<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838</id><updated>2011-08-29T05:45:38.736-07:00</updated><title type='text'>liturgikita.blogspot.com</title><subtitle type='html'>Mari menciptakan Liturgi yang baik, benar, segar dan menghidupkan di kehidupan kita!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6136371974790745794</id><published>2010-12-01T17:40:00.000-08:00</published><updated>2010-12-01T17:41:21.278-08:00</updated><title type='text'>Asal-mula Masa Adven [P. William P. Sanders]</title><content type='html'>Masa Liturgi Adven menandai masa persiapan rohani umat beriman sebelum Natal. Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas Rasul (30 November). Masa Adven berlangsung selama empat hari Minggu dan empat minggu persiapan, meskipun minggu terakhir Adven pada umumnya terpotong dengan tibanya Hari Natal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Adven mengalami perkembangan dalam kehidupan rohani Gereja. Sejarah asal-mula Adven sulit ditentukan dengan tepat. Dalam bentuk awalnya, yang bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja; jadi persiapan Adven amat mirip dengan Prapaskah dengan penekanan pada doa dan puasa yang berlangsung selama tiga minggu dan kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Pada tahun 380, Konsili lokal Saragossa, Spanyol menetapkan tiga minggu masa puasa sebelum Epifani. Diilhami oleh peraturan Prapaskah, Konsili lokal Macon, Perancis, pada tahun 581 menetapkan bahwa mulai tanggal 11 November (pesta St. Martinus dari Tours) hingga Hari Natal, umat beriman berpuasa pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Lama-kelamaan, praktek serupa menyebar ke Inggris. Di Roma, masa persiapan Adven belum ada hingga abad keenam, dan dipandang sebagai masa persiapan menyambut Natal dengan ikatan pantang puasa yang lebih ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja secara bertahap mulai lebih membakukan perayaan Adven. Buku Doa Misa Gelasian, yang menurut tradisi diterbitkan oleh Paus St. Gelasius I (wafat thn 496), adalah yang pertama menerapkan Liturgi Adven selama lima Hari Minggu. Di kemudian hari, Paus St. Gregorius I (wafat thn 604) memperkaya liturgi ini dengan menyusun doa-doa, antifon, bacaan-bacaan dan tanggapan. Sekitar abad kesembilan, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan Gereja. Dan akhirnya, Paus St. Gregorius VII (wafat thn 1095) mengurangi jumlah hari Minggu dalam Masa Adven menjadi empat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sejarah Adven agak “kurang jelas”, makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus (Adven berasal dari bahasa Latin “adventus”, artinya “datang”). Katekismus Gereja Katolik menekankan makna ganda “kedatangan” ini: “Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (no. 524).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, di satu pihak, umat beriman merefleksikan kembali dan didorong untuk merayakan kedatangan Kristus yang pertama ke dalam dunia ini. Kita merenungkan kembali misteri inkarnasi yang agung ketika Kristus merendahkan diri, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam dimensi ruang dan waktu guna membebaskan kita dari dosa. Di lain pihak, kita ingat dalam Syahadat bahwa Kristus akan datang kembali untuk mengadili orang yang hidup dan mati dan kita harus siap untuk bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu cara yang baik dan saleh untuk membantu kita dalam masa persiapan Adven adalah dengan memasang Lingkaran Adven. Lingkaran Adven merupakan suatu lingkaran, tanpa awal dan akhir: jadi kita diajak untuk merenungkan bagaimana kehidupan kita, di sini dan sekarang ini, ikut ambil bagian dalam rencana keselamatan Allah yang kekal dan bagaimana kita berharap dapat dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan kekal di kerajaan surga. Lingkaran Adven terbuat dari tumbuh-tumbuhan segar, sebab Kristus datang guna memberi kita hidup baru melalui sengsara, wafat dan kebangkitan- Nya. Tiga batang lilin berwarna ungu melambangkan tobat, persiapan dan kurban; sebatang lilin berwarna merah muda melambangkan hal yang sama, tetapi dengan menekankan Minggu Adven Ketiga, Minggu Gaudate, saat kita bersukacita karena persiapan kita sekarang sudah mendekati akhir. Terang itu sendiri melambangkan Kristus, yang datang ke dalam dunia untuk menghalau kuasa gelap kejahatan dan menunjukkan kepada kita jalan kebenaran. Gerak maju penyalaan lilin setiap hari menunjukkan semakin bertambahnya kesiapan kita untuk berjumpa dengan Kristus. Setiap keluarga sebaiknya memasang satu Lingkaran Adven, menyalakannya saat santap malam bersama dan memanjatkan doa-doa khusus. Kebiasaan ini akan membantu setiap keluarga untuk memfokuskan diri pada makna Natal yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, selama Masa Adven kita berjuang untuk menggenapi apa yang kita daraskan dalam doa pembukaan Misa Minggu Adven Pertama: “Bapa di surga. tambahkanlah kerinduan kami akan Kristus, Juruselamat kami, dan berilah kami kekuatan untuk bertumbuh dalam kasih, agar fajar kedatangan-Nya membuat kami bersukacita atas kehadiran-Nya dan menyambut terang kebenaran-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Fr. Saunders is pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : “Straight Answers: The Celebration of Advent” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald. com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell. net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6136371974790745794?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6136371974790745794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/12/asal-mula-masa-adven-p-william-p.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6136371974790745794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6136371974790745794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/12/asal-mula-masa-adven-p-william-p.html' title='Asal-mula Masa Adven [P. William P. Sanders]'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-4255357103670593094</id><published>2010-07-31T18:09:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T18:12:02.425-07:00</updated><title type='text'>SAKRAL DAN PROFAN DALAM KAITAN DENGAN RITUS DAN TUBUH: SUATU TRELAAH FILSAFAT  MELALUI AGAMA DAN KONSEP DIRI  oleh Anton Subianto OSC</title><content type='html'>Pengantar: Konsep Diri Mempengaruhi Pemahaman Sakral dan Profan&lt;br /&gt;Dalam pemikiran filsafati Plato, manusia itu terdiri dari tubuh (soma) dan jiwa (psyche). Jiwa bersifat kekal sedangkan tubuh bersifat sementara. Jiwa dianggap sebagai realitas sejati, sedangkan tubuh dipandang sebagai bayangan jiwa, bahkan penjara jiwa. Oleh karenanya, kematian merupakan pembebasan jiwa dari penjara badani. Dikotomi struktur manusia inilah yang menjadi cikal bakal dari dualisme tubuh dan jiwa mempengaruhi teologi yang dikembangkan Agustinus (abad IV) dan filsafat modern yang dideklarasikan oleh Descartes (abad XVI). Pandangan teologis Agustinus dan filsafat Descartes ini mempengaruhi pandangan hidup manusia secara keseluruhan, termasuk konsep tubuh dan jiwa serta dunia profan dan sakral dalam liturgi.&lt;br /&gt;Di samping konsep Plato, terdapat konsep trikotomi struktur manusia yang terdiri dari tiga bagian yaitu tubuh (soma), jiwa (psyche), dan roh (pneuma). Pandangan ini dapat ditemui dalam teologi Paulus dengan konsep manusia yang lebih utuh. “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Tes 5: 23). Paulus menjelaskan manusia yang sempurna dan tak bercacat itu terdiri dari soma, psyche, pneuma.&lt;br /&gt;Roh adalah unsur ilahi yang dihembuskan oleh Allah hingga manusia hidup (Kej 2:7) atau memiliki hidup baru dalam Roh (Yoh 20:22). Roh itu  kekal, bebas, dan hakikatnya mempersatukan serta mengendalikan tubuh dan jiwa. Dosalah yang menyebabkan roh ini dikendalikan oleh tubuh dan jiwa. Jiwa adalah unsur hidup manusia yang diciptakan bersamaan dengan tubuh. Jiwa dianggap menjelma dalam organ otak untuk menjalankan fungsinya. Jiwa dikenal dengan cipta, rasa, dan karsa yang terungkap dalam pikiran, perasaan, dan kemauan. Tubuh adalah bagian luar manusia yang berupa organ-organ (panca indra) kelihatan. Tubuh mempengaruhi berfungsinya jiwa dan roh sekalipun tak menentukan.&lt;br /&gt;Hanya manusialah yang diciptakan Allah dengan struktur roh, jiwa, dan tubuh. Akan tetapi, dalam filsafat modern tiga struktur manusia ini direduksi menjadi dua, yaitu jiwa (mind) yang dianggap bagian dalam (batin) dan tubuh (body) yang dipandang bagian luar manusia. Inilah juga menjadi akar adanya dikotomi dunia sakral dan profan. Konsep sakral dan profan ini tidak bisa dipisahkan dari konsep diri yang dikaitkan dengan bagaimana manusia mamahami dan memperlakukan tubuh, jiwa, dan rohnya. Plato mengembangkan konsep diri “self mastery via reason, Agustinus “God within inward self”, Descartes “Disengaged Reason”, Lock “Punctual Self”, dan Montaigne “Ever Changing Self.”  Konsep diri ini sangat mempengaruhi pengertian profan dan sakral pada zaman tertentu. &lt;br /&gt;Konsep Diri dari Plato menuju Montaigne  &lt;br /&gt;Self Mastery via Reason&lt;br /&gt;Plato menekankan kekuatan logos (reason) sebagai basis dari eksistensi diri yang baik. Oleh karena itu, tatanan moral (jiwa) hidup seseorang dievaluasi baik kalau ternyata ia itu hidup atas dasar logos yang mengarahkan diri pada dunia ide di mana ide tertingginya adalah Yang Baik. Plato mempertentangkan hidup semacam ini dengan hidup yang dikuasai oleh keinginan, nafsu, dan naluri. Hidup berdasarkan rasio (reason) akan menghasilkan kosmos (keteraturan), sedangkan hidup berdasarkan keinginan (desire) akan menciptakan chaos (kekacauan). Jiwa yang baik itu akan menikmati keteraturan (Kosmos), keserasian (xumphonia), dan keharmonisan (harmonia) sedangkan jiwa yang dikuasai oleh keinginan akan berada dalam konflik tak berkesudahan. Oleh karenanya Plato menganjurkan para pengikutnya untuk menguasai keinginan dan mengatasi kesenangan semata melalui rasio.  Hal ini ditegaskan oleh Charles Taylor dengan mengatakan “What we gain through thought or reason is self-mastery. The good man is a ‘master of himself’” dan “to be rational is truly to be master of oneself.”  Orang yang menguasai diri dengan logos akan menghasilkan “unity with oneself, calm, and collected self-possesion.” &lt;br /&gt;Plato menekankan kekuatan rasio untuk mengontrol diri berhadapan dengan situasi di luar diri karena locus dari the Good itu terletak di luar diri manusia. The Good itu terdapat dalam Dunia Ide. Oleh karenanya, manusia yang baik itu harus selalu hidup dengan menyesuaikan diri dengan konsep the Good tersebut di bawah kendali rasio. Kondrat rasio itu menyesuaikan dirinya pada rasio semesta (ontic logos) yang memang sudah ada sejak semula. Penyesuaian diri ini yang menyebabkan seseorang menjadi baik karena seluruh tindakannya mengalir berdasarkan usaha untuk menjadikan diri baik seperti yang dicanakan oleh the Good. Yang baik dipahami oleh Plato sebagai entitas berdimensi ilahi. Kebijaksanaan lahir dari kesatuan manusia dengan logos ilahi ini yang adalah the Good.  Diri dan the Good itu terletak di luar diri, ada jarak, dan terpisah jauh.  Maka, eksistensi manusia dalam mewujudkan kreativitas autopoetik dinyatakan dalam kerangka menyatukan gelombang hidup dengan gelombang the Good. Di sini imaginasi berperan dalam upaya menjadikan rasio sebagai tuan atas nafsu dan naluri. Segala hasil karya (artistik, teknik, dan praktis) dan bentuk hidup (moral dan spiritual) merupakan kreasi diri untuk mencapai kesempurnaan dalam bentuk persatuan diri dengan logos. Imajinasi mencari cara-cara kreatif untuk menghidupi diri sesuai dengan cita-cita natural eksistensi sehingga manusia hidup sesuai dengan esensinya. Dengan begitu, ia menjadi pribadi yang baik sebagai bayangan dari Yang Baik (pancaran Yang Satu ala Neo-Platonisme).&lt;br /&gt;God within Inward Self &lt;br /&gt;Kalau Plato menyakini konsep the Good yang menjadi acuan diri bereksistensi sebagaimana esensinya itu sebagai sesuatu yang ada jauh di luar diri manusia, Agustinus melihat konsep the Good itu dalam diri Allah yang tinggal dalam hati manusia. Oleh karenanya, Agustinus mengajak kita untuk bertemu diri sendiri: “Noli foras ire, in teipsum redi; in interiore homine habitat veritas” yang berarti “Janganlah pergi ke luar, kembalilah ke dalam dirimu sendiri. Di dalam diri batiahlah Kebenaran itu berada.”  Itulah yang dinamakan inwardness (ke-dalam-an) oleh Taylor. Dengan konsep ini, Agustinus mengajak para pengikut untuk mengadakan apa yang disebut dengan radical reflexivity, di mana diri bertemu dengan diri sendiri. Diri menjadi awal dan titik pusat refleksi guna bertemu dengan Allah yang tinggal dalam ke-dalam-an.&lt;br /&gt;Di sini kedalaman menjadi jalan masuk menuju keintiman diri di mana kita dapat mengetahui diri kita sendiri, sehingga kita mampu menghidupi kehidupan yang sesungguhnya sesuai dengan kodratnya. Hal ini juga merupakan panggilan batiniah untuk memperhatikan diri sendiri. Dengan ini kita dapat memiliki pengetahuan yang lebih benar tentang diri sendiri di kedalaman dan hati kita dengan semua pengalaman hidup positif dan negatif. Panggilan untuk masuk ke dalam diri sendiri adalah undangan mendesak dalam kreativitas autopoietik yang berkualitas. &lt;br /&gt;Banyak orang sangat perduli terhadap diri sendiri. Apa yang sedang dilakukan nampaknya menjadi perhatian untuk diri sendiri tetapi sesungguhnya tidak demikian. Mereka perduli terhadap tugas dan tanggung-jawab, pekerjaan dan kepuasan serta program dan rencananya hidupnya sedemikian rupa. Semuanya ini baik, tetapi mereka tidak secara langsung relevan dengan perhatian terhadap diri sendiri; terhadap intimitas radikal dan kedalaman. &lt;br /&gt;Mengapa kita harus masuk ke kedalaman dengan mendengarkan suara dari dalam? Hal ini bukan karena kebenaran ditemukan di dalam diri kita, tetapi lebih karena ditemukan pada Allah yang tinggal di dalam kita. Allah dijumpai di dalam intimitas diri. Dengan masuk ke kedalaman diri, kita ditarik lebih dalam. Ini adalah satu langkah menuju Allah sebagai the Good. Bagi Agustinus, Allah adalah subyek yang berada di luar sana, tetapi Ia juga adalah subyek di dalam diri (in Deum) yang dijumpai dalam saya. Karena itu Agustinus berkata: “Deus intimior intimo mio”  tetapi juga “superior summo meo”.  Allah menjadi sumber hidup dari mana keyakinan moral muncul, didasarkan atas apa preferensi kultural berasal, dari mana sikap harian tumbuh, dan karena apa kematangan rohani mencapai keutuhan. Allah menjadi standar kebenaran. Dialah kebenaran yang memberdayakan hidup. Oleh karenanya kita tidak mengarahkan hidup menuju Allah, tetapi lebih digerakkan oleh Allah (cinta) yang tinggal di dalam diri kita. &lt;br /&gt;Disengaged Reason&lt;br /&gt;Kalau Agustinus telah berusaha menyatukan konsep the Good pada diri manusia dengan cara proses internalisasi, yaitu menarik logos Plato yang berada jauh di luar diri masuk ke dalam diri, Descartes lebih ekstrim lagi bukan hanya menempatkan konsep the Good pada diri tetapi juga menjadikan konsep the Good itu sebagai bagian dari diri sendiri yang tampil dalam konsep “cogito ergo sum.” Oleh karenanya, Descartes berusaha menjadikan cogito (je pense) itu sebagai dasar ontologis kebenaran dengan kriteria clara et distincta. Cogito ini haruslah murni, dilepaskan dari unsur-unsur eksternal. Dari situlah muncul gagasan disengaged reason, sebagai rasio murni. &lt;br /&gt;Cogito adalah bagian dari diri bahkan menjadi dasar dari eksistensi manusia. Kebenaran epitemologis ditentukan oleh cogito sebagai dasar ontologisnya. Oleh karenanya kebenaran itu tidak ditemukan di luar tetapi di dalam diri manusia, yaitu dalam wilayah rational yang disebut res cogitans bukan dalam wilayah badani yang disebut res extensa yang justru sering mengaburkan kebenaran epistemologis. Kalau dasar kebenaran itu adalah rasio, hal-hal yang rasionallah yang patut dihargai. Diri yang rasionallah yang dianggap sebagai diri yang benar. Dengan begitu, konsep diri dipikirkan dan diarahkan dalam tatanan rasional. &lt;br /&gt;Kreativitas autopoetik pun berada dalam ranah rasional. Imajinasi yang berkembang di sini pun adalah imajinasi rasional. Dari situlah berbagai ilmu dan seni modern bermuncullan yang sebagian besar (kalau bukan seluruhnya) menggunakan basis rasional. Standar dan prosedur rasional ini digunakan oleh ilmu-ilmu alam (ilmu pasti, natural sciences). Sejak saat itulah ilmu-ilmu sosial (social/human sciences) mau menggunakan perspektif rasional ilmu alam. Pandangan reduktif dan dualisme hidup manusia pun tak terhindari sebagai konsekuensi logis dari konsep the Good yang diletakan semata pada cogito sebagai disengaged reason.&lt;br /&gt;Bukti adanya Allah pun dimulai dari dalam diri rasional. Allah mau dibuktikan secara rasional. Keberadaan Allah dipahami oleh Descartes sebagai postulat. Allah adalah realitas yang ada begitu saja, tak perlu dipertanyakan. Konsep Allah itu termasuk idea innata, yaitu ada secara manusia bereksistensi. Allah menerapkan konsepnya dalam rasio manusia yang tanpanya cogito pun diragukan. Di sini Descartes menjadikan Allah sebagai backing kebenaran. Itulah veracity of God  yang ditolak oleh Kant dengan cara sekularisasi Allah dalam epistemologinya guna mencapai pure reason. &lt;br /&gt;Kalau konsep the Good adanya pada diri, manusia bisa menjadi benar karena diri sendiri, tak butuh orang lain. Di situlah akar individualisme modern. Descartes menjadi bapak dari individualisme semacam ini. Kreativitas penciptaan diri pun menjadi bernuasa individualistik. Seluruh hati, budi, dan energi dicurahkan guna pencapaian kedirian secara individualistik. Di sinilah terjadi dialektika dimensi rasionalistik dengan dimensi individulistik yang menjadi penyakit modern . &lt;br /&gt;Punctual Self&lt;br /&gt;Kalau Descartes telah mengandalkan cogito sebagai akar dari the Good yang ada dalam diri manusia, Locke menariknya lebih radikal lagi ke dalam the self itu sendiri. Bagi Lokce, konsep the Good itu tidak terletak di luar bagaikan Platonic ontic logos, atau tidak terletak di dalam diri bagaikan God within inward self, atau tidak menjadi bagian diri bagaikan cogito sebagai disengaged reason, melainkan diri itulah bertanggung-jawab penuh terhadap konsep the Good. Taylor menyebut diri tersebut sebagai punctual self. Diri yang pungtual bukan semata diri yang dilepaskan dari unsur-unsur eksternal seperti diengaged reason, tetapi juga diri yang berdiri sendiri sebagai remaking self. Diri itulah yang menjadi subjek bertanggung-jawab dalam menciptakan terus-menerus dirinya sendiri sebagai suatu entitas mandiri. Inilah sebetulnya yang disebut dengan konsep filosofis dari autopoiesis. &lt;br /&gt;Sebenarnya Locke tidak berbeda dengan Descartes dalam menentukan basis kebenarannya, yaitu kekuatan rasio. Justru Locke sendiri menegaskan bahwa lewat keunggulan rasio inilah kebenaran dicapai. Ketika ia membahas tema “Men must think and know for themselves”, Locke menyatakan dengan tegas tujuannya adalah kebenaran melalui innate principle: “Truth has been my only aim.”  Namun Locke menambahkan unsur personal commitment dalam upaya untuk mencapai kebenaran. Subjek adalah diri yang membuat diri secara bertanggungjawab penuh. Hal ini tentu dipengaruhi oleh konsep pengetahuan Locke yang bertumpu pada konsep tabula rasa, yaitu keadaan kosong bagaikan kertas putih tanpa tulisan yang siap menerima tulisan atau coretan apapun baik atau buruk. Oleh karena itu, Locke menentang segala teori epistemologi teleologis yang mengarahkan budi manusia pada suatu kebenaran tertentu atau menuntut rasio menyesuaikan diri dengan tatanan eksternal tertentu. &lt;br /&gt;Diri pungtual yang berperan menjadi subjek yang bertanggung-jawab ini mengidentifikasikan diri dengan kekuatan untuk objektifikasi dan reifikasi termasuk mengambil jarak terhadap unsur-unsur lain yang secara potensial berubah-rubah. Taylor melihat bahwa diri pungtual Locke ini bersadar penuh pada kesadaran (diri), bukan pada unsur substansial apapun, material ataupun immaterial apapun.  Di sinilah ia berbeda dengan Descartes yang menyadarkan dasar kebenarannya pada res cogitans. Kesadaran diri pungtual ini secara absolut tak tergantung oleh apapun dan menjadi basis untuk kontrol diri dan penciptaan diri. Kreativitas autopoetik dalam kaca-mata diri pungtual tidak memiliki tantanan atau pedoman apapun kecuali diri sendiri. Diri pungtual ini menyuburkan individualisme dan atomisme. &lt;br /&gt;Ever Changing Self&lt;br /&gt;Konsep diri ternyata mengalami proses internalisasi dari Plato (external ontic logos), Agustinus (God within inward self), Descartes (internal cogito), hingga Locke (self-consciousness). Inilah perjalanan pencarian dan penciptaan identitas diri modern untuk merumuskan martabat manusia yang sesungguhnya. Di situ terjadi proses self-exploration dan radical reflexivity. &lt;br /&gt;Michele de Montaigne melihat bahwa upaya pencarian dan penciptaan diri tersebut melupakan kodrat manusia itu sendiri. Tak ada komunikasi dengan being. Bagi Taylor, Montaigne dengan jeli melihat adanya satu kodrat universal manusia, yaitu perpetual change. Perubahan terus-menerus ini bukan hanya terjadi dalam diri sendiri semata, tetapi juga ditemukan di mana-mana. Dalam kreasi diri, Montaigne mengajak kita untuk mengikuti apa yang Taylor rumuskan sebagai the contour of the changing reality of one being, himself.   &lt;br /&gt;Setiap manusia mempunyai kondisi “berubah”. Setiap manusia harus memiliki pengetahuan diri agar dapat pada penerimaan diri. Hal ini mungkin terjadi kalau manusia menyadari ada batasnya, bukan semata mencari diri terus-menerus. Manusia perlu menyadari dirinya sendiri. Pengetahuan diri inilah yang membuat manusia bisa mengetahui batas hidup. Montaigne melihat batas hidup itu ternyata adalah diri sendiri. Oleh karena itu kreativitas autopoetik di mata Montaigne adalah upaya kreatif untuk mengarahkan hidup sesuai dengan kondisi alamiah manusia. Taylor menulisnya demikian: “To live right is to live within limits, to eschew the presumption of superhuman spiritual aspirations. But limits which are relevant for me are mine; ….”  Di sini Montaigne juga menolak berbagai standar tinggi non-manusiawi yang dipegang kebanyakan tradisi moral di mana kesempurnaan biasanya menjadi alasan kepuasan diri. &lt;br /&gt;Dengan menyadari kodrat universal manusia, Montaigne sebenarnya ingin mengajak kita untuk mencari kodrat diri sendiri. Kreativitas autopoetik diarahkan untuk menerima siapakah sesungguhnya kita ini. Kreativitas tersebut mencari siapakah aku secara esensial dalam bereksistensi. Di sini tampak bahwa Montainge juga mengenduskan nafas individualisme modern, yang menurut Taylor adalah self-discovery yang berbeda dari Descartes entah dari segi metode ataupun tujuan. “Its aims is to identify the individual in his or her unrepeatable difference, where Cartesianism gives us a science of the subject in its general essence; and it proceeds by a critique of first-person self-interpretation, rahter than by the proofs of impersonal reasoning.”  Taylor menyimpulkan bahwa Descartes adalah seorang pendiri individualisme modern, sementara Montaigne adalah seorang pencetus untuk pencarian originalitas setiap orang. Kelak Johann Herder menegaskan pendapat Montaigne ini dengan berkata bahwa setiap orang mempunyai cara originalnya sendiri untuk berada. Pencarian diri original (otentisitas) inilah yang sepantasnya mengarahkan kreativitas autopoetik seseorang untuk menemukan diri. Orang semacam itu, kata Rousseau, akan merasa at home dengan dirinya sendiri di mana dan kapanpun ia berada. &lt;br /&gt;Agama dalam Dunia Antara Sakral dan Profan &lt;br /&gt;Dalam kehidupan manusia purba, sebenarnya tidak terdapat konsep dikotomi antara dunia sakral dan profan karena konsep utuh hidup manusia (diri).  Oleh karena itu aktivitas fisik sosial juga merupakan aktivitas psikis spiritual. Penemuan-penemuan fosil manusia, bahkan dari Zaman Batu Awal, menunjukkan adanya ekspresi religius yang ditampilkan dengan berbagai upacara ritual. Ini menjadi bukti adanya agama yang menjadi bagian intergral dalam masyarakat primitif awal.  Esensi manusia pada waktu ini ditampilkan dalam eksistensi agama sebagai kegiatan spiritual dan sosial manusia yang muncul dalam bentuk yang khas,  bervariasi baik secara historis maupun geografis karena agama merupakan elemen dasar dalam hidup baik komunal maupun individual.  Pada awalnya, agama menjadi bagian utuh dari hidup manusia purba yang tak terpisahkan dari aspek-aspek hidup lainnya. Di sana agama menjadi mode of being dan mode of living. &lt;br /&gt;Dalam sejarah, ketika peradaban mulai terbentuk atau disadari ada bentuknya, pada saat itulah agama menjadi salah satu produk kebudayaan yang dibedakan dari hasil-hasil kebudayaan yang lain, seperti bahasa, ilmu pengetahuan, mitos, dan seni.  Maka, di sini mulai terjadi perubahan dari mode of being menjadi mode of having, dari mode of living menjadi mode of doing. Pergeseran ini membawa konsekuensi besar karena agama kini bukan lagi merupakan unsur intrinsik melainkan bagian ekstrinsik hidup. Agama bukan lagi suatu aktivitas internal melainkan telah menjadi aktivitas eksternal. Tegasnya, agama telah menjadi suatu produk masyarakat tertentu. Agama telah menjadi suatu komoditi.  &lt;br /&gt;Dalam khasanah filsafat yang dianggap sebagai mater scientiarum, lahirnya filsafat terjadi karena perubahan paradigma dari mitos menuju logos, dari dunia mitis, ketika tiada dikotoni antara dunia profan dan sakral menuju dunia logis,  yang memisahkan dunia profan rasional dengan dunia sekular spiritual.  