia masih berada di Jerman. Waktu itu gereja-gereja berusaha menarik kaum muda mengikuti perayaan ekaristi. Mereka boleh menggunakan band dan lagu-lagu pop rohani yang sama sekali tidak liturgis. "Tapi lambat laun anak-anak muda itu tidak menemukan makna liturgi yang sesungguhnya dalam setiap musik yang mereka mainkan," kenangnya.
Karena itu, Karl Edmund Prier terus bersemangat dalam memperkenalkan pemahaman tentang lagu liturgi yang benar kepada masyarakat. Dia juga menginginkan paduan suara berkualitas untuk membawakan semua lagu yang diciptakannya bersama tim PML. Keinginan itu didengar oleh Paul Widyawan. Lahirlah Paduan Suara Vocalista Sonora di Jogjakarta.
Di usia 72 tahun, Karl Edmund Prier terus berkarya. Baginya, tiada hari tanpa musik.
Sumber: Majalah HIDUP, Jakarta
Makan Siang Dengan Tuhan
Ada suatu kisah mengenai seorang pemuda kecil yang ingin bertemu dengan Tuhan. Ia tahu bahwa itu memerlukan sebuah perjalanan jauh untuk pergi ke tempat dimana Tuhan tinggal, jadi ia menyiapkan segala bawaannya yakni makanan kecil Twinkies dan sebuah enam pak rootbeer, dan ia memulai perjalanannya.
Ketika ia pergi sejauh kira-kira tiga blok, ia bertemu dengan seorang wanita tua. Ia hanya duduk di taman memandang burung-burung merpati. Pemuda kecil itu duduk di sampingnya dan membuka tas perlengkapannya. Ia ingin untuk meminum root-beer¬nya dan ia memperhatikan bahwa wanita tua itu terlihat kelaparan jadi ia menawarkan wanita tua itu Twinkies-nya. Ia dengan senang hati menerimanya dan tersenyum kepadanya. Senyumnya begitu cantik hingga pemuda kecil itu ingin melihatnya lagi, jadi ia menawarkan wanita tua itu sekaleng root beer. Sekali lagi, ia tersenyum kepadanya. Pemuda kecil itu senang sekali! Mereka duduk di situ sepanjang sore hanya makan dan tersenyum, tetapi mereka tak mengucapkan sepatah kata pun.
Lalu gelap pun mulai menyelimuti, pemuda kecil tu menyadari betapa lelahnya ia dan ia harus bangkit untuk pergi tetapi sebelum ia melangkah lebih jauh lagi; ia berputar kembali, berlari kepada sang wanita tua tadi, dan memberikan ia sebuah pelukan. Wanita tua itu memberikan senyum terbaiknya. Ketika pemuda kecil itu membuka pintu rumahnya, tak lama kemudian ibunya terkejut melihat kegembiraan yang teraut di wajah putranya. Ia bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan pada hari ini hingga membuat kamu begitu gembira?" Ia menjawab, "Saya makan siang dengan Tuhan." Tetapi sebelum ibunya sudah merespon, ia menambahkan, "Ibu tahu? Ia memiliki senyum tercantik yang pernah saya lihat!"
Di tempat yang lain, sang wanita tua, yang juga tersuntik oleh kegembiraan, kembali ke rumahnya. Putranya terkejut oleh tampak kedamaian di wajah ibunya dan ia bertanya, "Ibu, apa yang Ibu lakukan hari ini hingga membuat Ibu begitu gembira?" Ibunya menjawab, "Saya memakan Twinkies di taman dengan Tuhan." Tetapi sebelum putranya merespon, ia menambahkan, "Kamu tahu, ia lebih muda dari yang saya perkirakan."
Terlalu sering kita meremehkan kekuatan dari sentuhan, sebuah senyuman, kata-kata yang manis, telinga yang mendengar, sebuah pujian yang tulus, atau perhatian yang kecil, yang semuanya memiliki potensi untuk mengubah kehidupan menjadi berbalik. Orang-orang datang ke dalam kehidupan kita untuk sebuah alasan, sebuah musim waktu, atau seluruh masa hidup kita. Rangkullah semuanya!
Renungan yang ini bagus banget yah.
Mungkin selama ini Tuhan ada didekat kita dalam bentuk orang - orang yang baik hati dan menyayangi kita.
Jesus love us.
Ketika ia pergi sejauh kira-kira tiga blok, ia bertemu dengan seorang wanita tua. Ia hanya duduk di taman memandang burung-burung merpati. Pemuda kecil itu duduk di sampingnya dan membuka tas perlengkapannya. Ia ingin untuk meminum root-beer¬nya dan ia memperhatikan bahwa wanita tua itu terlihat kelaparan jadi ia menawarkan wanita tua itu Twinkies-nya. Ia dengan senang hati menerimanya dan tersenyum kepadanya. Senyumnya begitu cantik hingga pemuda kecil itu ingin melihatnya lagi, jadi ia menawarkan wanita tua itu sekaleng root beer. Sekali lagi, ia tersenyum kepadanya. Pemuda kecil itu senang sekali! Mereka duduk di situ sepanjang sore hanya makan dan tersenyum, tetapi mereka tak mengucapkan sepatah kata pun.
Lalu gelap pun mulai menyelimuti, pemuda kecil tu menyadari betapa lelahnya ia dan ia harus bangkit untuk pergi tetapi sebelum ia melangkah lebih jauh lagi; ia berputar kembali, berlari kepada sang wanita tua tadi, dan memberikan ia sebuah pelukan. Wanita tua itu memberikan senyum terbaiknya. Ketika pemuda kecil itu membuka pintu rumahnya, tak lama kemudian ibunya terkejut melihat kegembiraan yang teraut di wajah putranya. Ia bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan pada hari ini hingga membuat kamu begitu gembira?" Ia menjawab, "Saya makan siang dengan Tuhan." Tetapi sebelum ibunya sudah merespon, ia menambahkan, "Ibu tahu? Ia memiliki senyum tercantik yang pernah saya lihat!"
Di tempat yang lain, sang wanita tua, yang juga tersuntik oleh kegembiraan, kembali ke rumahnya. Putranya terkejut oleh tampak kedamaian di wajah ibunya dan ia bertanya, "Ibu, apa yang Ibu lakukan hari ini hingga membuat Ibu begitu gembira?" Ibunya menjawab, "Saya memakan Twinkies di taman dengan Tuhan." Tetapi sebelum putranya merespon, ia menambahkan, "Kamu tahu, ia lebih muda dari yang saya perkirakan."
Terlalu sering kita meremehkan kekuatan dari sentuhan, sebuah senyuman, kata-kata yang manis, telinga yang mendengar, sebuah pujian yang tulus, atau perhatian yang kecil, yang semuanya memiliki potensi untuk mengubah kehidupan menjadi berbalik. Orang-orang datang ke dalam kehidupan kita untuk sebuah alasan, sebuah musim waktu, atau seluruh masa hidup kita. Rangkullah semuanya!
Renungan yang ini bagus banget yah.
Mungkin selama ini Tuhan ada didekat kita dalam bentuk orang - orang yang baik hati dan menyayangi kita.
Jesus love us.
Langganan:
Postingan (Atom)