Perubahan ini mempengaruhi pemahanan agama yang semula sangat didominasi oleh pemikiran mitis. Perubahanan ini menyebabkan munculnya klasifikasi agama: ada agama tradisional yang berpijak pada pemikiran kultural, lokal, dan emosional dan ada agama konvensional (“paska-tradisional”) yang berdasar pada konsep rasional, universal, dan objektif. Agama tradisional dikawal oleh berbagai mitos dan legenda, sedangkan agama konvensional dijaga oleh sistem keyakinan dan kepercayaan teologis yang biasanya ketat. &lt;br /&gt;Ketika menjadi suatu sistem, agama mengekspresikan diri dalam bentuk visi dan misi.  Visi dan misi ini dibuat baik untuk menjaga kontinuitas dan kualitas agama maupun untuk menambah produktivitas dan kuantitas pengikutnya. Maka, untuk mengamankan visi dan misi, agama membutuhkan seperangkat fungsi yang terorganisir. Hal ini memungkinkan agama berkembang dari suatu organisme hidup yang terdiri dari pribadi-pribadi kreatif dan dinamis yang menyatu dengan (atau menjadi bagian dari) alam semesta menjadi suatu organisasi ketat yang cenderung bersifat reaktif dan statis guna mengontrol alam semesta. Maka, yang dipentingkan pada saat itu adalah struktur fungsional yang terbagi menjadi hierarki dan kaum awam dengan uraian tugasnya masing-masing. Belum lagi, ada pembagian struktural dalam hierarki. Agama telah menjadi suatu lembaga institusional.  Perubahan dan perkembangan seperti ini menyebabkan makin kuatnya dikotomi dunia profan dan sakral.&lt;br /&gt;Bagi Emile Durkheim, ada begitu banyak definisi tentang agama. Meski demikian, ada karakter dasar yang mutlak dalam agama, yaitu the characteristic of the supernatural dan the idea of divinity.   Kalau kedua karakter dasar ini diterima sebagai unsur yang mampu memenuhi kerinduan naluri religiusitas manusia, agama harus kembali menitik-beratkan unsur adikodrati serta pribadi dan dunia ilahi dalam aktivitasnya. Kedua unsur tersebut melampuai kemampuan formulasi konseptual. Konsep apapun tentang yang adikodrati dan yang ilahi akan merupakan suatu reduksi atas realitas ilahi dalam dunia insani.  Formulasi konseptual tetap dibutuhkan guna komunikasi yang tampil dalam bentuk visi dan misi. Akan tetapi, konsep jangan menjadikan miskin kekayaan pengalaman langsung dengan yang ilahi dan adikodrati. &lt;br /&gt;Setiap agama kiranya perlu mengajak para pemeluknya untuk tidak terjebak pada tantanan konseptual tentang Yang Ilahi, melainkan menfasilitasi mereka untuk mengalami Yang Ilahi secara pribadi menurut norma dan keyakinan yang dipercayai diterima dalam relevasi. Agama harus menempatkan diri sebagai field of experience bukan semata sebagai field of knowledge. Apa yang dialami mesti diketahui dalam kesadaran, walaupun sering tak terumuskan dalam pengetahuan teoretis. Apa yang dialami tidak mesti mutlak berasal dari pengetahuan yang diperoleh melalui pencerapan indra karena ada pengetahuan tanpa referensi, tanpa mediasi indrawi (George Berkeley), melainkan dengan revelasi ilahi dalam dunia insani yang lebih sering dialami secara pribadi. Tantangan agama hic et nunc adalah bagaimana menjadikan dirinya sebagai tempat di mana orang-orang dapat masuk ke dalam dunia ilahi dan berjumpa dengan pribadi ilahi. Di sana orang akan mengalami bukan kepuasan psikologis akibat ketidakpuasan patologis seperti yang dicurigai oleh Anton Vergote,  melainkan keheningan dan ketenangan mistik. Pada saat itu orang bisa mengalami Allah secara pribadi yang mungkin berbeda, tapi tidak bertentangan, dengan formulasi dogmatis. Pengalaman religius semacam ini dirumuskan oleh Rudolf Otto sebagai pengalaman akan Yang Kudus yang tak terumuskan oleh kata-kata dan tak terungkap lengkap dalam simbol sekalipun. Di sana orang masuk dalam mysterium tramendum et fascinans.  Perjumpaan dengan Yang Kudus memungkinkan seseorang mengalami kekecilan dan kekerdilan, bahkan rasa takut religius di hadapan Pribadi yang Maha Kuasa. Pada saat itu orang mengalami the sublime (Emanuel Kant). Pengalaman ini mengantar manusia pada sikap rendah hati karena menyadari diri tak ada artinya di hadapan Yang Kudus dan pada sikap takwa karena menyadari dirinya nothing di hadapan Yang Kudus yang mungkin dialami sebagai Sang khalik. Pertemuan dengan Yang Kudus memungkinkan seseorang mengalami keindahan dan ketenangan, bahkan rasa damai religius di hadapan Pribadi yang Maha Rahim. Pada saat itu orang juga mengalami the beauty (Emanuel Kant). Pengalaman ini membawa manusia manusia pada sikap syukur karena menyadari kebaikan dan kemurahan Yang Kudus dan mengarahkan pada sukacita karena menyadari diri sebagai pribadi yang beruntung bisa bersua dengan Pribadi yang sangat dirindukan. Berbagai pengalaman ini memungkinkan pemeluk agama memiliki ruang sakra, di mana ia bersanding dengan Yang Kudus dalam keheningan.&lt;br /&gt;Saat ini agama terpanggil untuk mengumandangkan kembali pengalaman akan pribadi ilahi. Justru dalam dunia sekular sekarang ini agama ditantang untuk memberi makna yang dalam pada dunia. Agama harus mampu membawa orang pada courage to be, keberanian untuk bereksistensi karena masuk ke kedalaman hidup, di mana ia mengalami acceptance dan forgiveness.  Kedalaman hidup semacam ini memungkinkan seseorang mampu menangkap jejak-jejak ilahi dalam dunia insani sekalipun dalam kosmos sekular. &lt;br /&gt;Peter Berger melihat jejak-jejak ilahi justru pada saat perubahan paradigma dari mitos ke logos terjadi. Thales dari Miletos, filsuf pertama Yunani, menyerukan bahwa segala hal itu penuh dengan alah-alah.  Plotinos menunjukkan adanya unsur-unsur transenden yang berlebihan yang menjurus bahkan telah sampai pada panteisme yang kemudian ditegaskan oleh Spinoza dalam konsep Deus cive Natura.  Dalam kristianitas, Allah muncul dalam diri para utusanNya yang disebut angeloi Theou.  Angeloi Theou ini mampu menangkap transendensi dan eksistensi Ilahi dalam dunia insani. Rupanya dunia sekular mengikis kehadiran angeloi Theou.  Bagi Berger, penemuan kembali hal-hal yang supernatural dan transendental merupakan kemungkinan bagi teologi saat ini. Pada akhirnya bukunya, A Romour of Angels, Berger menekankan perlunya orang mendekati agama dengan minat-minat terhadap kebenaran yang mungkin daripada terhadap aspek-aspek manifestasi religius tertentu.  &lt;br /&gt;Dengan berpangkal pada kebenaran karena mampu mencermati jejak-jejak adikodrati dan pribadi ilahi melalui pengalaman, agama perlu melakukan reafirmasi sebagai bagian upaya reposisi. Cara reafirmasi yang paling mungkin bagi Berger adalah cara induktif.  Cara induktif bermaksud membawa pengalaman-pengalaman dalam dunia sekular ke dalam refleksi alam tradisi religius. Dengan kata lain, pengalaman keseharian dicari akar dan maknanya dalam tradisi dan esensi agama. Setelah itu, pengalaman-pengalaman yang sudah diberi isi diterapkan kembali dalam dunia sekular, diafirmasikan secara baru. Di sini agama melakukan proses sekularisasi. Sekularisasi adalah proses menempatkan unsur-unsur yang berbeda bahkan kadang dianggap bertentangan, yaitu urusan sakral dan profan, urusan adikodrati dan kodrati, urusan agama dan dunia pada porsi dan posisinya masing-masing dalam komposisi yang seimbang menurut urgensinya sendiri-sendirinya. Kedua unsur tersebut tidak dipertentangkan sebagai hal yang berlawanan, melainkan sebagai wilayah yang mempunyai otoritas masing-masing. Keduanya tetap berhubungan, tetapi tidak boleh dicampur-adukan. Proses sekularisasi membangkitkan keterpurukan agama yang mungkin telah dijadikan komoditas ekonomis dan politis serta membebaskan pemeluknya dari kemuakan psikologis dan tendensi patologis. Agama seharusnya menjadi tempat pengalaman perjumpaan dengan Allah yang memberi inspirasi dan aspirasi untuk mewartakan kebenaran dalam dunia sekular. Maka, agama seharusnya memberi isi, visi, dan koreksi pada urusan dunia sehingga tatanan sosial, politis, dan ekonomis memiliki misi yang sesuai dengan agama, yaitu kebenaran. Dengan kata lain, urusan “pasar” harus mengalir dari “altar” dan persembahan pada “altar” merupakan hasil pergulatan di tengah “pasar”. Dengan begitu realisi agama dengan dunia adalah relasi konfirmasi  bukan manipulasi. Pada saat itu agama menjadi fasilitas dan aktivitas bagi realisasi mode of being yang bersumber dari religious experience dan bermuara pada hidup nyata sebagai mode of living.  &lt;br /&gt;Ritus yang merupakan aktivitas spiritual yang utama dalam agama juga mengalami proses tegangan antara dunia profan dan sakral. Apalagi upacara ritual keagamaan terpusat pada kegiatan pencurahan darah melalui kekerasan terhadap korban demi yang ilahi. Upacara spiritual-sakral dalam relasi dengan yang ilahi dilaksanakan melalui kegiatan badani-profan dengan cara-cara insani. Tegangan antara aspek profan dan sakral dalam dunia perlu didamaikan lewat reposisi agama sendiri sebagai mode of being  dan mode of living dalam situasi dunia konkret saat ini. Ritus seharusnya mampu menghantar pemeluknya pada unio mystica dengan yang Ilahi dengan tetap menghargai dan mensyukuri yang insani. Yang spiritual hanya mungkin dilaksanakan melalui aktivitas badani. &lt;br /&gt;Pentingnya Tubuh dalam Liturgi Kristen Abad Pertengahan &lt;br /&gt;Dalam trandisi dan dan teologi ritus sejak kristianitas awal, tubuh mendapat peranan penting dalam upacara ritual keagamaan. Bahkan gereja abad pertengahan berusaha menginkorporasikan tubuh spiritual dalam ekspresi ritual dengan menekankan pentingnya pengalaman tubuh dan pengalaman kolektif akan kehadiran yang kudus. Di sini praktek dan makna liturgi harus ditemukan dalam tubuh.   &lt;br /&gt;St. Ambrosius (abad V) memahami pembaptisan sebagai suatu transformasi tubuh menuju keadaan tak berdosa dalam tubuh Kristus yang murni. Ia menegaskan di Basilika Milan bahwa transformasi tersebut akan terjadi kalau tubuh yang dibaptis dioles air suci dari kolam suci di depan Basilika. Di sini terjadi transformasi baik somatis maupun ontologis. Bahkan sebelum pembatisan, seorang calon baptis diurapi minyak sekujur tubuhnya sebagai atlet Kristus supaya mampu melakukan tindakan fisik yang keras seperti melakukan pantang dan puasa. Demikianpun, St. Sirilus menegaskan bahwa pengurapan beberapa bagian tubuh merupakan bagian penting dalam pembaptisan, seperti pengurapan telinga supaya bisa mendengar misteri ilahi, pengurapan hidung supaya bisa mencium aroma Kristus, dan pengurapan dada untuk melindungi diri dari yang jahat.  Di sini upacara ritual tubuh menjadi jalan untuk terjadinya pembentukan pribadi (diri) seorang kristen baru. &lt;br /&gt;Pentingnya peranan tubuh sensual dalam pengalaman spiritual juga ditegaskan oleh St. Agustinus bahwa pengetahuan kita akan dunia secara langsung membawa kita pada pemahaman akan Allah.  Keduanya baik indra maupun batin manusia berperan penting dalam pengalaman akan cinta Allah. &lt;br /&gt;St. Bonaventura (Abad XII) meyakini bahwa pengetahuan akan Allah selalu dimediasi oleh pengalaman badani seperti pengalaman akan “kemanisan.” Pengalaman akan Allah selalu terjadi dalam pertemuan badani. Alam semesta di mana kita berada adalah penampakan dari yang Ilahi. Ciptaan dianggap sebagai suatu buku di mana Allah Tritunggal dapat dibaca. &lt;br /&gt;Sekalipun Agustinus dan Bonaventura menekankan peranan tubuh dalam ritus, keduanya memiliki pendekatan teologis yang berbeda. Bonaventura sangat meyakini bahwa indra mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menentukan jiwa secara langsung sehingga manusia dalam menjumpai Allah dalam kontak langsung dengan dunia ekternal. Sebaliknya, Agustinus meyakini bahwa jiwalah yang membentuk sensasi badani sehingga tanpa dasar spiritual (psikologis) tak mungkin mengalamai pengalaman badani akan keindahan ilahi.&lt;br /&gt;Pentingnya tubuh juga tampak dalam teks-teks liturgi abad XVI. “The most frequently printed prayer in early sisteenth/century primers was the Salve salutaris hostia, which emphasised the bodily suffering of Jesus as a focus for ensuring the bodily revewal of individual Christians and the Church itself.”   Sebelum komuni, umat berdoa supaya layak disatukan dengan tubuh Kristus yang adalah gereja. Pada waktu konsekrasi, imam mengambil roti persis saat ia mengucapkan acceptit panem (Ia [Yesus] mengambil roti). Tubuh imam diyakini  sebagai tubuh Yesus yang mengambil roti, di mana imam mengucapkan kata-kata Yesus sendiri. Pada jaman itu, ada banyak prosesi liturgis pada awal misa yang mencerminkan posisi sosial masyarakat kota dan desa. “The sacrifical and bloody body of Christ became an indispensable focus for much medieval devotion and the means through which the social world was restored to harmony.”  Di situ terjadi integrasi antara keterlibatan ritual (dan sakramental) seseorang dengan integrasi dan harmoni sosial. Oleh karenanya, pengakuan dosa merupakan tindakan tanggung-jawab komunitas pada sesama daripada sebagai tindakan pengakuan pribadi. Oleh karena itu Torevell melihat bahwa pada masa itu Ekaristi dipahami dengan tiga cara: sebagai saat di mana kehadiran ekatistik terjadi saat konsekrasi oleh imam, sebagai korban ritual yang mengulangi tindakan Kristus yang menyerahkan diriNya, dan sebagai penampilan dramatik dari ekonomi penyelaman secara keseluruhan.   &lt;br /&gt;Tubuh orang suci diyakini sebagai kehadiran yang ilahi. Oleh karenanya, para kudus biasa dimakamkan di sekitar gereja, bahkan dalam gereja dan di bawah altar. Segala peninggalan yang berhubungan tubuhnya dijadikan relikui suci yang ditaruh di altar yang dihubungkan dengan kematian Yesus sebagai pengorbanan untuk keselamatan manusia. Peranan tubuh dalam ritus juga tampak dalam upacara pemakaman. Orang yang dibaptis dikuburkan dalam tanah yang diberkati sedangkan orang Yahudi, kusta, dan  tak dibaptis tidak diperkenankan dimakamkan di atas tanah yang diberkati. Oleh karenanya pemakanan pada zaman itu menujukkan perbedaan status sosial. Upacara ritual menjadi presentasi sosial seseorang. &lt;br /&gt;Yang dimaksud tubuh dalam abad pertengahan tersebut di atas adalah tubuh pria. Tubuh wanita diasosiasikan dengan dosa sehingga tak layak untuk menjadi medium komunikasi dan presensi yang Ilahi. Tubuh wanita kudus menjadi tubuh yang memungkinkan mediasi karena “dipriakan” setelah melampui sederetan perjuangan dan pergulatan fisik dengan cara mengontrolnya hingga tidak menjadi godaan bagi perkembangan spiritual umat. Oleh karenanya wanita kudus (santa) dianggap sebagai santo (pria). Pada saat itu wanita per se diyakini tidak pernah mencapai perkembangan spiritual. &lt;br /&gt;Karena pandangan negatif terhadap tubuh wanita, dikotoni tubuh dan jiwa dikesampingkan oleh kaum mistik wanita. Tubuh dan jiwa menjadi satu. Kebertubuhan jiwa inilah yang lebih ditonjolkan. Namun perspektif tubuh pria tetaplah dominan, di mana mereka diarahkan kepada kepriaan (kemanusiaan pria) Yesus untuk mengalahkan kedagingan.&lt;br /&gt;Relasi tubuh sebagai unsur insani (profan) dengan ritus sebagai unsur ilahi (sakral) berubah pada zaman reformasi. Hal ini dikaitkan dengan perubahan konsep tentang menjadi seorang kristiani yang baik yang tidak ditentukan oleh usaha konkret, tetapi oleh iman semata berkat rahmat. Oleh karenanya, tindakan sakramen berefek bukan karena tindakan ritual di mana rahmat turun, tetapi tergantung pada iman itu sendiri sekalipun tanpa tindakan ritual. &lt;br /&gt;Peter Berger berpendapat bahwa ritus Katolik merupakan sarana kolektif yang paling bagus untuk memelihara kesatuan dan kelanjutan antara hal-hal dalam bumi dan surga. Katolik mampu mempertahankan jembatan antara dunia insani dan ilahi, antara Allah dan manusia melalui ritus, antara tubuh dan jiwa. Sebaliknya, Protestan gagal untuk membuat jembatan ini. Bahkan menuduh sarana insani termasuk lokasi tertentu sebagai bagian dari penyembahan berhala tanpa mampu mengalami kekudusan yang ilahi dalam rupa insani. Oleh karenanya, tak ada konsep tempat suci seperti pemahaman Katolik. Hal ini tampak dalam konsep konsekrasi yang mengambil prinsip consubstantio (bukan transubtantio yang dianut Katolik) hingga tak membutuhkan tabernakel dalam gereja. Dengan berkembangnya teologi protestan semacam ini, dikotomi profan dan sakral kembali merebak dan bahkan menjadi subur bersamaan dengan berkembangkan protestantisme. Charles Taylor pun melihat hal yang sama ketika kaum puritan kristen berkembang melalui desakralisasi sakramen, termasuk sakramen imamat, di mana imam dan awam dipandang sama.&lt;br /&gt;Munculnya Descartes dengan konsep res cogitans dan res extensa memperbesar gap antara tubuh dan jiwa yang membawa konsekuensi besar pada pemahaman dan pelaksanaan praktek keagamaan, termasuk penghayatan pada ritus. Fungsi tubuh menjadi berkurang. Dalam meditasi kedua, Descartes yakin bahwa hanya dengan berpikir melalui persepsi kita dapat memahami tubuh tanpa perlu melihat atau menyentuhnya.  Taylor mencermati bahwa pandangan Descartes ini memaksa kita memahami hal-hal spiritual tanpa tubuh.  Itulah apa yang disebut dengan disengaged reason yang menyebabkan peranan penting tubuh pada abad pertengahan digugurkan oleh Descartes.   Tubuh dan dunia mau dijadikan objek rasio untuk kebenaran. Tubuh dan dunia bukan lagi menjadi bagian dari kebenaran. Perspektif yang melepaskan kebertubuhan ini menjadi dominan sampai saat ini. Dalam perspektif ini, alam semesta dinetralisasikan dari unsur-unsur spiritual. Kosmos tidak lagi dipandang sebagai tempat tinggal yang penuh makna, pakaian ilahi dalam dunia insani, maupun epihani Allah di tengah manusia. &lt;br /&gt;Akibat lanjut dari pandangan Descartes ini, kebenaran dipandang secara prosedural daripada secara substansial. Keunggulan rasio instrumental yang mengontrol ditekankan. Jurang dunia sakral dan profan pun kian menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup: Konsep Integral Profan dan Sakral Mengatasi Sekularisme&lt;br /&gt;Rasionalisme Descartes menyebabkan rasionalisasi terhadap ketidak-mampuan menangkap kehadiran yang ilahi dalam kegiatan manusiawi. Dalam situasi seperti itu, ritus cenderung dipandang sebagai kegiatan seremonial belaka. Pada saat itu, virus sekularisme merasuki kehidupan pemeluk agama dalam penghayatan imannya. Sekularisme terjadi ketika orang hanya melihat unsur fisik dan material dalam kegiatan spiritual bukan karya Roh dalam institusi atau pribadi atau ritus tertentu. Bagi Andre Malrauz, krisis saat ini adalah “crisis of the spirit”. Penghayatan dan pelaksanaan praktek keagamaan dirasionalisasi dan dikonfrontasi secara negatif dengan kriteria dunia modern. Keberadaan Allah tidak ditolak, tapi peranannya disingkirkan dari hidup manusia dan dunia konkret. Bahayanya orang pintar dan lihai yang menggunakan prinsip keunggulan rasio instrumental adalah membuat alasan yang masuk akal untuk membenarkan perbuatannya, termasuk menghilangkan unsur-unsur religius atau simbol-simbol keagamaan yang sebenarnya memiliki otoritas religius.&lt;br /&gt;Kurniawan Muhammad (5 Nov 2007)  menulis “Manusia itu dibagi menjadi tiga tingkat: tingkat mata, otak, dan tingkat hati”di Jawa Post. Manusia sekular itu adalah manusia yang berada pada tingkat mata dan otak. Orang yang masuk dalam tingkat hati, spirit masuk ke wilayah roh, memahami ruang ilahi dalam dirinya dan mengakui peranan Allah dalam hidupnya. &lt;br /&gt;Dunia sekular terjadi karena Allah tidak lagi mendapat tempat dalam hidup insani. Seorang religius menjadi sekular kalau ia sudah “tidak takut Allah”, “tidak menghargai Allah”, dan “tidak mengakui peranan Allah”. Allah diakui ada, tetapi terpisah dari hidup nyata keseluruhan. Allah dipandang sebagai subjek terpisah dari pujian dan doa yang bermakna sosial religius (terpatok pada penampilan fisik) semata, daripada sebagai pengalaman religius. Yang sakral diprofankan.&lt;br /&gt;Kalau seorang pemeluk agama sudah menjadi sekular, kegiatan keagamaan menjadi upacara belaka, tanpa makna yang menyentuh hati dan budi. Akibatnya,  kalau ada sesuatu yang berkaitan dengan ritus dilanggar, ia pun merasa tak bersalah.  Kalau gairah akan hidup rohani hilang, benih-benih virus sekularisme mulai tumbuh. Kalau virus sekularisme sudah merasuk praktek keagamaan, ritus menjadi sebuah drama atau bahkan menjadi tidak bermakna sama sekali. Di situlah ritus bisa menjadi mode of doing, mode of having, dan mode of buying.&lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan tentang sekularisme yang dilontarkan oleh para Uskup Amerika (2008), Paus Benedictus XVI menjawab: “Faith becomes a passive acceptance that certain things “out there” are true, but without practical relevance for everyday life. The result is a growing separation of faith from life: living “as if God did not exist”.  Oleh karena itu, untuk menangkis sekularisme dalam ritus dan menjembatani dunia profan dan sakral, ritus jangan pernah dipisahkan dari hidup, konsep hidup perlu dikembangkan dari konsep diri sebagai citra Allah, dan konsep diri perlu diperbaharui terus ke arah diri integral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnotes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Charles Taylor membahas sejarah konsep diri sebagai dasar identitas diri Modern. Sources of the Self. The Making of the Modern Identity, Cambridge University Press, Cambridge 1989, 111-207. &lt;br /&gt;  Bagian ini merupakan bagian utama artikel “Konsep Diri dalam kaitan dengan Kreativitas Autopoetik” karya Anton Subianto yang dipresentasikan dalam Extension Curse Filsafat, 15 Mei 2009.&lt;br /&gt;  Plato, Republic (430 e), R. Waterfield (trans.), Oxford: Oxford University Press, 1994, 137-138.&lt;br /&gt;  Ibid., 116.. &lt;br /&gt;  Ibid.&lt;br /&gt;  Oleh karenanya dalam Apologia, Plato menyamakan pengalaman penyair ketika menciptakan puisi bagaikan seorang nabi yang diberi inspirasi dan dirasuki oleh yang ilahi. Plato, The Trial and Death of Socrates: Euthyphro, Apology, Crito, Death Scene from Phaedo, trans. G. M. A. Grube and John M. Cooper, 3rd ed., (Indianapolis: Hackett, 2000), 25.&lt;br /&gt;  AUGUSTINE, De Vera Religione, 39.72 dalam Augustine, True Religion, trans. Ray KEARNEY in On Christian Belief, Boniface RAMSEY (Ed.), New York 2005, 78. Lihat juga terjemahan Taylor. Charles TAYLOR, Sources of the Self: The Making of the Modern Identity, Cambridge 1989, 129.&lt;br /&gt;  (Allah ada lebih dalam daripada yang paling dekat dengan saya dan lebih tinggi daripada yang paling jauh jauh dari saya AUGUSTINE, Confessions, Penguin Books, New York 1963, III. vi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Rasio murni ini berbeda dengan konsep pure reason dari Kant.&lt;br /&gt;  Ada 3 penyakit modern, yaitu individualism, the primacy of intrumental reason, soft despotism. Charles TAYLOR, The Ethics of Authenticity, Harvard University Press, Cambridge 1992, 1-12.&lt;br /&gt;  Konsep autopoesis pada awalnya memang ditemukan untuk menggambarkan suatu sistem hidup mandiri dalam ranah biologis. Kemudian konsep autopoesis ini dikembangkan oleh dalam teori sistem sosial oleh Niklas Luhmann yang disebut dengan evolusi komunikasi dari oral, melalui tulisan, hingga menuju media elektronik dan paralel dengan evolusi masyarakat melalui diferensiasi.  Ia juga menerapkan pada sistem hukum sosial, di mana kesatuan hukum pun ia pandang sebagai autopoiesis, self-production. Lihat Niklas Luhmann, Law as a Social System, Oxford University Press, New York 2008, 70.&lt;br /&gt;  John Locke, An Essay Concerning Human Understanding, London: George Routledge and Sons, 1894, 55.&lt;br /&gt;  Charles Taylor, Sources of the Self, 172.&lt;br /&gt;  Charles Taylor, Sources of the Self, 179.&lt;br /&gt;  Charles Taylor, Sources of the Self, 180.&lt;br /&gt;  Charles Taylor, Sources of the Self, 182.&lt;br /&gt;  Bagian ini merupakan bagian kecil (dengan modifikasi) dari tulisan berjudul “Reposisi Agama” oleh Anton Subianto dalam Jurnal Filsafat Melintas, Th. 20, No 61, April – Juli 2004, hlm 57-52. &lt;br /&gt;  “There can be no denying the fact that from prehistoric times, as far back as modern investigators have been able to trace, man has always been in possesion of a religion of some sort.” Gopi Krishna, The Biological Basis of Religion and Genius. Ruth Nanda Anshen (Ed.), New York: Harper &amp; Row Publishers, p. 55. &lt;br /&gt;  “Men and women started to worship gods as soon as they became recognizably human.” Keren Amstrong, A History of God: The 4000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballantine Books, 1993, pp.xix, 3. Buku ini berbicara soal sejarah konsep Allah.&lt;br /&gt;  “In the history of the world, religion in widely different forms has been a basic element in society and individual life. It is the nature of most men to look beyond themselves and their society. Much of the sanction for their collective activities has derived from the beliefs which the religious sensitivities of men have produced.” Philip H. Ashby, History and Future of Religious Thought: Christianity, Hinduism, Budhism, Islam. Englewood Cliffs, N.J.: Pprentice-Hall, Inc., 1963, p.1.&lt;br /&gt;  Ernst Cassirer, Cassirer, Ernst. The Philosophy of Symbolic Form. Trans. Manhelm, Ralph, New Haven &amp; London: Yale University Press. vol. 1. 1968, p. 80. &lt;br /&gt;  Dalam dunia modern saat ini, agama telah dicurigai menjadi suatu komoditi, entah itu komoditi ekonomis, etnis (sosial), maupun politis. Di sini agama bukan mode of being melainkan telah menjadi mode of doing, bahkan telah menjadi mode of buying. Orang beragama bukan untuk mencari esensi (the Ultimate Reality) di balik agama, melainkan mencari keuntungan entah secara ekonomis, sosial, maupun secara politis. Di samping itu agama juga dicurigai sebagai komoditas psikologis. Dalam fenomenologi agama, motivasi beragama itu bervariasi. Salah satunya adalah karena manusia mengalami frustrasi. &lt;br /&gt;  Perubahan paradigma ini menyebabkan perubahan total dalam masyarakat Yunani. Kini mereka ditantang untuk berpikir rasional, universal, dan objektif bukan semata puas dengan penjelasan dan keyakinan emosional dan subjektif lokal kultural. &lt;br /&gt;  Dalam dunia modern saat ini, agama terperangkap ke dalam suatu institusi. Masing-masing lembaga institusional agama saling bersaing secara negatif, bahkan sering kali secara negatif. Maka, terjadi rebutan popularitas dan populasi. Tambahan lagi, agama sebagai institusi berkonfrontasi dengan institusi lain yang justru sering menyebabkan hilangnya hakekat agama sebagai suatu kumpulan organisme dinamis yang berurusan dengan khasanah rohani. &lt;br /&gt;  Emile Durkheim, The Elementary Forms of the Religious Life. Joseph Ward Swain, M.A., London: George Allen &amp; Unwin Ltd, 1968, pp. 24, 29. Lihat khususnya Chapter I: “Definition of Religious Phenomena and of Religion”, pp. 23-47.&lt;br /&gt;  “What is real is destined for destruction by the very knowledge it has of reality: knowledge is ambiguous and leads the hero to his undoing.” Kalimat Levinas tersebut muncul ketika ia membahas Scandal of Death from Hegel to Fink. Emmnuel Levinas, God, Death, and Time. Bettina Bergo (trans), California: Stanford University Press, 2000, p. 88. Selaras dengan pengetahuan tentang kematian, pengetahuan tentang Allah bisa juga mereduksi dan mendestruksi realitas adikodrati dan pribadi ilahi. &lt;br /&gt;  Anton Vergote, Guilt and Desire: Religious Attitudes and Their Pathological Derivatives, M.H. Wood (Trans.). Yele: Yale University Press, 1988, p. 3.  Bacalah Bab “Religion and Pathology: Guideline” pp. 3-39.&lt;br /&gt;  Objek dari Yang Kudus disebut nomen yang mengandung elemen mysterium tramendum et fascinans di mana di dalamnya kita menemukan kekayaan the unsayable experience. Lihat Rudolf Otto, The Idea of the Holy: An Inquiry into the Non-Rational Factor in the Idea of the Divine and Its Relational to the Rational, trans. John W. Harvew. Harmondsworth (Middlesex: Penguin Books, 1959), pp. 26-55. Otto berpendapat bahwa pengalaman religius sebagai the unsayable experience of the Holy  yang mengatasi penjelasan konseptual. “‘Holiness’, –‘the holy’– is a category of interpretation and valuation peculiar to the sphere of religion. It is indeed, applied by transference to another sphere–ethics– but it is not itself derived from this. While it is complex, it contains a quite specific element or ‘moment’ which sets it apart from ‘the rational’ in the meaning we gave to that word above, on which remains unexpressible –an or ineffabile– in the sense that it completely eludes apprehension in terms of concepts.” Ibid., p. 19.&lt;br /&gt;  For Paul Tillich, the courage to be has many meanings. The courage to be means to have the courage of confidence in God despite absolute doubt and meaninglessness, the courage to accept the acceptance of unacceptable in spite of the anxiety of guilt, sin, fate, and death. In other words, the courage to be is the power of self-affirmation of being in spite of the fact of non-being. See Paul Tillich, The Courage to Be, New Haven: Yale University Press, 1953, pp. 155-190.&lt;br /&gt;  Peter L. Berger, A Rumour of Angels, 1973, p. 118.&lt;br /&gt;  Gagasan Spinoza ini diuraikan dengan sangat baik oleh Herman de Dijn dalam bab III Chapter nine: On God. Herman de Dijn, Spinoza: The Way to Wisdom, West Lafayette: Purdue University Press, 1996, pp. 195-213.&lt;br /&gt;  Angeloi Theou bukan per se para nabi. Salah satu ciri nabi sejati dalam Kitab Suci Perjanjian Lama adalah karena ia memiliki keprihatinan yang sama dengan Allah. Maka, seorang nabi sering disebut sebagai pathos ilahi, pribadi yang sehati-seperasaan dengan Allah. Jürgen Moltmann menulis bahwa Abraham Hescel-lah yang menyatakan bahwa nabi itu adalah pathos Allah.  “De profeten hadden geen ‘idee’ van God, maar zagen zichzelf en het volk in een Godssituatie. Deze Godssituatie noemt Hescel het pathos van God.” Jürgen Moltmann, De Gekruisigde God: Het Kruis van Christus als Fundament en als Kritische Instantie van Christelijke Theologie, drs. A.J.M. Sturkenboom (trans), Westland, Merksem: Ambo, Bilthoven, 1972, p. 257. Mengutip Abraham Heschel, Jürgen Moltmann juga menulis bahwa orang yang berada dalam situasi pathos Allah menjadi homo sympatheticus. Di sana terjadi unio sympathetica dengan Allah. “Maar in de situatie van het pathos van God wordt de mens tot een homo sympatheticus…Hij komt met God niet in een unio mystica, maar in een unio sympathetica., p. 259.&lt;br /&gt;  Peter L. Berger, A Rumour of Angels, 1973, p. 118.&lt;br /&gt;  Lihat., Ibid., hlm. 120.&lt;br /&gt;  Peter L. Berger, The Heretical Imperative, London, 1980, p. XI. Bagi Berger ada tiga cara kemungkinan reposisi dan reafirmasi religi, yaitu deduktif, reduktif, dan induktif.  Cara induktif dipandang sebagai cara efektif dalam dunia pluralis. Kemungkinan deduktif adalah opsi untuk mengukuhkan kembali tradisi awal dalam religi pada dunia sekular saat ini. Akibatnya adalah munculnya kaum fundamentalis yang merasa tak berdaya berhadapan dengan sekularisme. Kemungkinan reduktif adalah opsi untuk mereduksi tradisi-tradisi religius yang tidak sesuai dengan dunia sekular dan menyesuaikan diri dengan dunia sekular. Akibatnya adalah lahirnya agama-agama oportunis yang melakukan banyak proses sikretisme.  &lt;br /&gt;  Ada empat relasi yang mungkin antara agama dengan urusan non-agama. Ketika membahas relasi agama dan ilmu, John Haught mengatakan ada 4 kemungkinan relasi agama dengan ilmu: 1) Konflik menyatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak dapat bersatu karena mempunyai wilayan yang berbeda satu sama lain; 2) kontras menyatakan bahwa agama dan ilmu pengetahuan tidak ada harus berkonflik satu dengan yang lainnya karena keduanya mempunyai cara menanggapi persoalan yang sama sekali berbeda, jangan dikait-kaitkan; 3) Kontak menyatakan bahwa agama dan ilmu harus berusaha mencari dialog atau interaksi dan relasi antara agama dan ilmu pengetahuan; 4) konfirmasi menyatakan bahwa pada tingkatan yang paling dalam religi itu justru mendukung dan menyuburkan pencarian ilmiah dan sebaliknya pengetahuan ilmiah mendukung posisi agama. Hal ini bisa diterapkan juga dalam relasi antara urusan agama dengan dunia. John F. Haught, Science &amp; Religion, From Conlict to Conversation. Paulust Press, Mahwah, New Jersey, 1995, pp. 9-25.&lt;br /&gt;  Bagian ini diambil dari “The Body, Ritual and Liturgy in the Premodern World” karya David Rorevell, Losing the Sacred: Ritual, Modernity and Liturgical Reform, Edinburgh, T&amp;T Clark,  48-79.&lt;br /&gt;  David Rorevell, Ibid., 48.&lt;br /&gt;  David Rorevell, Ibid., 49.&lt;br /&gt;  Torevell menulis: “the senses are then able to act as messengers to the inner self”. David Torevell, Ibid.&lt;br /&gt;  David Torevell, Ibid.,  57.&lt;br /&gt;  David Torevell, Ibid., 58.&lt;br /&gt;  David Torevell, Ibid., 59.&lt;br /&gt;  David Torevell, Ibid., 66.&lt;br /&gt;  René Descartes, Meditation on First Philosophy, Notre Dame: University of Notre Dame Press, 39.&lt;br /&gt;  Charles Taylor, Ibid., 146. Penjelasan berkiatan dengan Descartes bisa ditemukan dalam “Descartes’s Disengaged Reason”, 143-158.&lt;br /&gt;  Penjelasan Taylor berkiatan dengan konsep ketak-bertubuhan Descartes ini bisa ditemukan dalam “Descartes’s Disengaged Reason”, Charles Taylor, Ibid., 143-158.&lt;br /&gt;   Responses of His Holiness Benedict XVI to the Questions posed by the Bishon, in the meeting with the bishop of the United States of America, National Shrine of the Immaculate Conception in Washington, D.C., Wednesday, 16 April 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-4255357103670593094?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/4255357103670593094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/07/sakral-dan-profan-dalam-kaitan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4255357103670593094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4255357103670593094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/07/sakral-dan-profan-dalam-kaitan-dengan.html' title='SAKRAL DAN PROFAN DALAM KAITAN DENGAN RITUS DAN TUBUH: SUATU TRELAAH FILSAFAT  MELALUI AGAMA DAN KONSEP DIRI  oleh Anton Subianto OSC'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-4395191686334909098</id><published>2010-07-31T18:07:00.000-07:00</published><updated>2010-07-31T18:09:47.172-07:00</updated><title type='text'>COLLOQUIUM LITURGICUM 2010</title><content type='html'>Bulan Juli 2010 kemarin saya dan rekan saya dari Seksi Liturgi Paroki Santa Bernadet Ciledug mengikuti Seminar Colloquium Liturgicum di Wisma Pratista Bandung. Seminar yang bertajuk "Melalui Keindahan menuju Kekudusan" ini menggali beragam ekspresi keindahan manusiawi yang secara telaah liturgis mampu dipakai sebagai media Kekudusan dan tepat dan patut dipakai sebagai penyegaran dalam Perayaan Ekaristi. Komentar Anda dan studi kita lebih lanjut sangat diharapkan! Selamat belajar!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-4395191686334909098?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/4395191686334909098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/07/colloquium-liturgicum-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4395191686334909098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4395191686334909098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/07/colloquium-liturgicum-2010.html' title='COLLOQUIUM LITURGICUM 2010'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-2866821574781454164</id><published>2010-04-07T21:58:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T22:02:05.935-07:00</updated><title type='text'>Ajakan berliturgi bagi semua ....</title><content type='html'>Selamat Paskah, Pastor, Suster, Bapak, Ibu dan Saudara-saudari sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui surat ini, kami, Seksi Liturgi Paroki Santa Bernadet Ciledug hendak mengajak Anda sekalian untuk ikut terlibat dan menyegarkan liturgi di Paroki kita. Menjalankan liturgi yang benar dapat diyakini sebagai sebuah usaha melayakkan kehadiran kita di hadapan Allah yang mengundang kita secara khusus dalam liturgiNya, liturgi Ilahi.&lt;br /&gt;Maka, bila di komunitas Anda terdapat anak-anak yang potensial untuk dilatih dan dibina menjadi pelayan liturgi: sebagai Putera Altar dan Puteri Sakristi, Lektor dan Pemazmur, Organis dan Pelatih Paduan Suara; kirimkan reply Anda ke alamat sieliturgibernadet@yahoo.co.id  untuk kami tindak lanjuti. Anda dapat juga berkeluh kesah, memberi kritik yang membangun dan memberikan input yang baik untuk perkembangan liturgi kita. Kami tunggu partisipasi Anda. Kita Bisa!!! Syaloom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Leo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-2866821574781454164?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/2866821574781454164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/04/ajakan-berliturgi-bagi-semua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/2866821574781454164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/2866821574781454164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/04/ajakan-berliturgi-bagi-semua.html' title='Ajakan berliturgi bagi semua ....'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6546345562856582899</id><published>2010-04-07T21:00:00.000-07:00</published><updated>2010-04-07T21:09:38.578-07:00</updated><title type='text'>Kasih Ibu Sepanjang Masa, Cinta Ana..k Sepanjang Masa..kan ?</title><content type='html'>Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata “Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?”&lt;br /&gt;”Ya, tetapi, aku tidak membawa uang” jawab Ana dengan malu-malu&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu” jawab si pemilik kedai. “Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa nona?” tanya si pemilik kedai.&lt;br /&gt;“Tidak apa-apa, aku hanya terharu” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. “Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi, tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri” katanya kepada pemilik kedai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata, “Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana, terhenyak mendengar hal tsb. “Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu&lt;br /&gt;berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah “Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita. Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita menganggap pengorbanan mereka merupakan suatu proses alami yang biasa saja; tetapi kasih dan kepedulian orang tua kita adalah hadiah paling berharga yang diberikan kepada kita sejak kita lahir. (Sumber : motivation-live.blogspot.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA DENGAN KITA KAWAN ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6546345562856582899?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6546345562856582899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/04/kasih-ibu-sepanjang-masa-cinta-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6546345562856582899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6546345562856582899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/04/kasih-ibu-sepanjang-masa-cinta-anak.html' title='Kasih Ibu Sepanjang Masa, Cinta Ana..k Sepanjang Masa..kan ?'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-8313580242251128562</id><published>2010-02-10T20:54:00.000-08:00</published><updated>2010-02-10T20:55:48.072-08:00</updated><title type='text'>Paul Widyawan dedengkot paduan suara (Sharing dari Sdr. Lambertus Hurek)</title><content type='html'>Paul Widyawan dedengkot paduan suara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cahaya Suci", komposisi SATB karya Paul Widyawan, ini merupakan lagu liturgi inkulturasi bergaya Sunda. Cukup populer di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama PAUL WIDYAWAN tentu tak asing lagi di kalangan aktivis paduan suara di Indonesia. Lebih-lebih mereka yang pernah bergiat di lingkungan paduan suara Gereja Katolik. Paul Widyawan juga populer di kalangan paduan suara mahasiswa yang gemar membawakan lagu-lagu nusantara. Juga panitia lomba paduan suara yang menginginkan juri berpengalaman, tahu benar seluk-beluk paduan suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah aktif di paduan suara di Jawa Timur pada 1990-an, saya semakin sadar bahwa Paul Widyawan ternyata dedengkot paduan suara yang punya begitu banyak 'pengikut' di kalangan aktivis kor gereja. Para pelatih di lingkungan, wilayah, paroki [kor inti], mudika, hingga komisi musik liturgi keuskupan [Malang dan Surabaya] selalu menyebut nama Paul Widyawan dan Pastor Karl Edmund Prier SJ sebagai rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyanyinya jangan gitu lho. Menurut Paul Widyawan, bernyanyi yang benar harus begini," kata Bu Bambang, pianis klasik dan pelatih paduan suara Lingkungan Santo Thomas, Paroki Celaket, Kota Malang, kepada saya. Waktu itu saya diminta menjadi solo tenor sekaligus pemazmur di gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membawakan lagu 'Oh, Ke Manakah Arah Perahu' ciptaan dan aransemen Paul Widyawan, tapi dianggap tidak pas. "Mulutmu sudah buka, tapi belum lebar sehingga 'oooo' belum bulat. Jangan malu-malu buka mulut ya?" tegas Bu Bambang yang memang sangat tegas. Hehehe.... Memang, kalau nyanyi di paduan suara itu mulut wajib dibuka lebar-lebar, artikulasi jelas, vokalisi, dan macam-macam lagi. Komplet deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kuliah di Universitas Jember, kemudian aktif di paduan suara gereja dan mahasiswa, nama Paul Widyawan lagi-lagi disebut. Mas Joko, sang pelatih dan dirigen Paroki Jember, ternyata muridnya dedengkot musik dari Pusat Musik Liturgi [PML] Jogjakarta itu. Hampir semua buku musik terbitan PML dia punya. Paling banyak, ya, garapan Paul Widyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katanya Paul Widyawan itu begini lho," kata Suster Elsa, organis di Jember pada 1990-an. "Wah, kalau sampeyan nyanyinya kayak begitu, ya, dimarahi Paul Widyawan," tambah teman lain. Saya geleng-geleng kepala menyaksikan kenyataan ini. Paul Widyawan ternyata punya pengaruh luar biasa di paduan suara. Jadi rujukan teman-teman paduan suara di gereja [Katolik].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pindah ke Surabaya, tapi tidak aktif lagi di paduan suara. Tapi saya masih sering berdiskusi dengan teman-teman eks aktivis paduan suara mahasiswa ITS, Universitas Airlangga, Universitas Surabaya, Universitas Petra, Universitas Jember, IKIP Malang, IKIP Surabaya. Eh, nama Paul Widyawan kembali dirujuk. Orang Flores yang belajar kor di Jawa, ya, rujukannya ke PML: berguru langsung ke Paul Widyawan dan Romo Prier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saaat ikut lomba paduan suara antaruniversitas di Jawa Timur, Paul Widyawan tampil sebagai juri. Paul tak sekadar juri, tapi juga selalu memberi masukan tentang teknik vokal, bagaimana harus tampil di panggung, dan sebagainya. Paul mengkritik keras teman-teman dirigen PSM [paduan suara mahasiswa] yang suka mengatur-atur posisi penyanyi di panggung. Padahal, tugas dirigen hanya mendireksi atau memimpin nyanyian atau musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat geladi bersih posisi penyanyi sudah harus jelas. Jadi, waktu naik panggung nggak perlu diatur-atur lagi. Penyanyi masuk satu per satu, cari posisi, terakhir dirigen naik. Lalu mulai menyanyi," kata Paul Widyawan saat menjadi juri lomba paduan suara se-Jawa Timur di kampus Universitas Brawijaya, Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah resep dari Paul Widyawan ini masih diikuti atau tidak. Tapi saya sangat sepakat dengan masukan Paul. Selama ini terlalu banyak paduan suara menghabiskan waktu hanya untuk menata penyanyi di atas panggung. Belum lagi gaya dirigen yang lucu dan aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa nama Paul Widyawan sangat mencorong, bahkan dia punya 'pengikut' di mana-mana? Apalagi, di kalangan Gereja Katolik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, kiprah Paul Widyawan tidak lepas dari Pusat Musik Liturgi [PML] di Jogjakarta. PML didirikan Pastor Karl Edmund Prier SJ pada 11 Juli 1971 sebagai dapur pengolah musik liturgi [musik untuk perayaan ekaristi atau ibadah di Gereja Katolik]. Sejak awal PML bertekad untuk mengolah musik khas nusantara sebagai bahan dasar musik liturgi. Nah, Romo Prier 'berduet' dengan Paul Widyawan untuk mengembangkan PML.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya luar biasa. Paul Widyawan dan Prier mengolah musik etnik Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Minang, Flores [ada macam-macam versi], Timor, Maluku [beberapa versi], Papua [beberapa versi], dan seterusnya. Ini karena PML secara teratur bikin lokakarya komposisi di berbagai daerah di Indonesia sejak 1970-an. PML mengundang pemusik/komponis lokal kemudian diajak diskusi bersama Paul Widyawan dan Prier, bikin komposisi, susun lirik, bikin aransemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komposisi itu kemudian dipentaskan, diapresiasi bersama. Pada awal 1980-an PML merilis MADAH BAKTI dan KIDUNG ADI [berbahasa Jawa], buku nyanyian dan doa untuk Gereja Katolik di Indonesia. Berbeda dengan buku-buku nyanyian gerejawi lainnya, 60-70 persen MADAH BAKTI ditulis oleh orang Indonesia dengan gaya etnik di tanah air. Maka, ada misa gaya Flores, Manado, Jawa, Batak, Dayak, keroncong, gending, Papua, Maluku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua daerah terwakili di MADAH BAKTI. Lagu-lagu gaya Flores paling banyak dan paling populer sampai hari ini. Saya, orang kampung asal Flores Timur, ikut bangga karena musik rakyat di daerah kami ternyata paling mewarnai liturgi di Indonesia. Karya-karya Paul Widyawan pun sangat dominan. Boleh dikata, sebagian besar komposisi baru hasil lokakarya di daerah-daerah diaransemen oleh Paul Widyawan. Maka, saya sering bilang kepada teman-teman aktivis paduan suara [bercanda]: Paul Widyawan itu raja aransemen paduan suara paling produktif di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai komponis yang kaya pengalaman, belajar khusus di Eropa, Paul Widyawan menulis aransemen kor dengan berbagai tingkat kesulitan. Kami, di lingkungan Gereja Katolik, membagi komposisi paduan suara dalam enam taraf kesulitan: A sangat mudah, B mudah, C sedang, D lumayan, E sedikit sulit, F sulit. Karena MADAH BAKTI itu komposisi musik liturgi untuk umat, maka taraf kesulitannya paling banter C. Ada beberapa yang D, tapi masih bisa diatasi oleh paduan suara kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menggeluti paduan suara, bahkan sempat menjadi pelatih, akhirnya saya bisa menangkap karakter atau ciri khas Paul Widyawan. Apa saja ciri khas Paul Widyawan? Saya kasih bocoran sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Melodi pokok [di gereja biasa disebut cantus firmus atau CF] tidak selalu di sopran. CF bisa berpindah-pindah dari sopran, alto, tenor, bas. Pola ini beda dengan kebiasaan paduan suara di lingkungan gereja umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena CF ganti-ganti, empat suara harus sangat fokus, konsentrasi, tak boleh salah. Kalau melamun, maka bangunan nyanyian akan rusak. Saya amati, banyak kor di gereja yang kacau karena tidak serius berlatih, tapi memaksakan memakai aransemen Paul Widyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nada-nada sopran [kadang-kadang tenor] sangat tinggi. Loncatan nada kerap kali sangat ekstrem. Sopran harus berlatih sangat keras, tahu teknik vokal, agar bisa nyanyi dengan enak. Register perut, dada, kepala harus mulus, tidak terdengar ngoyo atau maksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Terkait nomor dua, sopran sering dipecah dua atau tiga [S1, S2, S3]. Suara-suara atas alias coloratura ini untuk hiasan atau ornamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola macam ini kerap dipakai VOCALISTA SONORA, paduan suara yang dipimpin Paul Widyawan, dalam festival-festivalnya. Oh, ya, VOCALISTA SONORA alias VOCASON kerap konser di berbagai daerah di Indonesia untuk 'kasih contoh' bagaimana menyanyi secara baik dan benar. VOCASON juga pernah tur beberapa kali ke Eropa antara lain tahun 1976 dan 1988. VOCASON merupakan paduan suara yang mendapat fasilitas khusus dari PML. Alumninya tersebar di seluruh Indonesia, dan menjadi pelatih paduan suara gerejawi, sekolah, kampus, umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Paul Widyawan senang menjadikan suara manusia sebagai pengganti alat musik, desah angin, suara daun, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Paul Widyawan menolak tegas pola aransemen musik etnik, misal pentatonik Jawa atau Dayak, dengan pendekatan musik Barat. Karena itu, lagu-lagu bernuansa Jawa niscaya menggunakan 'sistem balungan'. Polanya seperti kanon, nyanyi bersahut-sahutan. Menurut Paul, aransemen ala piano klasik justru membuat musik nusantara kehilangan roh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Paul Widyawan sangat menginginkan kekhasan lagu daerah. Menyanyi ala Sunda, ya, banyak menggunakan suara hidung [nasal]. Papua, ya, meriah kayak orang menari dan menyanyi di pedalaman kampung Suku Dani. Jangan sekali-kali memaksakan cara menyanyi ala Barat alias bel canto di nyanyian daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Instrumen asli daerah sangat diutamakan. Paul Widyawan kerap mengkritik lomba-lomba paduan suara mahasiswa yang terkesan 'membakukan' piano sebagai instrumen pengiring. Iringan piano, dengan harmoni Barat, justru merusak lagu, kata Paul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Aransemen paduan suara karya Paul Widyawan tidak berpanjang-panjang. DOMIDOW, lagu rakyat Papua, misalnya, hanya satu halaman. Bandingkan dengan aransemen paduan suara mahasiswa yang rata-rata di atas lima halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, bagi Paul, aransemen yang pendek itu akan hidup jika dibawakan oleh dirigen yang mampu menghidupi musik. IKIP Malang menjadi juara pertama ketika membawakan DOMIDOW yang pendek. Adapun kampus-kampus lain, saya lihat, mengolah aransemen secara panjang lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Paul Widyawan senang menggunakan solo sopran/tenor dalam aransemen-aransemennya. Ini tidak gampang untuk paduan suara pemula. Menemukan solis yang benar-benar layak ditampilkan, wah, susahnya minta ampun. Saya pernah beberapa kali mengganti partitur hanya karena solis yang saya tunjuk sakit atau berhalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paul Widyawan itu, selain pencipta lagu, penyusun aransemen, penata musik, dirigen, manajer paduan suara, juga penyanyi hebat. Suaranya tenor, menggelegar. Karena itu, saya duga, dia ingin sekali menampilkan solis di lagu-lagu paduan suara. Dengan solis, maka SATB [sopran, alto, tenor, bas] hanya bertugas sebagai pengiring atau backing vocal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Kerap menggunakan melodi yang tidak lazim. Dan sulit untuk paduan suara pemula. Biasanya, lagu-lagu kita paling banter pakai triol [tiga nada dinyanyikan dalam satu ketuk], kadang-kadang kuartol [empat nada, satu ketuk]. Paul Widyawan, demi kepentingan artistik, memasukkan lima, enam, tujuh... nada dalam satu ketuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara menyanyinya? Harus Konsentrasi penuh dan punya kemampuan di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira ini dulu catatan saya tentang Paul Widyawan. Orang Jogjakarta ini punya dedikasi luar biasa pada musik, khususnya paduan suara. Saya tahu, banyak orang berkecimpung sebagai pembina paduan suara, lebih terkenal, lebih berprestasi ketimbang Paul. Tapi, ketahuilah, komponis yang benar-benar masuk keluar kampung untuk 'menggali' musik tradisi nusantara, ya, siapa lagi kalau bukan Paul Widyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA BUKU PARTITUR KARYA PAUL WIDYAWAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ondel-Ondel&lt;br /&gt;2. Domidow&lt;br /&gt;3. Bolelebo&lt;br /&gt;4. Kambanglah Bungo&lt;br /&gt;5. Dami Piranta&lt;br /&gt;6. Folksong&lt;br /&gt;7. Delima Natal&lt;br /&gt;8. Vocasonatal&lt;br /&gt;9. Buluh Puncak Awangan&lt;br /&gt;10. Yerusalem Kota Surgawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku, kaset/CD, bisa dipesan ke:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUSAT MUSIK LITURGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Ahmad Jazuli 2 Jogjakarta 55224&lt;br /&gt;Telepon [0274] 566695&lt;br /&gt;Faksimili [0274] 541641&lt;br /&gt;E-mail pml@idola.net.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kredit foto: Steve Adinegoro dan majalah HIDUP.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-8313580242251128562?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/8313580242251128562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/paul-widyawan-dedengkot-paduan-suara.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8313580242251128562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8313580242251128562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/paul-widyawan-dedengkot-paduan-suara.html' title='Paul Widyawan dedengkot paduan suara (Sharing dari Sdr. Lambertus Hurek)'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-3417655782422489483</id><published>2010-02-08T20:37:00.001-08:00</published><updated>2010-02-08T20:37:46.399-08:00</updated><title type='text'>TATA KATA LITURGIS</title><content type='html'>TATA KATA LITURGIS &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara sabda dan kata-kata&lt;br /&gt;Liturgi adalah suatu kegiatan doa bersama dari Gereja. Doa liturgis sebagai doa resmi Gereja adalah salah satu ungkapan yang paling khas, di mana iman Gereja dapat dinyatakan secara sungguh otentik (Edward Schillebeeckx). Dalam liturgi sebagai doa, Gereja menjalin komunikasi dengan Allah, dengan pengantaraan Kristus, Putera-Nya. Kristus adalah Sang Sabda yang menghubungkan umat dengan Allah, Sabda Allah sendiri yang menyapa manusia. Gereja mengimani Kristus, Sabda Allah yang menjadi manusia, dan mengungkapkan imannya itu dalam perayaan kudus yang dipimpin oleh Kristus sendiri. Kehadiran Kristus dalam perayaan liturgis dilambangkan dalam suatu pewartaan Sabda, pembacaan Kitab Suci. Dalam Misa, peristiwa Sabda yang menyapa umat itu diberi tempat secara khusus dalam Liturgi Sabda. Selain itu, tanda kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi juga dinyatakan dalam pribadi imam selebran, roti dan anggur, dan umat yang berkumpul. Dalam tulisan-tulisannya mengenai liturgi sakramen Agustinus memaknai “sabda” dalam tiga arti: Yesus sendiri, Kitab Suci yang diwartakan, dan formula (rumusan doa) sakramental. Arti pertama dan kedua sudah disinggung. Arti ketiga juga penting, bahwa formula sakramental merupakan “sabda” yang menguduskan dan menyelamatkan. Maka, perayaan liturgis sendiri secara simbolis merupakan suatu “peristiwa sabda”, saat Allah berbicara. Namun, lebih daripada itu, Allah dan umat beriman pun saling berkomunikasi dan berdialog. Liturgi tak terjadi searah, melainkan selalu timbal balik. Sebagai peristiwa yang berdimensi ilahi-manusiawi perlulah liturgi itu diungkapkan secara nyata. Cara komunikasi manusiawi dimanfaatkan untuk memenuhi maksud simbolisnya. Allah sendiri telah menggunakan bahasa manusia agar diri-Nya dikenal dan dipahami manusia. Bahasa adalah medium komunikasi diri yang meliputi aneka pengertian: yang simbolis atau yang lugas, yang gestural (gerak, sikap tubuh) atau yang verbal (teks, doa, bacaan, dsb). Allah sendiri juga berbahasa simbolis melalui unsur-unsur yang diambil dari kehidupan manusia (orang, benda, kata, tindakan). Sementara umat tidak bisa tidak harus juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya atau memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Salah satunya adalah “kata-kata” atau ungkapan verbal yang dijadikan sarana komunikasi antara umat beriman dengan Allahnya. Ada dua cara pengungkapan “kata-kata”, yakni secara lisan dan tulisan. Jadi, di dalam Misa pun akan selalu kita temui peran “kata-kata” yang amat penting itu. Ada “kata-kata” yang dinyatakan secara lisan tanpa teks acuan yang tertulis, dan ada pula “kata-kata” yang dirumuskan dalam bentuk tulisan. Bagaimana “kata-kata” itu ditata dan berperan dalam Misa? Hal inilah yang akan kita simak satu per satu melalui uraian berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda dan kata-kata sebagai teks liturgis&lt;br /&gt;Sabda (Word) adalah sesuatu yang abstrak. Ia baru ditangkap ketika tertuang dalam tulisan atau diungkapkan dalam kata-kata (words). Sabda Allah tertulis dalam Kitab Suci, maka Kitab Suci disbeut juga Sabda atau Firman Allah. Jika hanya dituliskan dan dibiarkan sebagai tulisan, tanpa dibaca atau diwartakan maka Sabda itu tidak berbicara, tidak bergema, tidak berdaya guna. Dalam perayaan liturgis, Sabda Allah itu dibuat berbicara, supaya berdaya guna bagi yang mendengarkannya, supaya juga ditanggapi oleh yang mendengarkannya. Ketika Kitab Suci dibacakan dalam liturgi maka Allah sendirilah yang sedang bersabda kepada umat-Nya (PUMR 29). Maka, “kata-kata” pun menjadi Sabda yang bisa didengar, dicerna, berguna bagi kehidupan dan keselamatan. Sabda seolah mengerdil dalam kata-kata atau tulisan, namun bisa kembali meraksasa jangkauannya bila tulisan dari Sabda itu diperlakukan semestinya: dihidupkan (lewat dibaca atau dibawakan) dalam liturgi! Dampak dari “tulisan” tentang Sabda bisa ke mana-mana, tak terduga. Tapi, bisa juga tak berdampak apa-apa bagi yang tuli telinga dan hatinya…. Seluk beluk tentang kata ini kemudian harus diamati dalam suatu bidang yang disebut “teks liturgis”. Teks liturgis adalah kata-kata yang digunakan dalam perayaan liturgi. Sabda dan kata-kata yang digunakan dalam liturgi dikelola di bidang itu, agar sungguh mampu berdaya guna bagi setiap peraya liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks dalam buku liturgis resmi&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan doa yang dilakukan secara bersama, liturgi memerlukan teks yang pasti dan berlaku untuk setiap peraya selama perayaan. Teks liturgis turut menjamin keberadaan dan keberlangsungan perayaan liturgi itu sendiri. Tidak ada liturgi tanpa teks liturgis. Sebagai doa resmi Gereja, maka teks liturgis pun juga harus resmi. Artinya, teks itu diterbitkan atau disahkan oleh Gereja, dalam hal ini oleh Takhta Suci Vatikan. Teks-teks yang sudah disahkan itu diwujudkan dalam suatu buku liturgis resmi (Latin: libri liturgici, Inggris: liturgical books). Ada perbedaan antara “buku liturgis” dengan “buku liturgi”. Yang satu dengan “s”, yang lainnya tanpa. Beda tipis dalam penulisan, namun makna dan fungsinya berlainan, meskipun keduanya komplementer, bisa saling melengkapi. Dapat dikatakan bahwa “buku liturgi” adalah buku, tulisan, atau bahasan tentang liturgi, termasuk wilayah keilmuan, “teologi kedua” (theologia secunda). Sedangkan “buku liturgis” adalah buku atau teks yang digunakan dalam praktik perayaan liturgi, bagian dari “teologi pertama” (theologia prima). Ada buku liturgis yang memiliki nilai simbolis khusus, yakni Evangeliarium sebagai simbol Kristus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku liturgis untuk Misa: teks bacaan, teks doa&lt;br /&gt;Sumber-sumber tekstual telah digunakan berabad-abad dalam perayaan liturgi. Kita coba bedakan dalam dua jenis utama: teks bacaan dan teks doa. &lt;br /&gt;[1] Teks bacaan atau teks skriptural bersumber dari Kitab Suci resmi Gereja Katolik. Teks-teks itu dikelompokkan menjadi buku-buku liturgis yang dinamai Buku Bacaan Misa (Leksionarium), Kitab Injil (Evangeliarium), dan Mazmur Tanggapan (Responsorium, Graduale). &lt;br /&gt;[2] Teks doa atau teks eukologis (Yunani: euche = doa, dan logos = ilmu) bersumber dari karya-karya para Bapa Gereja (Patristik) atau Magisterium Gereja. Teks-teks eukologis itu dikelompokkan dalam buku liturgis; di antaranya adalah Buku Doa-doa Misa (Sakramentarium), Tata Perayaan Ekaristi (Misale), dan buku untuk perayaan-perayaan khusus (Rituale dan Pontifikale). Ada juga beberapa penulis yang memasukkan bacaan Kitab Suci dan nyanyian biblis ke dalam eukologi. Eukologi termasuk dalam studi tentang teks-teks doa liturgis pada umumnya. Suatu studi tentang hukum-hukum yang mengatur formulasi dan isi doa-doa liturgis dalam buku-buku ritual. Misalnya: [a]  prefasi, doa syukur agung, berkat meriah (mis. atas air untuk baptis), dan doa konsekrasi (mis. atas krisma, tahbisan); [b] doa-doa presidensial (mis. doa pembuka misa, doa persiapan persembahan, doa sesudah komuni, doa untuk jemaat, doa mazmur). Teks eukologis pada dasarnya adalah puitik, metaforik, atau penuh-imaji. Makna doa-doa itu tidak eksak, tapi lebih menawarkan percikan atau malah kiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis teks liturgis lainnya &lt;br /&gt;Dua jenis utama yang telah disebut di atas (teks bacaan dan teks doa) dapat ditambahi lagi dengan beberapa jenis lain. Kita sebut saja satu per satu. &lt;br /&gt;[1] Rubrik: teks pada buku liturgis yang menjelaskan tata laksana perayaan: siapa yang bertugas, apa yang harus disiapkan/digunakan, bagaimana melaksanakannya, dsb. Kata “rubrik” diturunkan dari kata Latin ruber, artinya merah. Dalam buku liturgis resmi biasanya teks itu dicetak dengan huruf merah (ruber), maka teks semacam itu disebut rubrik. Rubrik tidak perlu dibacakan selama perayaan, cukup diketahui oleh petugas atau umat yang harus berpartisipasi aktif. &lt;br /&gt;[2] Ajakan: teks yang dibawakan oleh imam atau petugas lain ini biasanya mendahului doa atau tindakan yang meminta keterlibatan jemaat. Misalnya: “Marilah kita berdoa…; Berdoalah saudara-saudari…; Marilah kita saling menyampaikan…”; dsb. Sifatnya memang mengajak, maka perlu disampaikan dengan ramah dan bersimpati. Demi komunikasi yang hidup, sebaiknya teks semacam ini dibawakan secara spontan, sudah hafal, pandangan petugas tak perlu terpaku pada teks lagi. Jika dilakukan oleh Imam Selebran, ia membawakannya dengan gerak tangan membuka.  &lt;br /&gt;[3] Salam: teks ini biasanya dibawakan oleh Imam Selebran untuk menyapa jemaat dalam kapasitasnya sebagai pribadi Kristus dan pemimpin jemaat (in persona Christi dan in persona Ecclesiae). Dari TPE kita temukan contohnya: “Tuhan bersamamu; Tuhan sertamu.” Teks ini dibawakan dengan gerak tangan membuka, seperti ketika menyampaikan ajakan. Jemaat pun menanggapinya dengan rumusan khusus berupa jawaban atau seruam. &lt;br /&gt;[4] Tanggapan: teks yang dibawakan oleh jemaat ini dapat dibedakan menjadi tanggapan yang berupa “jawaban” dan “seruan”. Teks jawaban untuk menanggapi salam dan ajakan Imam Selebran. Misalnya: “Dan bersama rohmu; Dan sertamu juga.” Sedangkan teks seruan (aklamasi) adalah untuk menegaskan/mengiyakan doa-doa dan berkat yang dibawakan oleh Imam Selebran. Contohnya: “Amin; Aklamasi Kudus; Aklamasi Anamnesis.”  &lt;br /&gt;[5] Renungan:  jenis teks ini biasanya tidak langsung termuat dalam buku liturgis, namun ada kesempatan bagi imam atau petugas untuk membacakannya. Teks yang bersifat renungan ini bisa berupa amanat singkat, homili, atau bacaan rohani yang sesuai dengan misteri perayaannya. &lt;br /&gt;[6] Nyanyian: teks nyanyian perlu juga disajikan secara khusus, entah dalam suatu kumpulan nyanyian-nyanyian (buklet) terlepas yang hanya digunakan untuk perayaan tertentu; atau yang dimasukkan dan menjadi bagian utuh dalam buku perayaan untuk kesempatan tertentu; atau yang disatukan dalam sebuah buku untuk berbagai keperluan (misalnya: Puji Syukur, Yubilate, Madah Bakti, dsb). &lt;br /&gt;[7] Penjelasan: jika rubrik dirasa kurang memadai, kadang kala perlu juga disiapkan teks khusus yang isinya penjelasan bagi jemaat. Teks penjelasan itu dapat dibacakan untuk diketahui jemaat. Penjelasan itu bisa mengenai apa yang harus dilakukan jemaat pada bagian tertentu dalam perayaan, tentang suatu ritus/simbol yang mungkin belum dipahami jemaat. Atau apa pun, asal dimaksudkan untuk membantu jemaat agar bisa lebih menghayati perayaan yang mereka hadiri dan membantu memperlancar jalannya perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks liturgis: dibaca, dibacakan, dibawakan? &lt;br /&gt;Bagaimana memperlakukan teks? Biasanya sudah ditunjukkan dalam rubrik. Ada teks yang oleh pemimpin/petugas dibaca sendiri dalam hati, dibacakan dengan suara lembut, atau dibacakan dengan suara lantang (PUMR 32-33). Jika diberi unsur musikal maka ada teks yang dibawakan dengan cara didaras atau dilagukan (PUMR 38). Ketika dibawakan oleh pelakunya, maka teks itu “mewujudkan diri” bagi pendengarnya. Teks itu menjadi hidup dan menciptakan komunikasi antara pembawa (pembaca!) teks dengan pendengarnya. Jika teks itu adalah suatu doa, maka jemaat yang mendengarkannya pun melibatkan diri dalam doa yang dibawakan si petugas, dan doa itu menjadi doa jemaat juga. Singkatnya, cara memperlakukan teks dapat dibagi menjadi dua: &lt;br /&gt;[1] dibaca: dilakukan sendiri oleh pelakunya, entah sebelum atau dalam perayaan, dan &lt;br /&gt;[2] dibawakan: dilakukan oleh pelakunya dalam perayaan dengan mengeluarkan suara. Ada dua cara bersuara: dengan lembut atau dengan lantang. Yang dengan lembut adalah doa-doa yang diucapkan oleh Imam Selebran, namun tak perlu diperdengarkan kepada jemaat. Jika bersuara dengan lantang, masih ada tiga macam cara lagi: dibacakan, didaraskan, atau dilagukan. Suara lantang dan ucapan yang jelas amat disarankan agar apa yang dibawakan itu mudah ditangkap oleh jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas, “virus verbalisme”!&lt;br /&gt;Istilah verbalisme (Latin: verbum = kata) sesungguhnya berbau negatif. Kita gunakan di sini untuk menggambarkan suatu gejala yang cenderung menampilkan kata-kata secara kurang tepat atau berlebihan sehingga dapat mempengaruhi keindahan perayaan liturgi. Liturgi sendiri sudah mengandung banyak unsur kata. Maka, sebaiknya jangan dibanjiri lagi dengan kata-kata yang tidak penting dan justeru akan menjadi hambatan atau gangguan bagi “arus mengalirnya” perayaan liturgi. Perayaan bisa terasa tersendat-sendat, bertele-tele, atau bahkan terbelokkan maknanya, karena muncul banyak kata-kata yang kurang berdayaguna. Tanpa terasa, kebiasaan yang keliru bisa menjadi seperti virus yang menggerogoti “kesehatan” liturgi. Verbalisme hanya merupakan salah satu contoh virus yang ada dalam praktik berliturgi kita. Masih ada beberapa jenis virus lagi, misalnya klerikalisme, instrumentalisme, ritualisme, rubrikisme, seremonialisme, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja contoh virus verbalisme itu?&lt;br /&gt;Virus verbalisme selalu berkaitan dengan sikap yang keliru dalam memperlakukan kata-kata dalam perayaan liturgi. Semoga contoh-contoh yang sering muncul dalam Misa berikut ini membantu menjelaskan. &lt;br /&gt;[1] Petugas membacakan judul-judul ritus yang sebenarnya adalah bagian dari rubrik, maka tidak perlu disuarakan (Imam: “Doa Umat”; Lektor: “Bacaan Pertama”, “Mazmur Tanggapan [dengan refrein…]”, “Pengumuman”, dsb). Liturgi bukan sejenis upacara sipil kenegaraan yang biasanya menyebut rubrik atau nama-nama bagian yang akan dilakukan petugas/peserta: “Inspektur upacara memasuki/meninggalkan tempat upacara”, “Lagu kebangsaan”, “Pembacaan Pancasila”, “Istirahat di tempaaat, graaak!”, dsb. &lt;br /&gt;[2]  Doa-doa spontan (bukan teks resmi dalam buku liturgis) yang terlalu panjang dan tanpa struktur sehingga terkesan mengulang-ulang gagasan atau seperti mengudar perasaan belaka. Baik imam maupun umat seringkali tidak menyadari bahwa doa semacam itu kurang cocok untuk perayaan bersama yang harus merelatifkan keinginan, selera, dan kemampuan pribadi setiap peserta. Dengan kata lain, pendoa spontan perlu tahu diri di tengah kepentingan bersama. &lt;br /&gt;[3] Homili yang disampaikan oleh Imam/Diakon juga bisa terserang virus verbalisme. Homili yang berkepanjangan, berputar-putar, membingungkan, atau tidak mudah dipahami bisa digolongkan dalam gejala verbalisme ini. &lt;br /&gt;[4] Memasang tulisan pesan (bersifat tematis, moral, biblis) pada dinding, jendela, atau objek tertentu dalam tempat perayaan (ambo, altar), entah dalam bentuk spanduk atau bendera/panji secara tidak permanen, tergantung pada peristiwa atau masa tertentu.  Gejala ini sepertinya mencontoh kebiasaan dalam pertemuan profan, entah sekedar sebagai hiasan atau mengandung unsur persuasif. Liturgi sebaiknya tidak disepadankan dengan pertemuan sosial-politik, yang lazim dipersemarak dengan aneka tulisan propaganda. Kecenderungan “berpropaganda” seperti itu seolah menunjukkan rasa kurang percaya akan daya dan pancaran dari Sabda yang diwartakan selama perayaan itu sendiri.  Sepertinya umat dianggap kurang “begitu cerdas” untuk mampu menyerap dan memetik sendiri apa yang mereka alami dalam liturgi, sampai harus ditunjukkan melalui teks-teks semacam itu apa-apa yang perlu mereka pikirkan dan lakukan….  Kadangkala, teks-teks itu tidak berkaitan langsung dengan misteri atau tema yang sedang dirayakan dalam liturginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyusun teks liturgis?&lt;br /&gt;Seringkali diperlukan teks khusus untuk perayaan liturgis tertentu. Misalnya, untuk misa perkawinan, misa tahbisan, misa kaul, misa pelantikan, ibadat pemberkatan rumah, ibadat arwah, dsb. Beberapa hal perlu diperhatikan bila kita hendak menyusun suatu teks liturgis. &lt;br /&gt;[1] Melihat dulu buku-buku liturgis resmi sebagai acuannya. Ini penting, supaya kita tetap berpegang pada prinsip “liturgi adalah milik bersama, seluruh Gereja universal” dan tidak sesuka hati dalam praktiknya. Buku-buku liturgis yang berkaitan dengan perayaan Misa, misalnya buku Tata Perayaan Ekaristi, Bacaan-bacaan, Penanggalan liturgi, Sakramentarium, dsb. Untuk Misa ritual Perkawinan, kita butuhkan pula buku Tata Perayaan Perkawinan. Untuk Misa Tahbisan, perlu juga dilihat buku Tata Perayaan Tahbisan, dsb. &lt;br /&gt;[2] Memilih ritual/rumusan tekstual yang dibutuhkan untuk perayaan tersebut. Buku liturgis biasanya menawarkan beberapa pilihan pada beberapa ritus/ritual tertentu (misalnya: Cara A/B/C, Cara 1/2/3, dsb). Supaya teks liturgis yang kita siapkan tidak terlalu banyak dan tetap mudah dibaca, maka hanya ritus/doa/nyanyian yang sudah dipilihlah yang perlu kita tampilkan dalam teks liturgis khusus itu.   &lt;br /&gt;[3] Mengunakan peristilahan yang baku dan benar agar tidak menimbulkan salah pengertian atau salah memperlakukan teksnya (misalnya: judul-judul ritual [Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dsb], nama-nama benda/simbol yang digunakan). &lt;br /&gt;[4] Membuat rubrik yang gamblang, mudah  dimengerti, tidak membingungkan, sebaiknya yang tidak perlu dijelaskan lagi. Untuk liturgi yang sudah lazim dirayakan umat, mungkin rubrik tidak perlu dimuat secara lengkap. Biasanya umat sudah hafal dengan baik. Rubrik lengkap itu cukup untuk para petugas saja. Maka, petunjuk-petunjuk praktis dan yang to the point saja yang sebaiknya dicantumkan, misalnya untuk tata geraknya: duduk, berdiri, berlutut, dsb. &lt;br /&gt;[5] Pilihan huruf yang enak dibaca. Jenis dan ukuran huruf bisa saja mempengaruhi jalannya perayaan. Maka, pilihlah yang wajar dan tidak merepotkan kalau dibaca. &lt;br /&gt;[6] Pembedaan jenis atau ukuran huruf. Dengan bentuk yang berbeda diharapkan pembaca dapat memperlakukannya secara tepat. Maka, perlu juga dibedakan apa yang digunakan untuk rubrik (dengan huruf merah atau miring), yang harus dibacakan dan dibawakan (dengan huruf biasa); mana yang judul (tidak perlu dibacakan), mana yang isi (ajakan, salam, doa, bacaan yang dibawakan). &lt;br /&gt;[7] Perlu ada petunjuk praktis di bagian depan, sebelum teks keseluruhan. Sebaiknya jangan dilupakan juga bahwa sebuah petunjuk praktis perlu ditampilkan sebelum seluruh buku/teks dibaca. Petunjuk informatif itu bisa meliputi: buku-buku yang digunakan, singkatan (untuk menyebut petugas, sumber nyanyian, sumber bacaan, dsb), kode angka (untuk menunjukkan saat pindah ke halaman tertentu, nomer ritual, dsb). &lt;br /&gt;[8] Jangan terlalu banyak teks yang harus dipegang atau dilihat jemaat. Amat baguslah jika semua unsur tekstual bisa dimasukkan dalam satu buku liturgis khusus itu. Jadi, dari judul, rubrik, doa, hingga tata gerak dan syair nyanyiannya sudah disajikan dalam satu buku. Hal ini tentu akan mempermudah jemaat dalam merayakan liturgi, tak perlu direpotkan dengan kesibukan buka-tutup buku atau mencari teks dari beberapa buku yang tersedia untuk perayaan itu. Dampaknya adalah perayaan akan terasa lebih mengalir dan lancar. Sebaiknya cukup satu saja buku/teks yang dipegang jemaat, atau paling banyak dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ketelitian dan kerapian&lt;br /&gt;Menyusun buku/teks liturgis bukanlah pekerjaan yang sangat mudah, namun juga tidak terlalu sukar bagi yang sudah terbiasa membuatnya.  Maksud buku/teks liturgis khusus semacam itu adalah untuk membantu memperlancar jalannya perayaan. Maka, perlulah sikap teliti ketika menyiapkannya. Jika ditemukan banyak kesalahan, jelas akan terganggulah keindahan perayaan. Bayangkan, jika sebuah buku liturgis yang disiapkan itu ternyata lupa mencantumkan halaman buku atau judul-judul yang sungguh diperlukan. Saran praktis saja: buku/teks liturgis sebaiknya jangan hanya disiapkan oleh satu orang. Setidaknya, sebelum buku/teks itu digunakan dan diperbanyak untuk umat, perlulah dikoreksi ulang oleh orang lain. Yang menyusun mungkin sudah mengoreksi dan menganggapnya sempurna, tanpa kesalahan. Belum tentu. Mata orang lain mungkin akan lebih awas dan bisa melihat kesalahan atau kekurangan dalam buku/teks itu. Tidak sembarang orang bisa menyiapkan suatu buku/teks liturgis dalam tampilan yang indah. Tampilan yang indah memang sesuatu yang ideal. Kalau tidak bisa mencapainya, cukuplah mengupayakan segi ketelitian dan kerapiannya. Buku/teks yang tanpa salah dan rapi juga sudah menampilkan sisi keindahannya. Maka, cara pengetikan, pilihan jenis huruf, tata letak tulisan dan gambar perlu dipercayakan kepada orang yang cukup kompeten di bidang penerbitan buku atau soal cetak-mencetak. Lebih baik repot sebentar dengan memperhatikan ketelitian dan kerapiannya daripada buku/teks itu malah mengacaukan seluruh perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. H. Suryanugraha, OSC&lt;br /&gt;(seijin Aegidius Eko Aldilanto O. Carm.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-3417655782422489483?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/3417655782422489483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-kata-liturgis_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3417655782422489483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3417655782422489483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-kata-liturgis_08.html' title='TATA KATA LITURGIS'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-7823139505482764838</id><published>2010-02-08T20:36:00.001-08:00</published><updated>2010-02-08T20:36:30.011-08:00</updated><title type='text'>TATA KATA LITURGIS</title><content type='html'>Antara sabda dan kata-kata&lt;br /&gt;Liturgi adalah suatu kegiatan doa bersama dari Gereja. Doa liturgis sebagai doa resmi Gereja adalah salah satu ungkapan yang paling khas, di mana iman Gereja dapat dinyatakan secara sungguh otentik (Edward Schillebeeckx). Dalam liturgi sebagai doa, Gereja menjalin komunikasi dengan Allah, dengan pengantaraan Kristus, Putera-Nya. Kristus adalah Sang Sabda yang menghubungkan umat dengan Allah, Sabda Allah sendiri yang menyapa manusia. Gereja mengimani Kristus, Sabda Allah yang menjadi manusia, dan mengungkapkan imannya itu dalam perayaan kudus yang dipimpin oleh Kristus sendiri. Kehadiran Kristus dalam perayaan liturgis dilambangkan dalam suatu pewartaan Sabda, pembacaan Kitab Suci. Dalam Misa, peristiwa Sabda yang menyapa umat itu diberi tempat secara khusus dalam Liturgi Sabda. Selain itu, tanda kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi juga dinyatakan dalam pribadi imam selebran, roti dan anggur, dan umat yang berkumpul. Dalam tulisan-tulisannya mengenai liturgi sakramen Agustinus memaknai “sabda” dalam tiga arti: Yesus sendiri, Kitab Suci yang diwartakan, dan formula (rumusan doa) sakramental. Arti pertama dan kedua sudah disinggung. Arti ketiga juga penting, bahwa formula sakramental merupakan “sabda” yang menguduskan dan menyelamatkan. Maka, perayaan liturgis sendiri secara simbolis merupakan suatu “peristiwa sabda”, saat Allah berbicara. Namun, lebih daripada itu, Allah dan umat beriman pun saling berkomunikasi dan berdialog. Liturgi tak terjadi searah, melainkan selalu timbal balik. Sebagai peristiwa yang berdimensi ilahi-manusiawi perlulah liturgi itu diungkapkan secara nyata. Cara komunikasi manusiawi dimanfaatkan untuk memenuhi maksud simbolisnya. Allah sendiri telah menggunakan bahasa manusia agar diri-Nya dikenal dan dipahami manusia. Bahasa adalah medium komunikasi diri yang meliputi aneka pengertian: yang simbolis atau yang lugas, yang gestural (gerak, sikap tubuh) atau yang verbal (teks, doa, bacaan, dsb). Allah sendiri juga berbahasa simbolis melalui unsur-unsur yang diambil dari kehidupan manusia (orang, benda, kata, tindakan). Sementara umat tidak bisa tidak harus juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya atau memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya. Salah satunya adalah “kata-kata” atau ungkapan verbal yang dijadikan sarana komunikasi antara umat beriman dengan Allahnya. Ada dua cara pengungkapan “kata-kata”, yakni secara lisan dan tulisan. Jadi, di dalam Misa pun akan selalu kita temui peran “kata-kata” yang amat penting itu. Ada “kata-kata” yang dinyatakan secara lisan tanpa teks acuan yang tertulis, dan ada pula “kata-kata” yang dirumuskan dalam bentuk tulisan. Bagaimana “kata-kata” itu ditata dan berperan dalam Misa? Hal inilah yang akan kita simak satu per satu melalui uraian berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda dan kata-kata sebagai teks liturgis&lt;br /&gt;Sabda (Word) adalah sesuatu yang abstrak. Ia baru ditangkap ketika tertuang dalam tulisan atau diungkapkan dalam kata-kata (words). Sabda Allah tertulis dalam Kitab Suci, maka Kitab Suci disbeut juga Sabda atau Firman Allah. Jika hanya dituliskan dan dibiarkan sebagai tulisan, tanpa dibaca atau diwartakan maka Sabda itu tidak berbicara, tidak bergema, tidak berdaya guna. Dalam perayaan liturgis, Sabda Allah itu dibuat berbicara, supaya berdaya guna bagi yang mendengarkannya, supaya juga ditanggapi oleh yang mendengarkannya. Ketika Kitab Suci dibacakan dalam liturgi maka Allah sendirilah yang sedang bersabda kepada umat-Nya (PUMR 29). Maka, “kata-kata” pun menjadi Sabda yang bisa didengar, dicerna, berguna bagi kehidupan dan keselamatan. Sabda seolah mengerdil dalam kata-kata atau tulisan, namun bisa kembali meraksasa jangkauannya bila tulisan dari Sabda itu diperlakukan semestinya: dihidupkan (lewat dibaca atau dibawakan) dalam liturgi! Dampak dari “tulisan” tentang Sabda bisa ke mana-mana, tak terduga. Tapi, bisa juga tak berdampak apa-apa bagi yang tuli telinga dan hatinya…. Seluk beluk tentang kata ini kemudian harus diamati dalam suatu bidang yang disebut “teks liturgis”. Teks liturgis adalah kata-kata yang digunakan dalam perayaan liturgi. Sabda dan kata-kata yang digunakan dalam liturgi dikelola di bidang itu, agar sungguh mampu berdaya guna bagi setiap peraya liturgi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks dalam buku liturgis resmi&lt;br /&gt;Sebagai kegiatan doa yang dilakukan secara bersama, liturgi memerlukan teks yang pasti dan berlaku untuk setiap peraya selama perayaan. Teks liturgis turut menjamin keberadaan dan keberlangsungan perayaan liturgi itu sendiri. Tidak ada liturgi tanpa teks liturgis. Sebagai doa resmi Gereja, maka teks liturgis pun juga harus resmi. Artinya, teks itu diterbitkan atau disahkan oleh Gereja, dalam hal ini oleh Takhta Suci Vatikan. Teks-teks yang sudah disahkan itu diwujudkan dalam suatu buku liturgis resmi (Latin: libri liturgici, Inggris: liturgical books). Ada perbedaan antara “buku liturgis” dengan “buku liturgi”. Yang satu dengan “s”, yang lainnya tanpa. Beda tipis dalam penulisan, namun makna dan fungsinya berlainan, meskipun keduanya komplementer, bisa saling melengkapi. Dapat dikatakan bahwa “buku liturgi” adalah buku, tulisan, atau bahasan tentang liturgi, termasuk wilayah keilmuan, “teologi kedua” (theologia secunda). Sedangkan “buku liturgis” adalah buku atau teks yang digunakan dalam praktik perayaan liturgi, bagian dari “teologi pertama” (theologia prima). Ada buku liturgis yang memiliki nilai simbolis khusus, yakni Evangeliarium sebagai simbol Kristus sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku liturgis untuk Misa: teks bacaan, teks doa&lt;br /&gt;Sumber-sumber tekstual telah digunakan berabad-abad dalam perayaan liturgi. Kita coba bedakan dalam dua jenis utama: teks bacaan dan teks doa. &lt;br /&gt;[1] Teks bacaan atau teks skriptural bersumber dari Kitab Suci resmi Gereja Katolik. Teks-teks itu dikelompokkan menjadi buku-buku liturgis yang dinamai Buku Bacaan Misa (Leksionarium), Kitab Injil (Evangeliarium), dan Mazmur Tanggapan (Responsorium, Graduale). &lt;br /&gt;[2] Teks doa atau teks eukologis (Yunani: euche = doa, dan logos = ilmu) bersumber dari karya-karya para Bapa Gereja (Patristik) atau Magisterium Gereja. Teks-teks eukologis itu dikelompokkan dalam buku liturgis; di antaranya adalah Buku Doa-doa Misa (Sakramentarium), Tata Perayaan Ekaristi (Misale), dan buku untuk perayaan-perayaan khusus (Rituale dan Pontifikale). Ada juga beberapa penulis yang memasukkan bacaan Kitab Suci dan nyanyian biblis ke dalam eukologi. Eukologi termasuk dalam studi tentang teks-teks doa liturgis pada umumnya. Suatu studi tentang hukum-hukum yang mengatur formulasi dan isi doa-doa liturgis dalam buku-buku ritual. Misalnya: [a]  prefasi, doa syukur agung, berkat meriah (mis. atas air untuk baptis), dan doa konsekrasi (mis. atas krisma, tahbisan); [b] doa-doa presidensial (mis. doa pembuka misa, doa persiapan persembahan, doa sesudah komuni, doa untuk jemaat, doa mazmur). Teks eukologis pada dasarnya adalah puitik, metaforik, atau penuh-imaji. Makna doa-doa itu tidak eksak, tapi lebih menawarkan percikan atau malah kiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis teks liturgis lainnya &lt;br /&gt;Dua jenis utama yang telah disebut di atas (teks bacaan dan teks doa) dapat ditambahi lagi dengan beberapa jenis lain. Kita sebut saja satu per satu. &lt;br /&gt;[1] Rubrik: teks pada buku liturgis yang menjelaskan tata laksana perayaan: siapa yang bertugas, apa yang harus disiapkan/digunakan, bagaimana melaksanakannya, dsb. Kata “rubrik” diturunkan dari kata Latin ruber, artinya merah. Dalam buku liturgis resmi biasanya teks itu dicetak dengan huruf merah (ruber), maka teks semacam itu disebut rubrik. Rubrik tidak perlu dibacakan selama perayaan, cukup diketahui oleh petugas atau umat yang harus berpartisipasi aktif. &lt;br /&gt;[2] Ajakan: teks yang dibawakan oleh imam atau petugas lain ini biasanya mendahului doa atau tindakan yang meminta keterlibatan jemaat. Misalnya: “Marilah kita berdoa…; Berdoalah saudara-saudari…; Marilah kita saling menyampaikan…”; dsb. Sifatnya memang mengajak, maka perlu disampaikan dengan ramah dan bersimpati. Demi komunikasi yang hidup, sebaiknya teks semacam ini dibawakan secara spontan, sudah hafal, pandangan petugas tak perlu terpaku pada teks lagi. Jika dilakukan oleh Imam Selebran, ia membawakannya dengan gerak tangan membuka.  &lt;br /&gt;[3] Salam: teks ini biasanya dibawakan oleh Imam Selebran untuk menyapa jemaat dalam kapasitasnya sebagai pribadi Kristus dan pemimpin jemaat (in persona Christi dan in persona Ecclesiae). Dari TPE kita temukan contohnya: “Tuhan bersamamu; Tuhan sertamu.” Teks ini dibawakan dengan gerak tangan membuka, seperti ketika menyampaikan ajakan. Jemaat pun menanggapinya dengan rumusan khusus berupa jawaban atau seruam. &lt;br /&gt;[4] Tanggapan: teks yang dibawakan oleh jemaat ini dapat dibedakan menjadi tanggapan yang berupa “jawaban” dan “seruan”. Teks jawaban untuk menanggapi salam dan ajakan Imam Selebran. Misalnya: “Dan bersama rohmu; Dan sertamu juga.” Sedangkan teks seruan (aklamasi) adalah untuk menegaskan/mengiyakan doa-doa dan berkat yang dibawakan oleh Imam Selebran. Contohnya: “Amin; Aklamasi Kudus; Aklamasi Anamnesis.”  &lt;br /&gt;[5] Renungan:  jenis teks ini biasanya tidak langsung termuat dalam buku liturgis, namun ada kesempatan bagi imam atau petugas untuk membacakannya. Teks yang bersifat renungan ini bisa berupa amanat singkat, homili, atau bacaan rohani yang sesuai dengan misteri perayaannya. &lt;br /&gt;[6] Nyanyian: teks nyanyian perlu juga disajikan secara khusus, entah dalam suatu kumpulan nyanyian-nyanyian (buklet) terlepas yang hanya digunakan untuk perayaan tertentu; atau yang dimasukkan dan menjadi bagian utuh dalam buku perayaan untuk kesempatan tertentu; atau yang disatukan dalam sebuah buku untuk berbagai keperluan (misalnya: Puji Syukur, Yubilate, Madah Bakti, dsb). &lt;br /&gt;[7] Penjelasan: jika rubrik dirasa kurang memadai, kadang kala perlu juga disiapkan teks khusus yang isinya penjelasan bagi jemaat. Teks penjelasan itu dapat dibacakan untuk diketahui jemaat. Penjelasan itu bisa mengenai apa yang harus dilakukan jemaat pada bagian tertentu dalam perayaan, tentang suatu ritus/simbol yang mungkin belum dipahami jemaat. Atau apa pun, asal dimaksudkan untuk membantu jemaat agar bisa lebih menghayati perayaan yang mereka hadiri dan membantu memperlancar jalannya perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks liturgis: dibaca, dibacakan, dibawakan? &lt;br /&gt;Bagaimana memperlakukan teks? Biasanya sudah ditunjukkan dalam rubrik. Ada teks yang oleh pemimpin/petugas dibaca sendiri dalam hati, dibacakan dengan suara lembut, atau dibacakan dengan suara lantang (PUMR 32-33). Jika diberi unsur musikal maka ada teks yang dibawakan dengan cara didaras atau dilagukan (PUMR 38). Ketika dibawakan oleh pelakunya, maka teks itu “mewujudkan diri” bagi pendengarnya. Teks itu menjadi hidup dan menciptakan komunikasi antara pembawa (pembaca!) teks dengan pendengarnya. Jika teks itu adalah suatu doa, maka jemaat yang mendengarkannya pun melibatkan diri dalam doa yang dibawakan si petugas, dan doa itu menjadi doa jemaat juga. Singkatnya, cara memperlakukan teks dapat dibagi menjadi dua: &lt;br /&gt;[1] dibaca: dilakukan sendiri oleh pelakunya, entah sebelum atau dalam perayaan, dan &lt;br /&gt;[2] dibawakan: dilakukan oleh pelakunya dalam perayaan dengan mengeluarkan suara. Ada dua cara bersuara: dengan lembut atau dengan lantang. Yang dengan lembut adalah doa-doa yang diucapkan oleh Imam Selebran, namun tak perlu diperdengarkan kepada jemaat. Jika bersuara dengan lantang, masih ada tiga macam cara lagi: dibacakan, didaraskan, atau dilagukan. Suara lantang dan ucapan yang jelas amat disarankan agar apa yang dibawakan itu mudah ditangkap oleh jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas, “virus verbalisme”!&lt;br /&gt;Istilah verbalisme (Latin: verbum = kata) sesungguhnya berbau negatif. Kita gunakan di sini untuk menggambarkan suatu gejala yang cenderung menampilkan kata-kata secara kurang tepat atau berlebihan sehingga dapat mempengaruhi keindahan perayaan liturgi. Liturgi sendiri sudah mengandung banyak unsur kata. Maka, sebaiknya jangan dibanjiri lagi dengan kata-kata yang tidak penting dan justeru akan menjadi hambatan atau gangguan bagi “arus mengalirnya” perayaan liturgi. Perayaan bisa terasa tersendat-sendat, bertele-tele, atau bahkan terbelokkan maknanya, karena muncul banyak kata-kata yang kurang berdayaguna. Tanpa terasa, kebiasaan yang keliru bisa menjadi seperti virus yang menggerogoti “kesehatan” liturgi. Verbalisme hanya merupakan salah satu contoh virus yang ada dalam praktik berliturgi kita. Masih ada beberapa jenis virus lagi, misalnya klerikalisme, instrumentalisme, ritualisme, rubrikisme, seremonialisme, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa saja contoh virus verbalisme itu?&lt;br /&gt;Virus verbalisme selalu berkaitan dengan sikap yang keliru dalam memperlakukan kata-kata dalam perayaan liturgi. Semoga contoh-contoh yang sering muncul dalam Misa berikut ini membantu menjelaskan. &lt;br /&gt;[1] Petugas membacakan judul-judul ritus yang sebenarnya adalah bagian dari rubrik, maka tidak perlu disuarakan (Imam: “Doa Umat”; Lektor: “Bacaan Pertama”, “Mazmur Tanggapan [dengan refrein…]”, “Pengumuman”, dsb). Liturgi bukan sejenis upacara sipil kenegaraan yang biasanya menyebut rubrik atau nama-nama bagian yang akan dilakukan petugas/peserta: “Inspektur upacara memasuki/meninggalkan tempat upacara”, “Lagu kebangsaan”, “Pembacaan Pancasila”, “Istirahat di tempaaat, graaak!”, dsb. &lt;br /&gt;[2]  Doa-doa spontan (bukan teks resmi dalam buku liturgis) yang terlalu panjang dan tanpa struktur sehingga terkesan mengulang-ulang gagasan atau seperti mengudar perasaan belaka. Baik imam maupun umat seringkali tidak menyadari bahwa doa semacam itu kurang cocok untuk perayaan bersama yang harus merelatifkan keinginan, selera, dan kemampuan pribadi setiap peserta. Dengan kata lain, pendoa spontan perlu tahu diri di tengah kepentingan bersama. &lt;br /&gt;[3] Homili yang disampaikan oleh Imam/Diakon juga bisa terserang virus verbalisme. Homili yang berkepanjangan, berputar-putar, membingungkan, atau tidak mudah dipahami bisa digolongkan dalam gejala verbalisme ini. &lt;br /&gt;[4] Memasang tulisan pesan (bersifat tematis, moral, biblis) pada dinding, jendela, atau objek tertentu dalam tempat perayaan (ambo, altar), entah dalam bentuk spanduk atau bendera/panji secara tidak permanen, tergantung pada peristiwa atau masa tertentu.  Gejala ini sepertinya mencontoh kebiasaan dalam pertemuan profan, entah sekedar sebagai hiasan atau mengandung unsur persuasif. Liturgi sebaiknya tidak disepadankan dengan pertemuan sosial-politik, yang lazim dipersemarak dengan aneka tulisan propaganda. Kecenderungan “berpropaganda” seperti itu seolah menunjukkan rasa kurang percaya akan daya dan pancaran dari Sabda yang diwartakan selama perayaan itu sendiri.  Sepertinya umat dianggap kurang “begitu cerdas” untuk mampu menyerap dan memetik sendiri apa yang mereka alami dalam liturgi, sampai harus ditunjukkan melalui teks-teks semacam itu apa-apa yang perlu mereka pikirkan dan lakukan….  Kadangkala, teks-teks itu tidak berkaitan langsung dengan misteri atau tema yang sedang dirayakan dalam liturginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menyusun teks liturgis?&lt;br /&gt;Seringkali diperlukan teks khusus untuk perayaan liturgis tertentu. Misalnya, untuk misa perkawinan, misa tahbisan, misa kaul, misa pelantikan, ibadat pemberkatan rumah, ibadat arwah, dsb. Beberapa hal perlu diperhatikan bila kita hendak menyusun suatu teks liturgis. &lt;br /&gt;[1] Melihat dulu buku-buku liturgis resmi sebagai acuannya. Ini penting, supaya kita tetap berpegang pada prinsip “liturgi adalah milik bersama, seluruh Gereja universal” dan tidak sesuka hati dalam praktiknya. Buku-buku liturgis yang berkaitan dengan perayaan Misa, misalnya buku Tata Perayaan Ekaristi, Bacaan-bacaan, Penanggalan liturgi, Sakramentarium, dsb. Untuk Misa ritual Perkawinan, kita butuhkan pula buku Tata Perayaan Perkawinan. Untuk Misa Tahbisan, perlu juga dilihat buku Tata Perayaan Tahbisan, dsb. &lt;br /&gt;[2] Memilih ritual/rumusan tekstual yang dibutuhkan untuk perayaan tersebut. Buku liturgis biasanya menawarkan beberapa pilihan pada beberapa ritus/ritual tertentu (misalnya: Cara A/B/C, Cara 1/2/3, dsb). Supaya teks liturgis yang kita siapkan tidak terlalu banyak dan tetap mudah dibaca, maka hanya ritus/doa/nyanyian yang sudah dipilihlah yang perlu kita tampilkan dalam teks liturgis khusus itu.   &lt;br /&gt;[3] Mengunakan peristilahan yang baku dan benar agar tidak menimbulkan salah pengertian atau salah memperlakukan teksnya (misalnya: judul-judul ritual [Ritus Pembuka, Liturgi Sabda, Liturgi Ekaristi, dsb], nama-nama benda/simbol yang digunakan). &lt;br /&gt;[4] Membuat rubrik yang gamblang, mudah  dimengerti, tidak membingungkan, sebaiknya yang tidak perlu dijelaskan lagi. Untuk liturgi yang sudah lazim dirayakan umat, mungkin rubrik tidak perlu dimuat secara lengkap. Biasanya umat sudah hafal dengan baik. Rubrik lengkap itu cukup untuk para petugas saja. Maka, petunjuk-petunjuk praktis dan yang to the point saja yang sebaiknya dicantumkan, misalnya untuk tata geraknya: duduk, berdiri, berlutut, dsb. &lt;br /&gt;[5] Pilihan huruf yang enak dibaca. Jenis dan ukuran huruf bisa saja mempengaruhi jalannya perayaan. Maka, pilihlah yang wajar dan tidak merepotkan kalau dibaca. &lt;br /&gt;[6] Pembedaan jenis atau ukuran huruf. Dengan bentuk yang berbeda diharapkan pembaca dapat memperlakukannya secara tepat. Maka, perlu juga dibedakan apa yang digunakan untuk rubrik (dengan huruf merah atau miring), yang harus dibacakan dan dibawakan (dengan huruf biasa); mana yang judul (tidak perlu dibacakan), mana yang isi (ajakan, salam, doa, bacaan yang dibawakan). &lt;br /&gt;[7] Perlu ada petunjuk praktis di bagian depan, sebelum teks keseluruhan. Sebaiknya jangan dilupakan juga bahwa sebuah petunjuk praktis perlu ditampilkan sebelum seluruh buku/teks dibaca. Petunjuk informatif itu bisa meliputi: buku-buku yang digunakan, singkatan (untuk menyebut petugas, sumber nyanyian, sumber bacaan, dsb), kode angka (untuk menunjukkan saat pindah ke halaman tertentu, nomer ritual, dsb). &lt;br /&gt;[8] Jangan terlalu banyak teks yang harus dipegang atau dilihat jemaat. Amat baguslah jika semua unsur tekstual bisa dimasukkan dalam satu buku liturgis khusus itu. Jadi, dari judul, rubrik, doa, hingga tata gerak dan syair nyanyiannya sudah disajikan dalam satu buku. Hal ini tentu akan mempermudah jemaat dalam merayakan liturgi, tak perlu direpotkan dengan kesibukan buka-tutup buku atau mencari teks dari beberapa buku yang tersedia untuk perayaan itu. Dampaknya adalah perayaan akan terasa lebih mengalir dan lancar. Sebaiknya cukup satu saja buku/teks yang dipegang jemaat, atau paling banyak dua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu ketelitian dan kerapian&lt;br /&gt;Menyusun buku/teks liturgis bukanlah pekerjaan yang sangat mudah, namun juga tidak terlalu sukar bagi yang sudah terbiasa membuatnya.  Maksud buku/teks liturgis khusus semacam itu adalah untuk membantu memperlancar jalannya perayaan. Maka, perlulah sikap teliti ketika menyiapkannya. Jika ditemukan banyak kesalahan, jelas akan terganggulah keindahan perayaan. Bayangkan, jika sebuah buku liturgis yang disiapkan itu ternyata lupa mencantumkan halaman buku atau judul-judul yang sungguh diperlukan. Saran praktis saja: buku/teks liturgis sebaiknya jangan hanya disiapkan oleh satu orang. Setidaknya, sebelum buku/teks itu digunakan dan diperbanyak untuk umat, perlulah dikoreksi ulang oleh orang lain. Yang menyusun mungkin sudah mengoreksi dan menganggapnya sempurna, tanpa kesalahan. Belum tentu. Mata orang lain mungkin akan lebih awas dan bisa melihat kesalahan atau kekurangan dalam buku/teks itu. Tidak sembarang orang bisa menyiapkan suatu buku/teks liturgis dalam tampilan yang indah. Tampilan yang indah memang sesuatu yang ideal. Kalau tidak bisa mencapainya, cukuplah mengupayakan segi ketelitian dan kerapiannya. Buku/teks yang tanpa salah dan rapi juga sudah menampilkan sisi keindahannya. Maka, cara pengetikan, pilihan jenis huruf, tata letak tulisan dan gambar perlu dipercayakan kepada orang yang cukup kompeten di bidang penerbitan buku atau soal cetak-mencetak. Lebih baik repot sebentar dengan memperhatikan ketelitian dan kerapiannya daripada buku/teks itu malah mengacaukan seluruh perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. H. Suryanugraha, OSC&lt;br /&gt;(seijin Aegidius Eko Aldilanto O. Carm.)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-7823139505482764838?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/7823139505482764838/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-kata-liturgis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7823139505482764838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7823139505482764838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-kata-liturgis.html' title='TATA KATA LITURGIS'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6676209447557453935</id><published>2010-02-06T05:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T05:54:08.958-08:00</updated><title type='text'>Sekilas tentang: Tata Perayaan Ekaristi `Recognitio'</title><content type='html'>Pada “Tahun Ekaristi” 2005 ini, Gereja Katolik Indonesia mulai menggunakan Tata Perayaan Ekaristi (TPE) baru. Tepatnya mulai berlaku pada saat dipromulgasikan secara resmi oleh Konferensi Waligereja Indonesia pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 29 Mei 2005, dengan masa peralihan hingga Hari Minggu Pertama Adven, 27 November 2005.&lt;br /&gt;MENGAPA TPE BARU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TPE lama dipakai sejak tahun 1979 sebagai `ad experimentum' (= edisi percobaan) dan belum memperoleh `recognitio' (= pengakuan) dari Tahta Suci; sifatnya sementara. TPE baru telah menerima `approbatio' (= persetujuan) dari para Bapa Uskup seluruh Indonesia dan menerima `recognitio' dari Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen di Vatikan Roma; sifatnya tetap dan definitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA TUJUANNYA?     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari perubahan ini adalah menyesuaikan dengan dokumen, ketentuan dan pedoman Liturgi Gereja Universal berkaitan dengan Ekaristi, agar bersama seluruh Gereja Universal kita merayakan misteri kehadiran Tuhan dalam Ekaristi yang luhur itu dengan sikap batin dan tata cara yang penuh hormat dan khidmat.&lt;br /&gt;TPE LAMA VS TPE BARU: APANYA YANG BEDA?    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berubah dalam “TPE Rekonyisi” (= recognitio) bukanlah tata perayaannya, tetapi teksnya baik dalam rubrik maupun doa-doa. TPE yang baru jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan secara teologis, liturgis, dan pastoral, serta lebih setia dan sesuai dengan teks Latinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan paling pokok terletak pada bagian Doa Syukur Agung (DSA). Dalam TPE lama, kita menggunakan model dialogis dan partisipatif, di mana umat ikut mendoakan secara vokal bagian-bagian tertentu dalam DSA. Dalam TPE baru, hanya imam yang mendoakan DSA, sebab DSA merupakan doa presidensial, yaitu doa yang hanya diucapkan oleh pemimpin Ekaristi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Doa-doa itu disampaikan oleh imam kepada Allah atas nama seluruh umat kudus dan semua yang hadir, dan melalui dia Kristus Sendiri memimpin himpunan umat. Oleh karena itu, doa-doa tersebut disebut `doa presidensial' (doa pemimpin)” (Pedoman Umum Missale Romawi #30).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partisipasi umat mengucapkan bagian-bagian tertentu dari DSA kurang selaras dengan prinsip partisipasi “menurut tugas dan peran masing-masing” (PUMR #17).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI, UMAT HANYA `MENONTON' MISA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Umat, sesuai perannya, terlibat aktif dalam Perayaan Ekaristi, baik dalam DSA maupun dalam keseluruhan Misa Kudus. Dalam DSA, umat terlibat aktif melalui aklamasi pada dialog pembuka prefasi, kudus, aklamasi anamnese, dan aklamasi AMIN meriah pada akhir Doxologi penutup. Dalam keseluruhan Misa Kudus, umat terlibat aktif melalui doa-doa, sikap batin dan tata cara yang pantas, hormat dan khidmat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA BENTUK JAWABAN DAN AKLAMASI YANG DIMAKSUD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam TPE baru, imam yang memimpin Perayaan Ekaristi `in persona Christi' (= bertindak selaku pribadi Kristus), menyapa umat bukan dengan “Semoga Tuhan beserta kita” seperti pada TPE lama, melainkan dengan “Tuhan bersamamu” atau “Tuhan sertamu” (`Dominus vobiscum'). Umat menanggapi sapaan imam dengan, “Dan sertamu juga” atau rumus baru “Dan bersama rohmu” (`Et cum spiritu tuo').&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6676209447557453935?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6676209447557453935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/sekilas-tentang-tata-perayaan-ekaristi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6676209447557453935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6676209447557453935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/sekilas-tentang-tata-perayaan-ekaristi.html' title='Sekilas tentang: Tata Perayaan Ekaristi `Recognitio&apos;'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-3114755986869166185</id><published>2010-02-06T05:52:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T05:53:02.594-08:00</updated><title type='text'>APPROBATIO DAN RECOGNITIO</title><content type='html'>APPROBATIO DAN RECOGNITIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang liturgi ada buku-buku edisi acuan (editio typica) yang harus mendapat approbatio dan recognitio. Approbatio berarti persetujuan dari pimpinan Gereja setempat (Uskup atau Konferensi Keuskupan). Misalnya: Tata Perayaan Ekaristi sebagai terjemahan dari Ordo Missae yang adalah sebuah edisi acuan haruslah disetujui oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). Para Uskup bersama-sama membaca teks terjemahan, memberikan usul-saran perbaikan atau penyempurnaan dan mendiskusikannya lalu mengambil keputusan untuk menyetujuinya bersama atau menolaknya. Bila disetujui lewat voting atau aklamasi, maka teks TPE mendapat approbatio dari KWI dan harus diajukan ke Roma untuk memperoleh recognitio. (Rm. Bernard Boli Ujan, SVD)&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Recognitio berarti pemeriksaan atas teks-teks liturgi yang dilakukan oleh pimpinan Gereja di Roma, yaitu Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen percaya pada hasil kerja pimpinan Gereja setempat (approbatio) dan dalam hal-hal yang paling pokok dan penting dibuat pemeriksaan teliti demi menjamin ketepatan dan kebenaran iman. Seluruh proses ini dipandang sebagai proses pengesahan sebuah teks baku dalam bidang liturgi. Patut kita ingat bahwa teks yang dipakai dalam liturgi mengungkapkan iman dan mempengaruhi tindakan nyata. Kalau teks tidak tepat, sadar atau tidak keyakinan iman dan tindakan nyata turut dipengaruhi oleh teks seperti itu. Dalam hal ini berlakulah pepatah: lex orandi adalah lex credendi dan lex vivendi. Apa yang dirumuskan dalam doa liturgis haruslah sesuai dengan rumusan-rumusan iman dan menjadi pedoman untuk tindakan nyata dalam hidup sehari-hari. (Rm. Bernard Boli Ujan, SVD)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-3114755986869166185?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/3114755986869166185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/approbatio-dan-recognitio.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3114755986869166185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3114755986869166185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/approbatio-dan-recognitio.html' title='APPROBATIO DAN RECOGNITIO'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6733420574616070465</id><published>2010-02-06T05:40:00.002-08:00</published><updated>2010-02-06T05:41:53.621-08:00</updated><title type='text'>Sharing lagi tentang tata gerak liturgi</title><content type='html'>Saat saya mencermati buku terbitan Keuskupan Agung Semarang yang berjudul "Pedoman Pelayanan Pastoral Liturgi", hal yang berkaitan dengan tata gerak tertulis begini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1. Tata gerak dalam perayaan liturgi mengungkapkan hidup dan sikap batin yang mau menanggapi kehadiran Allah yang menyelamatkan. Maka yang paling penting diperhatikan adalah hidup dan sikap batin yang pantas, dan dari hidup batin itulah mengalir tata gerak yang lahiriah. (nah.. kalimat berikut ini yang penting &gt;&gt;) MELAKSANAKAN ATURAN TATA GERAK DEMI ATURAN ITU SENDIRI TENTU BUKAN SIKAP YANG TEPAT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. PUMR menyatakan bahwa tata gerak yang disebut dalam TPE bersifat DIANJURKAN dan BUKAN DIWAJIBKAN. Oleh karena itu tata gerak dalam Perayaan Ekaristi di KAS dapat DISESUAIKAN dengan situasi dan kondisi jemaat dan tempat perayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Yang memberi huruf besar semua pada kata tertentu bukan dari buku tersebut, tapi dari saya sendiri sebatas untuk menegaskan, bahwa tata gerak berasal dari hidup dan sikap batin yang pantas, bukan keharusan tapi dianjurkan dan jika kita melakukan tata gerak tersebut karena aturan dan bukan dari sikap batin, tentu hal ini tidak tepat. begitu menurut saya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6733420574616070465?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6733420574616070465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/sharing-lagi-tentang-tata-gerak-liturgi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6733420574616070465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6733420574616070465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/sharing-lagi-tentang-tata-gerak-liturgi.html' title='Sharing lagi tentang tata gerak liturgi'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-1437871089904499221</id><published>2010-02-06T05:40:00.001-08:00</published><updated>2010-02-06T05:40:29.838-08:00</updated><title type='text'>TATA GERAK IMAM DAN PELAYAN ALTAR</title><content type='html'>PUMR 274 :&lt;br /&gt;Berlutut, yakni tata gerak yang dilakukan dengan menekuk lutut kanan sampai menyentuh lantai, merupakan tanda sembah sujud. Oleh karena itu, berlutut dikhususkan untuk menghormati Sakramen Mahakudus dan Salib Suci yang digunakan dalam Liturgi Jumat Agung sampai sebelum memasuki Misa Malam Paskah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Misa, hanya tiga kali imam berlutut, yaitu pada saat konsekrasi sesudah memperlihatkan hosti dan sesudah menunjukkan piala, dan sebelum imam menyanbut Tubuh Kristus. Ketentuan-ketentuan khusus untuk Misa konselebrasi dipaparkan pada tempat yang bersangkutan (bdk.no.210-251).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di panti imam ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar perayaan Ekaristi, setiap kali lewat di depan Sakramen Mahakudus, orang berlutut, kecuali kalau mereka sedang dalam perarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelayan yang membawa salib perarakan atau lilin menundukkan kepala sebagai ganti berlutut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUMR 275&lt;br /&gt;275. Di samping berlutut, ada juga tata gerak membungkuk dan menundukkan kepala. Keduanya merupakan tanda penghormatan kepada orang atau barang yang merupakan representasi pribadi tertentu.&lt;br /&gt;a. Menundukkan kepala dilakukan waktu mengucapkan nama Tritunggal Mahakudus, nama Yesus, nama Santa Perawan Maria, dan nama santo / santa yang diperingati dalam Misa yang bersangkutan.&lt;br /&gt;b. Membungkukkan badan atau membungkuk khidmat dilakukan waktu&lt;br /&gt;(1) menghormati altar;&lt;br /&gt;(2) sebelum memaklumkan Injil, waktu mengucapkan doa "sucikanlah hati dan budiku, ya Allah yang mahakuasa"&lt;br /&gt;(3) dalam syahadat, waktu mengucapkan kata-kata "Ia dikandung dari Roh Kudus dan Ia menjadi manusia";&lt;br /&gt;(4) dalam persiapan persembahan, waktu mengucapkan doa "Dengan rendah hati dan tulus";&lt;br /&gt;(5) dalam Kanon Romawi pada kata-kata "Allah yang mahakuasa, utuslah malaikat-Mu"&lt;br /&gt;Membungkuk juga dilakukan oleh diakon waktu minta berkat kepada imam sebelum mewartakan Injil. Kecuali itu, imam juga membungkuk sedikit waktu mengucapkan kata-kata Tuhan pada saat konsekrasi: "Terimalah "&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-1437871089904499221?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/1437871089904499221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-gerak-imam-dan-pelayan-altar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1437871089904499221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1437871089904499221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tata-gerak-imam-dan-pelayan-altar.html' title='TATA GERAK IMAM DAN PELAYAN ALTAR'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-1484425421164605498</id><published>2010-02-06T05:38:00.000-08:00</published><updated>2010-02-06T05:39:22.087-08:00</updated><title type='text'>Rupa-rupa Aktivitas liturgi kita 1</title><content type='html'>Berdasarkan Missale Romanum, editor typica, Typis Polyglottis Vaticanis 2002 sekaligus sebagai revisi dari TPE yang diterbitkan PWI – Liturgi 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arti Simbol&lt;br /&gt;Tanda Salib: Dibuat ketika&lt;br /&gt;1. Memasuki gereja sambil menandai diri dengan air suci yang ada di samping pintu masuk gereja sebagai tanda peringatan pembaptisan yang kita terima.&lt;br /&gt;2. Mengawali dan mengakhiri Perayaan Ekaristi.&lt;br /&gt;3. Menerima percikan air suci kalau dibuat sebagai pengganti Pernyataan Tobat. Tanda tersebut mengungkapkan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaankita pada janji baptis.&lt;br /&gt;4. Memulai bacaan Injil dengan membuat tanda salib pada dahi, mulut dan dada, untuk mengungkap hasrat agar budi diterangi, mulut disanggupkan untuk mewartakan, dan hati diresapi oleh Sabda Tuhan.&lt;br /&gt;5. Menerima berkat pengutusan pada bagian Penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri: dilakukan ketika&lt;br /&gt;1. Menyambut Imam dan para Pelayan yang berarak menuju ruang altar. Sikap ini menunjukan penghormatan kepada Allah yang datang dan hadir di tengah-tengah Umat. Dari awal hingga Doa Pembuka, kita mengambil sikap berdiri (Tobat: hendaknya berlutut apabila dimungkinkan).&lt;br /&gt;2. Pemaklumam injil sebagai tanda hormat pada Tuhan Yesus Kristus yang bangkit mulia dan yang hendak memaklumkan sabda-Nya.&lt;br /&gt;3. Mengucapkan Syahadat untuk memperbarui pengakuan iman sebagai tanda kesediaan menjadi saksi iman.&lt;br /&gt;4. Menyampaikan Doa Umat, sebagai tanda hormat kepada Allah yang setia mendengarkan dan mengabulkan doa-doa Umat.&lt;br /&gt;5. Memulai Doa Syukur Agung (Prefasi) hingga Kudus sebagai tanda hormat dan syukur kepada Allah.&lt;br /&gt;6. Mengucapkan/menyanyikan Bapa Kami sebagai tanda pujian dan permohonan.&lt;br /&gt;7. Imam mengucapkan Doa Sesudah Komuni sebagai tanda syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlutut: dilakukan ketika&lt;br /&gt;1. Mengucapkan Doa Tobat untuk menunjukkan sikap kerendahan hati dan permohonan ampun.&lt;br /&gt;2. Mengucapkan “...Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria” (Syahadat Para Rasul) khusus pada hari raya Natal, sebagai tanda ungkapan iman yang mendalam.&lt;br /&gt;3. Imam mendoakan kisah institusi (kisah Perjamuan Tuhan) dalam Doa Syukur Agung, termasuk di dalamnya kata-kata konsekrasi, sebagai tanda hormat dan pujian.&lt;br /&gt;4. Mempersiapkan pada waktu akan menyambut komuni dan meresapkan kehadiran Tuhan Yesus di dalam hati pada waktu telah menyambut komuni sebagai sikap sembah sujud untuk hormat kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Berlutut/Berdiri: Umat diharapkan berlutut; apabila tidak memungkinkan, Umat hendaknya berdiri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menebah Dada (baca: menepuk dada) dibuat ketika mengucapkan kata-kata “...saya berdosa, saya sungguh berdosa ...” pada Pernyataan Doa Tobat “Saya mengaku” (Ritus Pembuka) tanda tobat dan penyesalan.&lt;br /&gt;Menyembah: dilakukan ketika Imam mengangkat Tubuh dan Darah Kristus setelah mengucapkan kata-kata konsekrasi sebagai tanda hormat dan bakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menundukan kepala: dilakukan ketika&lt;br /&gt;1. Iman selesai mengangkat Tubuh dan Darah Kristus, sesudah mengucapkan kata-kata konsekrasi, sebagai tanda hormat dan bakti pada Tuhan.&lt;br /&gt;2. Menerima berkat sebagai tanda kesediaan dan kerendahan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membungkuk: dilakukan ketika mengucapkan “Ia dikandung dari Roh Kudus dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia” (Syahadat Nikea – Konstantinopel) atau “yang dikandung dari Roh Kudus dan dilahirkan oleh Perawan Maria” (Syahadat Para Rasul) sebagai tanda ungkapan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengatupkan tangan: dibuat ketika akan menyambut komuni (mengatupkan tangan di dada) sebagai ungkapan kesetiaan kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk: dilakukan ketika&lt;br /&gt;1. Kitab Suci dibacakan (selain Injil) sebagai ungkapan kesediaan mendengar dan merenungkan Sabda Tuhan.&lt;br /&gt;2. Persiapan persembahan sebagai ungkapan kesediaan memberi diri kepada Tuhan dengan penuh penyerahan.&lt;br /&gt;3. Petugas membacakan pengumuman sebagai ungkapan kesediaan mendengarkan dan melaksanakan tugas kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-1484425421164605498?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/1484425421164605498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/rupa-rupa-aktivitas-liturgi-kita-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1484425421164605498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1484425421164605498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/rupa-rupa-aktivitas-liturgi-kita-1.html' title='Rupa-rupa Aktivitas liturgi kita 1'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-3932070123171445126</id><published>2010-02-06T05:31:00.001-08:00</published><updated>2010-02-06T05:31:49.626-08:00</updated><title type='text'>Uskup Kojuator</title><content type='html'>Uskup Kojuator&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2009 bertepatan dengan Gereja Kudus merayakan Pesta Santo Simon dan Santo Yudas Tadeus  Rasul telah diadakan Perayaan Ekaristi Penerimaan Uskup Agung Koajutor : Mgr. Ignatius Suharyo di Gereja Katedral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan Ekaristi dihadiri oleh 23 Uskup dan Uskup Agung, antara lain dari Keuskupan Medan, Padang (Ketua KWI), Lampung, Bogor, Bandung, Purwokerto, Surabaya, Malang, Bali, Ketapang, Sangau, Sintang, Timika , Uskup Agung Jakarta  Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ, Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Tahta Suci (Duta besar Vatikan untuk Indonesia: Mgr. Leopolito, dan lain keuskupan lagi, sejumlah besar imam, biarawan-biarawati dan umat KAJ dan KAS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Agung: biasa juga disebut metropolit. Ia bertugas menggembalakan suatu keuskupan agung sebagai uskupnya dan mengetuai suatu provinsi gerejawi.  Di Indonesia ada sepuluh keuskupan agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Koajutor : Uskup Bantu yang mempunyai hak menggantikan Uskup Diosesan kalau Uskup Diosesan meletakkan jabatan atas alasan yang berbeda-beda (Kitab Hukum Kanonik 403, ay 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uskup Koajutor berbeda dengan Uskup Auksilier. Uskup ini juga disebut uskup bantu , yang diangkat oleh Paus atas permintaan Uskup Diosesan karena kebutuhan-kebutuhan pastoral di keuskupan tersebut. Uskup Auksilier tidak mempunyai hak mengganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil singkat Uskup Agung Koajutor:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mgr. Ignatius Suharyo dilahirkan di Sedayu, Yogyakarta pada tgl         9 Juli 1950. Ditahbiskan menjadi imam Keuskupan Agung Semarang:              26 Januari 1976; Ditahbiskan menjadi Uskup Agung KAS:                             22 Agustus 1997; Ditunjuk menjadi Uskup Militer: 2 Jan 2006 dan Uskup Agung Koajutor KAJ: 25 Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motto: “Serviens Domino Cum Omni Humilitate “(Act 20:19), yaitu: “Aku melayani Tuhan dengan segala rendah hati” (Kis 20:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: berbagai macam sumber dan the Catholic Way&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-3932070123171445126?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/3932070123171445126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/uskup-kojuator.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3932070123171445126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3932070123171445126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/uskup-kojuator.html' title='Uskup Kojuator'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-4842665264532845710</id><published>2010-02-06T05:28:00.001-08:00</published><updated>2010-02-06T05:28:34.469-08:00</updated><title type='text'>DOA UNTUK PARA IMAM</title><content type='html'>DOA UNTUK PARA IMAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan terkasih, Bapa Pengasih, aku berdoa kepadaMu;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindungilah para imam GerejaMu, sebab mereka itu milikMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah hidup mereka terbakar luluh di atas altarMu yang suci,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebab mereka telah disucikan dan menyucikan diri bagiMu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindungilah mereka sebab mereka berada di tengah dunia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meskipun mereka bukan dari dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukkanlah mereka dalam lubuk hatiMu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bila nikmat duniawi menggoda dan memikat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lindungilah dan hiburlah mereka dalam saat-saat sepi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susah derita dan bila pengorbanan hidupnya nampak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah ya Tuhan tak seorangpun kecuali Engkau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang menjadi pemiliknya yang sah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan walaupun mereka Kauberi pangilan ilahi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tetapi tetaplah mereka memiliki hati insani,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan segala kerapuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Bapa terkasih, lindungilah mereka bagaikan biji mataMu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan peliharalah mereka bagaikan hosti tanpa noda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga setiap hari, pikiran dan perbuatannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aman terjaga dan menjadi teladan indah bagi seluruh umatMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan terkasih, sudilah memberkati mereka senantiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpujilah Engkau yang telah memanggil dan mengutus mereka;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terpujilah Engkau yang tetap mendampingi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan memampukan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Hati Kudus Imam Agung Yesus. kasihanilah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Hati Tersuci Maria Ratu Para Imam, doanlah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santo Yohanes Maria Viannev. doakanlah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Panitia Tahun Imam KAJ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-4842665264532845710?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/4842665264532845710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/doa-untuk-para-imam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4842665264532845710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4842665264532845710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/doa-untuk-para-imam.html' title='DOA UNTUK PARA IMAM'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-8087797457452816226</id><published>2010-02-04T21:15:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T21:20:45.009-08:00</updated><title type='text'>PERAYAAN-PERAYAAN LITURGIS  SELAMA PEKAN SUCI DAN TRIHARI PASKAH  C.H. Suryanugraha, OSC Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung</title><content type='html'>PRAWACANA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki masa Trihari Paskah (Triduum Paschale, TP)  Gereja mengalami suatu masa tobat dan puasa yang disebut dengan Masa Prapaskah (Tempus Quadragesimae, TQ). Pada hari-hari terakhir Masa Prapaskah dan menjelang Trihari Paskah masih terdapat suatu masa yang cukup penting, yakni Pekan Suci (Hebdomada Sancta, HS). Pekan Suci diawali dengan Misa Pengenangan Sengsara Tuhan pada perayaan Minggu Palma atau Minggu Sengsara.  Kamis Putih menjelang Misa Perjamuan [Malam]  Tuhan sekaligus merupakan akhir Masa Prapaskah dan Pekan Suci. Selama Trihari Paskah Gereja merayakan misteri-misteri terbesar karya penebusan.  Perayaan Trihari Paskah merupakan puncak Tahun Liturgi. Rangkaian Trihari Paskah itu dimulai dengan Misa Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih sore dan berakhir dengan Ibadat Sore II Hari Minggu Paskah. Saat-saat itu Gereja mengenangkan peristiwa penyaliban (sengsara), pemakaman (wafat), dan kebangkitan Kristus. Ada satu garis ritual yang utuh: awal, puncak, dan penutup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini hanya ingin menyampaikan kekayaan perayaan-perayaan liturgis Pekan Suci dan Trihari Paskah itu dalam cara yang amat sederhana. Ibaratnya seorang siswa atau mahasiswa yang membuat catatan ringkas hal-hal penting yang perlu diingatnya sebelum menghadapi ujian. Cara ini mungkin akan membantu, mudah dijadikan sebagai pegangan sebelum kita mempersiapkan liturgi-liturgi Pekan Suci dan Trihari Paskah yang biasanya amat menyita pikiran, tenaga, dan waktu kita. Maka dari itu setiap hari liturgis akan dijelaskan secara cukup rinci to the point, lengkap dengan hal-hal penting yang perlu diketahui. Pemaparan beranjak dari makna, ketentuan liturgis, susunan liturgi, bacaan-bacaan liturgis, hingga unsur-unsur khas masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah bagan (lihat berikut ini) akan membantu kita untuk lebih dapat memahami tempat Pekan Suci dan Trihari Paskah (Hari Liturgis) dalam konteks penghitungan waktu profan, waktu sebagaimana kebanyakan orang memahaminya (Hari Umum). Masih banyak yang kurang tepat dalam menghitung. Hari-hari apa saja sesungguhnya yang termasuk dalam masa Pekan Suci dan Trihari Paskah? Kapan Pekan Suci dan Trihari Paskah itu dimulai dan diakhiri?   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis-jenis kegiatan umat, baik yang liturgis maupun paraliturgis, juga kami cantumkan (Kegiatan Liturgis/Paraliturgis). Tentu saja yang kami tampilkan adalah yang kurang lebih ideal, jenis-jenis kegiatan yang sebaiknya dilakukan pada hari-hari tertentu karena mengandung makna yang selaras, tidak rancu, dan menjaga alur perayaan selama beberapa hari liturgis yang istimewa itu. Yang ideal memang tidak atau belum selalu berarti yang dipraktikkan juga oleh umat atau Gereja di paroki-paroki selama Pekan Suci dan Trihari Paskah. Kegiatan-kegiatan liturgis selama Pekan Suci dan Trihari Paskah amat beragam dan kaya simbolisme. Tanpa mengecilkan arti keberadaan yang lain, kegiatan liturgis utama (nomer tebal: 1, 4,  5, 7, 10, 11) yang biasanya dibanjiri umat tentu amat perlu kita perhatikan secara khusus. Meskipun hanya menyebutkan dan tanpa menguraikan, kegiatan-kegiatan paraliturgis juga kami tampilkan, karena kegiatan-kegiatan semacam itu masih dikenal dan dirindukan umat. Terlebih, kegiatan paraliturgis tetap diharapkan membantu penghayatan umat akan perayaan liturgis, terutama spiritualitas yang terkandung di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garis-garis terputus di bawah nama Hari Umum menandakan batas antara hari umum yang sebelum dengan yang berikutnya. Masa Trihari Paskah dibingkai dengan garis ganda. Di dalamnya, garis-garis terputus di bawah tulisan Hari Liturgis menandakan batas Hari Umum. Berarti juga bahwa kegiatan-kegiatan liturgis/paraliturgis dapat berlangsung selama masa transisi dari hari yang satu ke hari berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian dari hari ke hari selama Pekan Suci dan Trihari Paskah dapat diikuti dalam bagian-bagian berikut. Perayaan-perayaan liturgis Pekan Suci dan Trihari Paskah yang akan diutamakan karena  memang hanya  itulah cakupan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. MINGGU PALMA: MISA PENGENANGAN SENGSARA TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna: &lt;br /&gt;a. Pekan Suci dimulai pada hari Minggu Prapaskah VI atau biasa disebut dengan Minggu Palma atau Minggu Sengsara, karena untuk mengenangkan sengsara Tuhan. Minggu Palma adalah pintu masuk Pekan Suci. Pada hari-hari selama Pekan Suci kita diajak mengenangkan satu peristiwa penebusan lewat sengsara, wafat, dan kebangkitan sekaligus. Setiap perayaan liturgis tetap mengandung unsur-unsur penebusan itu. &lt;br /&gt;b. Perayaan Ekaristi diadakan sebagai pengenangan akan sengsara Tuhan, namun pewartaan sengsara Tuhan itu dikaitkan dengan perayaan kejayaan-Nya sebagai seorang Raja. Misa Pengenangan Sengsara Tuhan itu diawali dengan pengenangan akan peristiwa Kristus memasuki kota Yerusalem sebagai Almasih.&lt;br /&gt;c. Bagi orang kristiani Masa Prapaskah harus menuju suatu perjalanan menuju Yerusalem, yakni menghadapi kematian dan kebangkitan Kristus. Masa Prapaskah ibarat suatu eksodus baru, meninggalkan tanah pembuangan menuju Yerusalem, menyongsong Paskah Kristus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Misa sudah dapat diselenggarakan pada Sabtu sore. &lt;br /&gt;b. Warna liturgi: merah.&lt;br /&gt;c. Tempatnya di luar dan kemudian di dalam gedung gereja. Ritus perarakan meriah dilakukan di luar gedung dan Liturgi Sabda hingga Ritus Penutup di dalam gedung gereja. Untuk ritus perarakan sederhana dapat dilangsungkan dari bagian depan gedung gereja.&lt;br /&gt;d. Perarakan dari luar gereja menurut cara I  (Perarakan) diselenggarakan satu kali saja, terutama pada kesempatan yang dihadiri paling banyak umat. &lt;br /&gt;e. Untuk cara II (Meriah) dapat dilaksanakan mulai dari pintu atau bagian depan gereja, lalu perarakan berlangsung di dalam gedung gereja.&lt;br /&gt;f. Untuk cara III (Sederhana), karena tanpa perarakan, maka cukup diawali dengan nyanyian pembukaan dan dilanjutkan dengan Seruan Tobat, lalu Doa Pembuka Misa.&lt;br /&gt;g. Untuk ritus perarakan Imam Selebran mengenakan korkap atau kasula warna merah. Jika mengenakan korkap, maka setelah perarakan-menjelang liturgi Sabda harus berganti, memakai kasula merah. &lt;br /&gt;h. Secara historis daun palma, daun zaitun, daun lainnya, dan juga ranting-ranting dibawa umat dalam perarakan. Hingga kini jenis daun apa pun tidaklah dilarang untuk dibawa demi memeriahkan perarakan tersebut. Setelah Misa daun-daun itu dapat dibawa pulang dan disimpan di rumah masing-masing sebagai tanda kejayaan Kristus. Biasanya kemudian dipasang pada salib-salib Kristus di rumah.&lt;br /&gt;i. Sebelum dibawa dalam perarakan, sebaiknya daun-daun itu dikumpulkan pada satu meja untuk diberkati. Setelah diberkati barulah dibagikan kepada umat yang hendak berarak mengikuti rombongan Imam.&lt;br /&gt;j. Para pastur dan penanggung jawab liturgi harus berusaha sungguh-sungguh untuk menjamin agar perarakan itu dipersiapkan dan dilaksanakan sedemikian rupa sehingga dapat bermakna bagi hidup umat.&lt;br /&gt;k. Jika terpaksa tidak dapat diselenggarakan Misa, maka dapatlah diadakan Ibadat Sabda saja, dengan tema “Yesus memasuki Yerusalem dan kesengsaraan-Nya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Pembuka: Perarakan masuk, Tanda Salib-Salam, Pengantar, Pemberkatan Palma, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili Singkat, Perarakan Palma menuju gereja, Doa Pembuka di dalam gereja&lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Pewartaan Injil, Homili, Syahadat (Credo), Doa Umat &lt;br /&gt;- Liturgi Ekaristi &lt;br /&gt;- Ritus Penutup&lt;br /&gt;4. Bacaan:&lt;br /&gt;1. Ritus Perarakan Palma:  &lt;br /&gt;Injil: Kisah Yesus masuk Yerusalem.   &lt;br /&gt;Tahun   A:  Matius 21:1-11;   B: Markus 11:1-10 atau Yohanes 12:12-16;   C: Lukas 19:28-40.&lt;br /&gt;2. Misa - Liturgi Sabda:&lt;br /&gt;a. Yesaya 50:4-7: Hamba Yahwe yang rela disiksa dan tabah.&lt;br /&gt;b. Filipi 2:6-11:  Yesus yang merendahkan diri dan dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;c. Injil: Kisah Sengsara Yesus Kristus Tuhan kita.&lt;br /&gt;Tahun    A:  Matius 26:14-27:66 (panjang) atau  27:11-54 (singkat);   &lt;br /&gt;              B:  Markus 14:1-15:47 (panjang) atau  15:1-39 (singkat); &lt;br /&gt;                      C:  Lukas 22:14-23:56 (panjang) atau  23:1-49 (singkat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Ritus Perarakan Palma menjadi Ritus Pembuka. Di dalamnya, sebelum perarakan dibacakan Injil yang mengisahkan peristiwa Yesus masuk Yerusalem. Sebelum pembacaan Injil ada pemberkatan daun-daun palma, baik dengan tanda salib maupun air suci.&lt;br /&gt;b. Perarakan Yesus masuk Yerusalem dikenangkan dengan cara perarakan meriah dihiasi daun-daun palma yang dibawa oleh umat, mengikuti rombongan Imam dan para petugas liturgis lainnya. &lt;br /&gt;c. Selama perarakan semua yang hadir menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan tema, teristimewa dari Mazmur  23 dan 46, nyanyian khusus untuk menghormati Kristus sebagai Raja.&lt;br /&gt;d. Pembawaan Kisah Sengsara harus diberi tempat istimewa dengan cara menyanyikannya atau membacakannya seturut cara tradisional, yakni oleh tiga orang (sebagai Kristus, Rakyat, Pencerita). Jika dinyanyikan peran Kristus sebaiknya dibawakan oleh Imam Selebran, diakon, atau petugas yang layak. Bila dibacakan, maka peran Kristus harus dibawakan oleh Imam. &lt;br /&gt;e. Pembawaan Kisah Sengsara tanpa didampingi lilin dan dupa, juga tanpa tanda salib pada Buku Injil dan diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. SEBELUM TRIHARI PASKAH: MISA KRISMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna: &lt;br /&gt;Gereja partikular (keuskupan) berkumpul bersama untuk memberkati minyak yang akan digunakan di gereja-gereja paroki pada waktu pembaptisan di misa Malam Paskah. Misa ini merupakan tanda kesatuan Gereja keuskupan, di mana Uskup dan seluruh perangkat keuskupannya, tak ketinggalan umat beriman, berkumpul untuk menyiapkan minyak kudus yang akan diberikan kepada para baptisan-baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis: &lt;br /&gt;a. Dirayakan sebelum Misa Perjamuan Tuhan sore atau hari lain dalam Pekan Suci, sebelum Trihari Paskah.&lt;br /&gt;b. Warna liturgi: putih, meskipun misa ini masih terhitung berlangsung pada Masa Prapaskah (ungu).&lt;br /&gt;c. Tempatnya di gereja Katedral atau karena alasan pastoral boleh juga di tempat lain yang punya keistimewaan bagi keuskupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Pembuka: Perarakan, Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Ritus Tobat, Madah Kemuliaan, Doa Pembuka&lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I,  Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Bacaan Injil, Homili.&lt;br /&gt;- Pembaruan Janji Imamat&lt;br /&gt;- Liturgi Pemberkatan Minyak: Perarakan, Pemberkatan bergantian: Minyak Pengurapan Orang sakit, Minyak Katekumen, Minyak Krisma.&lt;br /&gt;- Liturgi Ekaristi&lt;br /&gt;- Ritus Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bacaan:&lt;br /&gt;a. Yesaya 61:1-3a.6a.8b-9: Tuhan telah mengurapiku dan mengutusku untuk mewartakan kabar gembira bagi kaum miskin.&lt;br /&gt;b. Wahyu 1:5-8: Kristus mengangkat dari antara kita, raja dan imam bagi Bapa.&lt;br /&gt;c. Lukas 4:16-21: Roh Tuhan di atas-Ku, Ia mengurapi Aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Uskup bersama para imam yang berkarya di keuskupannya berkumpul dan memperbarui janji imamat. &lt;br /&gt;b. Pemberkatan minyak-minyak (katekumen, krisma, pengurapan orang sakit), khususnya minyak krisma yang akan dipakai untuk membaptis pada Misa Malam Paskah.&lt;br /&gt;c. Misa Pontifikal: dalam Misa Agung yang dipimpin Uskup ini hendaknya seluruh peran liturgis yang ada dikerahkan untuk ikut ambil bagian di dalamnya, supaya citra seluruh keuskupan terlukiskan secara utuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. KAMIS PUTIH: MISA PERJAMUAN TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna: &lt;br /&gt;a. Hari Kamis Putih: Hari ini adalah hari terakhir masa Prapaskah. Suasana pertobatan masih berlaku di sini. Maka, Kamis Putih pagi hari masih boleh diadakan Sakramen Rekonsiliasi/Tobat/Pengakuan dosa, namun sebaiknya sakramen ini sudah tidak diadakan lagi selama Trihari Paskah, meskipun tidak dilarang. Misa Krisma sebaiknya diadakan pada Kamis Putih pagi, namun karena alasan pastoral dapat dipindah pada hari-hari sebelumnya.&lt;br /&gt;b. Misa Perjamuan Tuhan: Gereja memulai Trihari Paskah dan memperingati perjamuan malam terakhir Tuhan (pendirian/institusi Sakramen Ekaristi). Saat itu Yesus mempersembahkan Tubuh dan Darah-Nya sendiri dalam rupa roti dan anggur yang diberikan-Nya kepada para murid-Nya (perintah cinta persaudaraan). Yesus juga memerintahkan mereka dan para penggantinya dalam imamat untuk melestarikan kurban itu (tugas sakramen imamat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Misa dirayakan sore hari, sesuai dengan keadaan setempat agar seluruh umat dapat hadir sepenuhnya; namun jika amat mendesak Uskup setempat dapat mengijinkan diadakan pada pagi hari bagi umat yang memang sungguh tidak mungkin hadir pada sore hari.&lt;br /&gt;b. Tidak diadakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, dan tidak merugikan Misa utama, juga tidak boleh mengadakan Misa ini tanpa kehadiran umat.&lt;br /&gt;c. Warna liturgi: putih, kuning, atau emas.&lt;br /&gt;d. Sebelum Misa, jika ada tabernakel di tempat yang akan dipakai untuk Misa, tabernakel itu harus sudah dikosongkan.&lt;br /&gt;e. Hosti-hosti baru disediakan untuk diberkati dan disantap pada Misa itu, juga untuk komuni pada Ibadat Jumat Agung esoknya.&lt;br /&gt;f. Sakramen Mahakudus disimpan dalam tabernakel atau piksis atau sibori, janganlah sekali-kali dalam monstrans.&lt;br /&gt;g. Tempat menyimpan Sakramen Mahakudus itu haruslah dihiasi secara sederhana (tidak berlebihan) untuk keperluan adorasi dan meditasi; namun jangan berupa kubur/makam, karena tempat itu semata-mata hanya untuk “menyimpan” Sakramen Mahakudus, bukan untuk “mengenangkan” pemakaman Tuhan.&lt;br /&gt;h. Seusai Misa dilanjutkan dengan adorasi kepada Sakramen Mahakudus tadi, namun setelah jam 24.00 jangan ada lagi kemeriahan lahiriah dalam beradorasi kepada Sakramen Mahakudus, karena hari kesengsaraan Tuhan sudah dimulai. &lt;br /&gt;i. Pemindahan Sakramen Mahakudus tidak perlu diadakan jika Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan (Jumat Agung) tidak akan diadakan di tempat yang sama.&lt;br /&gt;j. Setelah Misa hendaknya setiap salib di dalam gereja diselubungi kain merah atau ungu, kecuali bila sudah diselubungi sebelumnya (sejak awal Masa Prapaskah/Rabu Abu atau sejak hari Sabtu sebelum Minggu Prapaskah V); di depan patung-patung orang kudus juga tidak boleh dinyalakan lampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Pembuka: (seperti biasa: Perarakan, Tanda Salib-Salam, Pengantar, Ritus Tobat, Kemuliaan, Doa Pembuka)&lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait pengantar Injil, Pewartaan Injil, Homili, Ritus Pembasuhan kaki, Doa Umat &lt;br /&gt;- Liturgi Ekaristi (biasa)&lt;br /&gt;- Perarakan Sakramen Mahakudus &lt;br /&gt;- Adorasi dan meditasi di hadapan Sakramen Mahakudus &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bacaan:&lt;br /&gt;a. Keluaran 12:1-8, 11-14: Paskah orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;b. 1 Korintus 11:23-26: Pewartaan kematian Tuhan lewat makan roti dan minum dari piala.&lt;br /&gt;c. Yohanes 13:1-15: Perintah untuk saling mencintai dan melayani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Selama dinyanyikan “Kemuliaan” lonceng gereja boleh dibunyikan sejauh tidak mengganggu keindahan lagu itu sendiri (setelahnya lonceng baru akan dibunyikan lagi pada Malam Paskah).&lt;br /&gt;b. Sesudah homili ada ritus pembasuhan kaki keduabelas wakil umat (biasa disebut ritus Mandatum), simbol pelayanan dan cinta kasih Yesus Kristus. Tradisi ini harus dipertahankan dan diterangkan maknanya kepada umat.&lt;br /&gt;c. Kolekte, derma-derma untuk orang miskin, atau hasil APP (Aksi Puasa Pembangunan) dapat diantar ke altar pada saat persiapan persembahan, mengiringi persembahan roti dan anggur.&lt;br /&gt;d. Setelah Doa Sesudah Komuni diadakan pemindahan hosti-hosti (Sakramen Mahakudus) dalam sibori (bukan monstrans!) yang dibawa oleh Imam. Perarakan Sakramen Mahakudus ini diiringi lagu (misalnya: Tantum Ergo) dan diselingi penyembahan-penyembahan (berlutut) oleh umat yang ditandai bunyi (klothokan) kayu (bukan suara logam, mis: lonceng).&lt;br /&gt;e. Tidak ada berkat dan pengutusan, lalu Imam dibantu para petugas menanggalkan kain-kain altar dan semua rangkaian bunga di panti imam.&lt;br /&gt;f. Umat dianjurkan untuk bersembah sujud, berdoa, dan merenung (Injil Yohanes 13-17) di depan Sakramen Mahakudus, baik secara pribadi maupun dalam kelompok, entah secara bersama atau bergantian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. JUMAT AGUNG: PERAYAAN PENGENANGAN SENGSARA TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna:&lt;br /&gt;a. Hari Jumat Agung: Hari ini ditetapkan sebagai hari laku tapa dan tobat dengan kewajiban berpantang dan berpuasa bagi seluruh anggota Gereja. Hari ini disebut sebagai hari puasa Paskah karena sudah termasuk dalam rangkaian Trihari Paskah; dibedakan dengan hari-hari puasa Prapaskah (40 hari). Sudah dimulai sejak Kamis malam, hingga menjelang Sabtu Malam Paskah. saat itu Sang Pengantin Pria sudah meninggalkan Gereja, maka kita pun berpuasa. &lt;br /&gt;b. Perayaaan atau Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan: Gereja merenungkan kesengsaraan Kristus, menghormati salib, merenungkan asal-usulnya, yakni dari lambung Kristus yang tergantung di kayu salib, serta mendoakan keselamatan seluruh dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Tidak ada perayaan Ekaristi, namun komuni kudus dibagikan kepada umat hanya dalam Ibadat Pengenangan Sengsara Tuhan (kecuali untuk orang-orang sakit/viatikum).&lt;br /&gt;b. Perayaan dimulai pada jam 15.00, atau karena alasan pastoral boleh juga tidak lama setelah jam 12.00. Jangan sesudah jam 21.00.&lt;br /&gt;c. Tatacara dan urutan Ibadat (Liturgi Sabda, Ritus Penghormatan Salib, Ritus Komuni) harus ditaati dengan setia dan tertib. &lt;br /&gt;d. Warna liturgi: merah.&lt;br /&gt;e. Semua bacaan (Pertama dan Kedua) harus dibacakan. Mazmur Tanggapan dan Bait Pengantar Injil dinyanyikan. Pewartaan Injil tentang Kisah Sengsara (Yohanes) dinyanyikan atau dibacakan oleh (para) diakon atau petugas yang layak. Sesudahnya Imam Selebran memberi homili, lalu hening sejenak.&lt;br /&gt;f. Dilarang merayakan sakramen apa pun pada hari ini, kecuali sakramen rekonsiliasi dan pengurapan orang sakit. Upacara pemakaman pun harus dilaksanakan tanpa nyanyian, musik, atau bunyi lonceng.&lt;br /&gt;g. Sangat dianjurkan agar umat diajak ikut merayakan Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi di gereja. &lt;br /&gt;h. Hanya satu salib boleh dipergunakan untuk penghormatan itu, agar salib itu sungguh-sungguh mendukung simbolisasi ritualnya. Penghormatan pribadi dapat dilakukan secara bersama-sama.&lt;br /&gt;i. Setelah Ibadat selesai altar dikosongkan kembali. Salib yang dihormati tadi tetap di tempatnya dengan didampingi empat lilin. Boleh juga dipindahkan ke tempat khusus di dalam gereja yang dihiasi, agar umat dapat kembali menghormati dan berdoa/meditasi secara pribadi di hadapan salib itu.&lt;br /&gt;j. Bentuk-bentuk devosi yang berkaitan dengan kesengsaraan Yesus dapat diadakan untuk mengisi waktu-waktu hening hingga Sabtu Suci siang. Misalnya: Ibadat Jalan salib, perarakan Salib (drama penyaliban), devosi tujuh sabda Yesus di salib, dsb. Devosi-devosi itu janganlah bertentangan dengan suasana liturgis masa itu. Devosi dimaksudkan untuk mengantar kepada kepenuhan liturgi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Pembuka: Perarakan hening, Penghormatan Altar, Doa&lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Bacaan II, Bait Pengantar Injil, Pewartaan Injil: Kisah Sengsara, Doa Umat Meriah&lt;br /&gt;- Ritus Penghormatan Salib Suci&lt;br /&gt;- Ritus Komuni: Bapa Kami, Pemecahan Roti, Pembagian Komuni, Doa Sesudah Komuni&lt;br /&gt;- Ritus Penutup: Berkat (Doa atas Umat), Perarakan hening&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bacaan:&lt;br /&gt;a. Yesaya 52:13-53:12: Hamba yang disiksa karena dosa-dosa kita.&lt;br /&gt;b. Ibrani 4:14-16; 5:7-9: Ketaatan Yesus demi keselamatan kita.&lt;br /&gt;c. Yohanes 18:1-19:42: Kisah sengsara Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Imam dan para petugas berarak memasuki ruang Ibadat tanpa iringan, tanpa nyanyian. Lalu mereka menghormati altar dengan cara merebahkan diri di depannya (simbol pernyataan kefanaan manusia).&lt;br /&gt;b. Pewartaan (proklamasi) Injil tentang Kisah Sengsara Tuhan hendaknya dibawakan dengan cara sesuai dengan hakikatnya (liturgis), yakni Yesus sendiri yang bersabda. Bukanlah suatu tafsiran dramatik kisah sengsara itu (kateketis), yang tidak menyimbolkan “Allah bersabda”. Jika dibawakan oleh para diakon atau awam, mereka meminta berkat dulu kepada Imam Selebran sebelum membawakan Kisah Sengsara. &lt;br /&gt;c. Doa Umat Meriah dibawakan secara khusus, baik secara kuantitatif (ada 10 ujud panjang) maupun kualitatif (dibacakan dan dinyanyikan). Ujud-ujud doa itu adalah untuk Gereja, Paus, para klerus dan awam, para calon baptis, kesatuan umat kristiani,  bangsa Yahudi, mereka yang tidak percaya akan Kristus, yang tidak percaya akan Allah, semua pegawai umum, dan untuk mereka yang berkekurangan. Jika dirasa perlu, uskup dapat mengijinkan untuk menambahkan ujud khusus yang menyangkut kepentingan umat. &lt;br /&gt;d. Penghormatan Salib Suci merupakan puncak liturgi hari ini. Perayaan dipimpin oleh Imam Selebran dengan tiga seruan: “Lihatlah kayu salib….” dan membuka selubung satu per satu (dari tiga tali ikatan). Penghormatan dilaksanakan juga secara pribadi oleh umat, setelah Imam dan para petugas melakukannya. Dapat satu per satu atau serentak bersamaan jika banyak umat hadir (jadi, tidak harus memperbanyak jumlah salib untuk dihormati!). Selama ritus ini lagu-lagu bertema kesengsaraan dapat dinyanyikan.&lt;br /&gt;e. Ritus Komuni diawali dengan mempersiapkan altar dan meletakkan sibori-sibori berisi Tubuh Kristus dan diakhiri dengan Doa yang dilanjutkan dengan doa untuk umat (Ritus Penutup).&lt;br /&gt;f. Ritus Penutup: Imam menutup  perayaan ini dengan mengulurkan kedua tangannya ke atas jemaat (= Berkat, tapi bukan dengan tanda salib besar). Lalu dilanjutkan dengan perarakan keluar dalam keheningan atau membiarkan tetap dalam suasana “merenung dan berdoa”, berjaga-jaga lagi hingga malam! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. SABTU SUCI: SAAT ISTIRAHAT, TENANG, DAMAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna:&lt;br /&gt;Dengan berdoa dan berpuasa, seraya menantikan kebangkitan Kristus, Gereja seakan berada di makam-Nya, sedang merenungkan kesengsaraan dan wafat serta turunnya Kristus ke alam maut. Hari kedua dalam Trihari Paskah ini melambangkan juga saat istirahat Allah (sabat), maka sebaiknya suasana tenang dan damai justru mewarnai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Dilarang mengadakan Perayaan Ekaristi.&lt;br /&gt;b. Komuni kudus hanya diberikan untuk bekal suci (viatikum).&lt;br /&gt;c. Dilarang merayakan Sakramen Perkawinan maupun Sakramen-sakramen lainnya, kecuali Sakramen Rekonsiliasi/Tobat dan Pengurapan Orang Sakit.&lt;br /&gt;d. Umat diharuskan mengadakan upacara sabda atau devosi yang sesuai dengan misteri yang dirayakan pada hari ini (Kristus wafat!). Sangat dianjurkan untuk mengadakan (ofisi) Ibadat Bacaan dan Ibadat Pagi bersama umat di gereja paroki.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. MINGGU PASKAH: MISA MALAM PASKAH DAN MISA KEBANGKITAN KRISTUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. MISA MALAM PASKAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna:&lt;br /&gt;Malam ini Gereja berjaga dalam doa (Latin:vigili, Jawa: tuguran, tirakat) dengan merayakan suatu liturgi agung untuk mengenangkan saat-saat Tuhan bangkit dari kematian. Gereja sesungguhnya sedang menantikan kedatangan Tuhan kembali. Inilah “bunda dari segala malam tirakat (vigili)”. Suatu malam pembebasan, seperti ketika bangsa Israel tetap berjaga-jaga menantikan Tuhan yang akan lewat dan membebaskan mereka dari penindasan bangsa Mesir. Malam Tuhan lewat (pesach) yang dikenangkan bangsa Israel setiap Tahun itu melambangkan saat kebangkitan Kristus (Paskah), malam pembebasan sejati, saat Kristus bangkit sebagai pemenang atas maut. Gereja juga memperingatinya setiap tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Perayaan berlangsung pada malam hari. Tidak boleh sebelum matahari terbenam dan harus selesai sebelum fajar Hari Minggu.&lt;br /&gt;b. Warna liturgi: putih atau kuning emas.&lt;br /&gt;c. Tata cara perayaan liturgis Malam Paskah tidak boleh diubah oleh siapa pun atas inisiatif sendiri (lihat no. 3.  Susunan liturgi).&lt;br /&gt;d. Nyanyian-nyanyian Mazmur Tanggapan jangan diganti dengan lagu-lagu lain, apalagi lagu yang tidak berkaitan dengan Bacaan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Cahaya (Lucernarium): Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Pemberkatan Api Baru, Pemberkatan Lilin Paskah, Perarakan Lilin Paskah, Madah Pujian Paskah (Exultet).&lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan, Doa 1 - Bacaan II, Mazmur Tanggapan, Doa 2 - Bacaan III, Mazmur Tanggapan, Doa 3 - Bacaan IV, Mazmur Tanggapan, Doa 4 - Bacaan V, Mazmur Tangggapan, Doa 5 - Bacaan VI, Mazmur Tanggapan, Doa 6 - Bacaan VII, Mazmur Tanggapan, Doa 7 - Madah Kemuliaan, Doa Pembuka - Bacaan Epistula, Alleluia Agung, Mazmur Tanggapan - Bacaaan Injil, Alleluia - Homili. &lt;br /&gt;- Liturgi Baptis: Litani Orang Kudus, Pemberkatan Air Baptis, Pembaruan Janji Baptis (: Penolakan Setan dan Pengakuan Iman), [Percikan: jika tidak ada calon baptis maka jemaat direciki dengan air baptis tadi], Pembaptisan, Pengenaan Pakaian Putih, Penyalaan Lilin Baptis, Perayaan Krisma. &lt;br /&gt;- Liturgi Ekaristi&lt;br /&gt;- Ritus Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bacaan: &lt;br /&gt;a. Kejadian 1:1-2:2: Kisah penciptaan.&lt;br /&gt;b. Kejadian 22:1-18: Iskak dikorbankan.&lt;br /&gt;c. Keluaran 14:15-15:1: Penyeberangan Laut Merah.&lt;br /&gt;d. Yesaya 54:5-14: Yerusalem baru.&lt;br /&gt;e. Yesaya 55:1-11: Perjanjian abadi.&lt;br /&gt;f. Barukh 3:9-15, 32-4:4: Kebijaksanaan telah datang di bumi.&lt;br /&gt;g. Yehezkiel 36:16-17a,18-28: Hati yang baru.&lt;br /&gt;h. Surat Paulus: Roma 6:3-11: Kristus telah bangkit dan akan hidup abadi.&lt;br /&gt;i. Injil: Kristus bangkit.      &lt;br /&gt;                           Tahun   A: Matius 28:1-10;   B: Markus 16:1-8;   C: Lukas 24:1-12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Pemberkatan api baru dan Lilin Paskah dapat dilakukan di luar atau di dalam gedung gereja. Sebaiknya terpisah dari gedung gereja. Sementara, suasana sekitar adalah gelap, demikian juga di dalam gedung gereja tempat perayaaan selanjutnya akan berlangsung. Sebelum dinyalakan Lilin Paskah diberkati oleh Imam Selebran dengan beberapa peneraan simbol padanya: Kristus, Awal dan Akhir (A/Alpha – /Omega; Milik-Nyalah segala masa… (Tahun); luka-luka kudus-Nya (lima biji paku dupa). Baru kemudian dinyalakan dari api baru: “Semoga cahaya Kristus yang bangkit mulia menghalaukan kegelapan hati dan budi kita.” Akhirnya, diakon atau imam selebran sendiri membawa Lilin itu dalam perarakan. Ia melagukan “Cahaya Kristus/Kristus cahaya dunia”. Umat menjawab “Syukur kepada Allah. Lalu ia berjalan ke dalam gedung gereja, dan berhenti di tengah, lalu melagukan lagi “Cahaya Kristus”. Lilin-lilin para putera altar dan petugas liturgi lainnya dinyalakan dari api Lilin Paskah. Kemudian ia berjalan lagi ke depan altar dan melagukan lagi “Cahaya Kristus”. Barulah semua lilin umat dinyalakan lewat lilin-lilin para petugas tadi. Lampu-lampu gereja dapat mulai dinyalakan. Setelah itu Lilin Paskah ditempatkan pada tempatnya dan didupai. Lilin Paskah yang memimpin perarakan itu melambangkan tiap api yang memimpin bangsa Israel ketika berjalan di waktu malam di padang gurun, setelah keluar dari tanah Mesir. Kita pun mengikuti Kristus (Lilin Paskah) yang telah bangkit itu.&lt;br /&gt;b. Madah Pujian Paskah dinyanyikan oleh diakon, Imam, atau jika mereka tidak bisa menyanyi boleh diganti oleh seorang awam yang bisa menyanyi dengan baik dan indah. Madah ini mau mengungkapkan seluruh Misteri Paskah dalam konteks sejarah keselamatan. &lt;br /&gt;c. Jumlah semua bacaan yang harus dibacakan adalah 9 (sembilan). Namun jika ada alasan pastoral, tidaklah harus semuanya dibacakan. Minimal 3 (tiga) bacaan dari KS Perjanjian Lama (tak boleh dihilangkan: dari Kitab Taurat, Para Nabi, dan Keluaran 14) dan 2 (dua) bacaan dari KS Perjanjian Baru (Epistula dan Injil). Bacaan-bacaan itu melukiskan sejumlah karya yang mengagumkan dalam sejarah keselamatan. Misteri Paskah Kristus dipaparkan mulai dari Musa, para Nabi, hingga Kristus sendiri dan kesaksian para rasul-Nya. Diharapkan dengan mendengarkan, jemaat dapat merenungkan semua itu dan ikut menanggapinya lewat nyanyian-nyanyian Mazmur Tanggapan, saat-saat hening dan doa-doa Imam.&lt;br /&gt;d. Madah Kemuliaan dan Doa Pembuka diadakan setelah Bacaan-bacaan dari KS Perjanjian Lama. Lonceng-lonceng gereja boleh dinyanyikan selama Madah Kemuliaan, asal tidak mengganggu keindahan nyanyian itu sendiri (tergantung kebiasaan setempat). &lt;br /&gt;e. Alleluia Agung dinyanyikan 3 (tiga) kali oleh Imam. Biasanya setiap Alleluia mendapat nada berbeda dan menaik. Setiap kali umat mengikutinya. &lt;br /&gt;f. Pemberkatan Air Baptis dapat dilakukan Imam Selebran dengan cara mencelupkan Lilin Paskah ke dalam bejana baptis itu, atau hanya dengan menyentuh air dengan tangan kanan, masing-masing diiiring doa. &lt;br /&gt;g. Pada waktu Pembaruan Janji Baptis, jemaat kembali menyalakan lilin-lilin mereka dari api Lilin Paskah. Lilin-lilin itu dimatikan lagi setelah Percikan, atau setelah Pengakuan Iman, jika ada yang akan dibaptis pada malam itu.&lt;br /&gt;h. Pembaptisan dapat dilakukan di depan altar atau di tempat bejana. Para calon baptis didampingi emban baptisnya. Emban baptislah yang akan mengenakan pakaian/kain putih dan lilin baptis kepada baptisan baru (neofit) yang diberikan oleh Imam.&lt;br /&gt;i. Perayaan Sakramen Krisma idealnya langsung diberikan untuk baptisan dewasa. Kalau demikian, maka si baptisan-baru akan mengalami Sakramen Inisiasi yang lengkap, karena setelah ini akan untuk pertama kalinya mengambil bagian secara penuh dalam Liturgi Ekaristi sebagai anggota Gereja yang baru. &lt;br /&gt;j. Berkat meriah dengan “Alleluia” panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.     MISA KEBANGKITAN KRISTUS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Makna:&lt;br /&gt;Gereja merayakan kebangkitan Kristus dengan penuh sukacita. Dalam Minggu Agung (St. Atanasius) ini diadakan misa-misa pertama yang mengawali Masa Paskah. Hari ini sudah dihitung sebagai Hari Minggu Paskah I, awal Masa Paskah yang akan berakhir pada Hari Raya Pentakosta, 50 hari kemudian. Namun demikian, masa Trihari Paskah sendiri baru berakhir setelah Ibadat Sore II hari Mingggu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ketentuan liturgis:&lt;br /&gt;a. Misa Hari Raya Paskah harus dirayakan semeriah mungkin.&lt;br /&gt;b. Warna liturgi: putih atau kuning emas.&lt;br /&gt;c. Sebaiknya Ritus Tobat diisi dengan Percikan air baptis yang baru saja diberkati pada Misa Malam Paskah. Pernyataaan Tobat (“Saya Mengaku” atau “Tuhan kasihanilah”) diganti Percikan itu. &lt;br /&gt;d. Tempat air suci di pintu-pintu gereja pun sebaiknya diisi dengan air yang diberkati pada Misa Malam Paskah.&lt;br /&gt;e. Lilin Paskah sudah diletakkan di dekat altar atau mimbar. Tidak perlu diarak lagi seperti pada Ritus Cahaya pada Misa Malam Paskah. Selama Masa Paskah Lilin Paskah diletakkan di sana. Setelahnya disimpan di tempat pembaptisan (baptisterium, jika ada) atau di tempat lain yang aman, guna keperluan pembaptisan dan upacara pemakaman mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Susunan liturgi:&lt;br /&gt;- Ritus Pembuka: Tanda Salib dan Salam, Kata Pengantar, Percikan (Vidi aquam), Madah Kemuliaan, Doa Pembuka. &lt;br /&gt;- Liturgi Sabda: Bacaan I, Mazmur Tanggapan - Bacaan II, Sekuens Paskah (Victimae paschali) - Bait Pengantar Injil (Alleluia), Bacaan Injil, Alleluia - Homili - [Pembaruan Janji Baptis: jika di sini maka Percikan pun tidak di bagian Ritus Pembuka tetapi setelah Pembaruan Janji ini] Pengakuan Iman (Credo) - Doa Umat. &lt;br /&gt;- Liturgi Ekaristi&lt;br /&gt;- Ritus Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bacaan:&lt;br /&gt;a. Kisah Rasul 10:34a.37-43: Makan dan minum bersama Yesus yang bangkit.&lt;br /&gt;b. Kolose 3:1-4: Usaha selalu ke arah hidup Kristus.&lt;br /&gt;c. Yohanes 20:1-9: Yesus harus bangkit dari alam maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Unsur khas:&lt;br /&gt;a. Percikan dengan air baptis yang diberkati pada Malam Paskah dapat dilakukan dalam [1] Ritus Pembuka atau [2] sebagai penutup ritus Pembaruan Janji Baptis (setelah Homili).  Yang pertama lebih dianjurkan daripada yang kedua.&lt;br /&gt;b. Sebagai Hari Minggu yang amat istimewa, maka hendaknya liturgi hari ini sungguh-sungguh dipersiapkan (petugas, musik, doa, dekorasi, dsb) dan dijadikan acuan bagi hari-hari Minggu yang lainnya.&lt;br /&gt;c. Berkat meriah dengan “Alleluia” panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang berminat untuk mendalami lebih jauh seluk-beluk perayaan liturgis Pekan Suci dan Trihari Paskah kami anjurkan menimba sendiri dari beberapa buku berikut ini, yang juga telah kami acu untuk tulisan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. CONGREGATIO PRO CULTO DIVINO.  Missale Romanum. Vatican: Typis Polyglottis Vaticanis, 1970.&lt;br /&gt;2. ___________. Circular Letter Concerning the Preparation of the Easter Feasts. Roma, 16 Januari 1988.&lt;br /&gt;3. GANTOY, Robert dan SWAELES, Romain (eds). Days of the Lord: The Liturgical Year. Volume 2: Lent. Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1993.&lt;br /&gt;4. ___________. Days of the Lord: The Liturgical Year. Volume 3: Easter Triduum-Easter Season. Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1993.&lt;br /&gt;5. HUCK, Gabe. The Three Days: Parish Prayer in the Paschal Triduum.  Chicago: Liturgy Training Publications, 1992.&lt;br /&gt;6. KOMLIT KWI. Bina Liturgia 2E: Pedoman Tahun Liturgi dan Penanggalan Liturgi. Jakarta: PD Penerbit Obor, 1988.&lt;br /&gt;7. KOMLIT REGIO JAWA-BALI-LAMPUNG. Pedoman Lingkaran Paskah. Keuskupan Malang, 1999.&lt;br /&gt;8. NOCENT, Adrian. The Liturgical Year II: Lent and Holy Week. Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1977. &lt;br /&gt;9. ___________. The Liturgical Year III: The Paschal Triduum, The Easter Season. Collegeville, MN: The Liturgical Press, 1977.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-8087797457452816226?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/8087797457452816226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/perayaan-perayaan-liturgis-selama-pekan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8087797457452816226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8087797457452816226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/perayaan-perayaan-liturgis-selama-pekan.html' title='PERAYAAN-PERAYAAN LITURGIS  SELAMA PEKAN SUCI DAN TRIHARI PASKAH  C.H. Suryanugraha, OSC Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia (ILSKI), Bandung'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-338420490959826255</id><published>2010-02-04T19:55:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T19:55:53.463-08:00</updated><title type='text'>Kisah Pemuda dan Bunga Mawar</title><content type='html'>Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil. Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, “Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada ‘mawar’ yang tertanam. Tuhan yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. Tuhan lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat “duri” yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk menyirami” hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bisa menemukan “mawar-mawar” indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya akan membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan “mawar-mawar” ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-338420490959826255?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/338420490959826255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/kisah-pemuda-dan-bunga-mawar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/338420490959826255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/338420490959826255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/kisah-pemuda-dan-bunga-mawar.html' title='Kisah Pemuda dan Bunga Mawar'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-4935519085779625134</id><published>2010-02-04T19:43:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T19:43:24.785-08:00</updated><title type='text'>Elang dan Kalkun</title><content type='html'>Konon di satu saat yang telah lama berlalu, Elang dan Kalkun adalah burung yang menjadi teman yang baik. Dimanapun mereka berada, kedua teman selalu pergi bersama-sama. Tidak aneh bagi manusia untuk melihat Elang dan Kalkun terbang bersebelahan melintasi udara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hari ketika mereka terbang, Kalkun berbicara pada Elang, “Mari kita turun dan mendapatkan sesuatu untuk dimakan. Perut saya sudah keroncongan nih!”. Elang membalas, “Kedengarannya ide yang bagus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kedua burung melayang turun ke bumi, melihat beberapa binatang lain sedang makan dan memutuskan bergabung dengan mereka. Mereka mendarat dekat dengan seekor Sapi. Sapi ini tengah sibuk makan jagung,namun sewaktu memperhatikan bahwa ada Elang dan Kalkun sedang berdiri dekat dengannya, Sapi berkata, “Selamat datang, silakan cicipi jagung manis ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajakan ini membuat kedua burung ini terkejut. Mereka tidak biasa jika ada binatang lain berbagi soal makanan mereka dengan mudahnya. Elang bertanya, “Mengapa kamu bersedia membagikan jagung milikmu bagi kami?”. Sapi menjawab, “Oh, kami punya banyak makanan disini. Tuan Petani memberikan bagi kami apapun yang kami inginkan”. Dengan undangan itu, Elang dan Kalkun menjadi terkejut dan menelan ludah. Sebelum selesai, Kalkun menanyakan lebih jauh tentang Tuan Petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi menjawab, “Yah, dia menumbuhkan sendiri semua makanan kami. Kami sama sekali tidak perlu bekerja untuk makanan”. Kalkun tambah bingung, “Maksud kamu, Tuan Petani itu memberikan padamu semua yang ingin kamu makan?”. Sapi menjawab, “Tepat sekali!. Tidak hanya itu, dia juga memberikan pada kami tempat untuk tinggal.” Elang dan Kalkun menjadi syok berat!. Mereka belum pernah mendengar hal seperti ini. Mereka selalu harus mencari makanan dan bekerja untuk mencari naungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika datang waktunya untuk meninggalkan tempat itu, Kalkun dan Elang mulai berdiskusi lagi tentang situasi ini. Kalkun berkata pada Elang, “Mungkin kita harus tinggal di sini. Kita bisa mendapatkan semua makanan yang kita inginkan tanpa perlu bekerja. Dan gudang yang disana cocok dijadikan sarang seperti yang telah pernah bangun. Disamping itu saya telah lelah bila harus selalu bekerja untuk dapat hidup.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elang juga goyah dengan pengalaman ini, “Saya tidak tahu tentang semua ini. Kedengarannya terlalu baik untuk diterima. Saya menemukan semua ini sulit untuk dipercaya bahwa ada pihak yang mendapat sesuatu tanpa mbalan. Disamping itu saya lebih suka terbang tinggi dan bebas mengarungi langit luas. Dan bekerja untuk menyediakan makanan dan tempat bernaung tidaklah terlalu buruk. Pada kenyataannya, saya menemukan hal itu sebagai tantangan menarik”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Kalkun memikirkan semuanya dan memutuskan untuk menetap dimana ada makanan gratis dan juga naungan. Namun Elang memutuskan bahwa ia amat mencintai kemerdekaannya dibanding menyerahkannya begitu saja. Ia menikmati tantangan rutin yang membuatnya hidup. Jadi setelah mengucapkan selamat berpisah untuk teman lamanya Si Kalkun, Elang menetapkan penerbangan untuk petualangan baru yang ia tidak ketahui bagaimana ke depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya berjalan baik bagi Si Kalkun. Dia makan semua yang ia inginkan. Dia tidak pernah bekerja. Dia bertumbuh menjadi burung gemuk dan malas. Namun suatu hari dia mendengar istri Tuan Petani menyebutkan bahwa Hari raya Thanks giving akan datang beberapa hari lagi dan alangkah indahnya jika ada hidangan Kalkun panggang untuk makan malam. Mendengar hal itu, Si Kalkun memutuskan sudah waktunya untuk pergi dari pertanian itu dan bergabung kembali dengan teman baiknya, si Elang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika dia berusaha untuk terbang, dia menemukan bahwa ia telah tumbuh terlalu gemuk dan malas. Bukannya dapat terbang, dia justru hanya bisa mengepak-ngepakkan sayapnya. Akhirnya di Hari Thanks giving keluarga Tuan Petani duduk bersama menghadapi panggang daging Kalkun besar yang sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anda menyerah pada tantangan hidup dalam pencarian keamanan, anda mungkin sedang menyerahkan kemerdekaan anda…Dan Anda akan menyesalinya setelah segalanya berlalu dan tidak ada KESEMPATAN lagi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pepatah kuno “selalu ada keju gratis dalam perangkap tikus”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-4935519085779625134?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/4935519085779625134/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/elang-dan-kalkun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4935519085779625134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4935519085779625134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/elang-dan-kalkun.html' title='Elang dan Kalkun'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-4797366932497169186</id><published>2010-02-04T19:01:00.002-08:00</published><updated>2010-02-04T19:30:16.208-08:00</updated><title type='text'>Jadilah Pelita</title><content type='html'>Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang buta itu terbahak berkata: “Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lembut sahabatnya menjawab, “Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kagetnya, ia mengomel, “Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini si buta bertambah marah, “Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejalan itu menukas, “Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si buta tertegun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, “Oh, maaf, sayalah yang ‘buta’, saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si buta tersipu menjawab, “Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, “Maaf, apakah pelita saya padam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penabraknya menjawab, “Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyap sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;secara berbarengan mereka bertanya, “Apakah Anda orang buta?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara serempak pun mereka menjawab, “Iya.,” sembari meledak dalam tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul pikiran dalam benak orang ini, “Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan “pulang”, ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk “membuta” walaupun mereka bisa melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-4797366932497169186?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/4797366932497169186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/jadilah-pelita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4797366932497169186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/4797366932497169186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/jadilah-pelita.html' title='Jadilah Pelita'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-8049339834874654967</id><published>2010-02-04T19:01:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T19:01:41.116-08:00</updated><title type='text'>Tambah 5 menit saja yah</title><content type='html'>5 menit saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. “Tuh.., itu putraku yang di situ,” katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, bagus sekali bocah itu,” kata bapak di sebelahnya. “Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,” sambungnya, memperkenalkan. Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. “Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?” Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, “Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa…?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. “Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?” Lagi-lagi Jack memohon, “Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?” pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Pria itu bersenyum dan berkata, “OK-lah, iyalah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar,” ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu. Pria itu membalas senyum, lalu berkata, “Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas. Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya. Prioritas apa yang Anda miliki saat ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-8049339834874654967?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/8049339834874654967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tambah-5-menit-saja-yah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8049339834874654967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/8049339834874654967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/tambah-5-menit-saja-yah.html' title='Tambah 5 menit saja yah'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-7555358676712493644</id><published>2010-02-04T18:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T18:55:05.745-08:00</updated><title type='text'>9 Renungan Motivasi</title><content type='html'>9 Renungan Motivasi Berikut ini artikel untuk merubah Cara Pandang di dalam diri sendiri (Self Reframing) :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.TAKLUKKAN DIRI SENDIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia yang bisa menaklukkan orang lain adalah manusia kuat.&lt;br /&gt;Dia yang bisa menaklukkan dirinya sendiri adalah manusia super.” (Lao Tze)&lt;br /&gt;Perenungan Diri:&lt;br /&gt;1. Malam hari sambil berbaring tidur, ambil waktu 1 - 2 menit.&lt;br /&gt;2. Lakukan refleksi kegiatan hari ini secara cepat saja.&lt;br /&gt;3. Tanyakan ke dalam diri sendiri: “Apakah masih ada emosi negatif yang tersimpan dalam diriku saat ini ?”&lt;br /&gt;4. Lalu, tarik nafas yang dalam dan tahan nafas selama yang bisa Anda lakukan.&lt;br /&gt;5. Bayangkan kejadian yang menimbulkan emosi negatif tersebut.&lt;br /&gt;6. Buang dan lepaskan dengan menghembuskan nafas sepanjang mungkin.&lt;br /&gt;7. Lanjutkan dengan bernafas perlahan saja, dan makin perlahan, sampai seluruh badan terasa rileks bak tanpa otot.&lt;br /&gt;8. Diam sejenak dan ambil keputusan untuk berubah, misalnya: “Besok mau senyum aja aaah…” dan tidurlah dengan senyum… zzz…zzz…&lt;br /&gt;Karena jika dengan ikhlas kita mulai bisa menaklukkan diri sendiri, maka kekalahan bukan lagi kekalahan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. BELAJAR DARI KEKALAHAN&lt;br /&gt;“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,&lt;br /&gt;sesungguhnya Anda tidak kalah” ( Zig Ziglar )&lt;br /&gt;Saat Anda “merasa” kalah, lakukan berikut:&lt;br /&gt;- Duduk diam dan tarik nafas panjang&lt;br /&gt;- Cari penyebab kekalahan tersebut (cepat saja)&lt;br /&gt;- Ambil pelajaran dari kekalahan itu&lt;br /&gt;- Pejamkan mata: Tersenyumlah dan bersyukur&lt;br /&gt;- Hembuskan nafas secepat mungkin&lt;br /&gt;- Bangkit dan lompatlah setinggi mungkin&lt;br /&gt;“Jika Anda belajar sesuatu dari kekalahan,&lt;br /&gt;sesungguhnya Anda tidak kalah”&lt;br /&gt;Pasti ada hikmah dari setiap kejadian, walau diberi nama “kalah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. PELAUT TANGGUH …&lt;br /&gt;(Bayangkan WS Rendra, ucapkan syukur dan hormat sebagai rasa kagum pada dia, masuk ke dalam diri dia dan bacakan lirik di bawah ini, bak WS Rendra)&lt;br /&gt;Hidup adalah rangkaian masalah.&lt;br /&gt;Jika kita melihatnya sebagai masalah.&lt;br /&gt;Hidup adalah rangkaian tantangan.&lt;br /&gt;Jika kita melihatnya sebagai peluang.&lt;br /&gt;Tantangan penting untuk otot pikiran.&lt;br /&gt;Tantangan membuat kita bertumbuh.&lt;br /&gt;Tantangan membuat kita kreatif.&lt;br /&gt;(baca berikut ini sambil hembuskan nafas)&lt;br /&gt;Bersyukurlah jika kita mempunyai tantangan.&lt;br /&gt;Karena artinya kita memiliki peluang.&lt;br /&gt;(tahan nafas di perut dan baca dengan keyakinan kuat)&lt;br /&gt;Ya, sebuah peluang untuk Menang.&lt;br /&gt;Pepatah kuno mengatakan:&lt;br /&gt;“Lautan yang tenang,&lt;br /&gt;tidak menghasilkan pelaut yang tangguh”&lt;br /&gt;Atasilah masalah dengan:&lt;br /&gt;Tetaplah tersenyum.&lt;br /&gt;Tetaplah bergandengan tangan.&lt;br /&gt;Kita hanyalah berbeda, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. GIAT BEKERJA KUNCI SUKSES&lt;br /&gt;“Tidak Ada Jalan yg Mulus utk Sukses,&lt;br /&gt;Giat Bekerja Adalah Kuncinya” (George G Williams )&lt;br /&gt;Perenungan Diri:&lt;br /&gt;Hasil penelitian mengatakan bahwa Ketekunan, Keuletan, Kegigihan akan membuat&lt;br /&gt;otot di seluruh tubuh kuat, baik otot badan, otot tangan, otot kaki, bahkan&lt;br /&gt;“otot” di otak kita. Yang paling penting adalah membuat kuat Otot Pikiran kita.&lt;br /&gt;“Anda tidak mungkin memahami Work Smart,&lt;br /&gt;sebelum Anda memiliki mental Work Hard” (Krishnamurti)&lt;br /&gt;Situasi Indonesia boleh tidak menentu,&lt;br /&gt;tetapi nasib kita haruslah kita yang menentukan.&lt;br /&gt;Kita cukup bergiat pada hal yang bisa kita kendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SIAPA YANG KAYA?&lt;br /&gt;“Siapa yang kaya?&lt;br /&gt;Dia yang bersukacita dengan apa yang dimilikinya.” (Benjamin Franklin)&lt;br /&gt;Perenungan Diri:&lt;br /&gt;Bersukacita dan bersyukur dengan apa yang kita miliki, justru akan membuat&lt;br /&gt;kita semakin bertambah makmur dan sejahtera. Hukum alam semesta mengenai&lt;br /&gt;sukses ini sebenarnya sederhana sekali. Kita hanya perlu keyakinan diri&lt;br /&gt;saja bahwa hal ini benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. CHOOSE TO BE HAPPY …&lt;br /&gt;We always have a choice&lt;br /&gt;We can choose to be happy&lt;br /&gt;or we can choose to be grumpy&lt;br /&gt;But It’s always better, smarter and wiser&lt;br /&gt;to choose to be happy… (Melody Ross)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perenungan diri: (baca dalam hati dengan tempo lambat)&lt;br /&gt;“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat)&lt;br /&gt;“Bukankah hidup ini adalah pilihan?” (baca lebih lambat lagi)&lt;br /&gt;“Bukankah hidup ini adalah pilihan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. SETIA PADA HAL KECIL&lt;br /&gt;Bukan tindakan besar dan hebat,&lt;br /&gt;yang menentukan hidup kita,&lt;br /&gt;melainkan kesetiaan dalam menekuni&lt;br /&gt;pekerjaan-pekerjaan kecil dan tidak berarti …. (bunda Teresa)&lt;br /&gt;Perenungan Diri:&lt;br /&gt;Bacalah pesan di atas berulang-ulang sampai meresap.&lt;br /&gt;Bisa dengan cara pelan, sangat pelan, bahkan sangat, sangat pelan.&lt;br /&gt;Boleh juga baca dalam hati dengan perasaan mantap.&lt;br /&gt;Atau, diulang-ulang dalam hati untuk bagian tertentu.&lt;br /&gt;“kesetiaan menekuni pekerjaan-pekerjaan kecil”&lt;br /&gt;“kesetiaan menekuni pekerjaan yang tidak berarti”&lt;br /&gt;Ya, memang mudah untuk dibaca, namun perlu kebesaran hati untuk mencerna.&lt;br /&gt;Dan, tekad besar untuk menelannya.&lt;br /&gt;Agar jadi bagian indah dalam gelora darah kita.&lt;br /&gt;Karena sang musuh adalah di ego diri.&lt;br /&gt;Tapi, mungkin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. IMPIAN PERLU UJIAN&lt;br /&gt;(Baca gaya retorik Bung Karno)&lt;br /&gt;kala impian membuat kita berbeda&lt;br /&gt;kala cara pikir kita ditertawakan&lt;br /&gt;kala senyuman kita disiniskan&lt;br /&gt;kala warna semangat mulai meluntur&lt;br /&gt;kala impian membuat hati bias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;justru teruslah maju dan berpegang&lt;br /&gt;teruslah berpegang pada impian kita&lt;br /&gt;bangunlah keyakinan demi keyakinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bukankah layang-layang terbang tinggi&lt;br /&gt;karena melawan arah angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tarik nafas dalam dan tahan, lalu lanjutkan baca dengan keyakinan)&lt;br /&gt;impian kita hanya perlu diuji&lt;br /&gt;diuji untuk membangun keyakinan&lt;br /&gt;(baca berikut ini sambil hembuskan nafas panjang)&lt;br /&gt;keyakinan untuk mencapainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. TUM SPIRO, SPERO&lt;br /&gt;“Tum Spiro, Spero” artinya:&lt;br /&gt;“Selama Kita Bernafas, Kita Berusaha”&lt;br /&gt;Buanglah kata menyerah dalam hidup ini.&lt;br /&gt;Hidup ini sangat berarti, berkaryalah.&lt;br /&gt;Karena kita adalah manusia, makhluk luar biasa.&lt;br /&gt;Teruslah berjuang sampai nafas yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sediakan waktu untuk sendiri. Untuk Diam. Untuk Meditasi. Untuk Merenung. Untuk ssst… diaaam, agar hikmah terdengar bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening membuat bening…&lt;br /&gt;Bening membuat jelas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krishnamurti&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-7555358676712493644?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/7555358676712493644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/9-renungan-motivasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7555358676712493644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7555358676712493644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/9-renungan-motivasi.html' title='9 Renungan Motivasi'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-7432485214838928443</id><published>2010-02-04T18:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T18:48:57.416-08:00</updated><title type='text'>4 Lilin Menyala</title><content type='html'>Ada 4 lilin yang menyala, Sedikit demi sedikit habis meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.” “Sayang aku tak berguna lagi.” “Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.” “Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.” “Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa terduga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia mengangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akulah HARAPAN.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-7432485214838928443?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/7432485214838928443/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/4-lilin-menyala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7432485214838928443'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/7432485214838928443'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/4-lilin-menyala.html' title='4 Lilin Menyala'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-370911847679369514</id><published>2010-02-04T18:38:00.000-08:00</published><updated>2010-02-04T18:44:48.737-08:00</updated><title type='text'>ABOUT MUSIC LITURGY</title><content type='html'>Liturgical music originated as a part of religious ceremony , and includes a number of traditions, both ancient and modern. Liturgical music is well known as a part of Catholic Mass , the Anglican Holy Communion service (or Eucharist ), the Lutheran Divine Service , the Orthodox liturgy and other Christian services including the Divine Office . Such ceremonial music in the Judeo-Christian tradition can be traced back to both Temple and synagogue worship of the Hebrews . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The qualities that create the distinctive character of liturgical music are based on the notion that liturgical music is conceived and composed according to the norms and needs of the various historic liturgies of particular denominations . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The interest taken by the Catholic Church in music is shown not only by practitioners, but also by numerous enactments and regulations calculated to foster music worthy of Divine service. Contemporary Catholic official church policy is expressed most particularly in the document Sacrosanctum Concilium (items 112-121) of the Second Vatican Council . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While there have been historic disputes within the church where elaborate music has been under criticism, there are many period works by Orlandus de Lassus , Allegri , Vittoria , where the most elaborate means of expression are employed in liturgical music, but which, nevertheless, conform to every liturgical requirement while seeming to be spontaneous outpourings of adoring hearts (cf. contrapuntal or polyphonic music ). Besides plain chant and the polyphonic style, the Catholic Church also permits homophonic or figured compositions with or without instrumental accompaniment, written either in in ecclesiastical modes , or the modern major or minor keys. Gregorian chant is warmly recommended by the Catholic Church, as both polyphonic music and modern unison music for the assembly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prior to the Second Vatican Council , according to the Motu proprio of Pius X (22 Nov. 1903), the following were the general guiding principles of the Church: "Sacred music should possess, in the highest degree, the qualities proper to the liturgy, or more precisely, sanctity and purity of form from which its other character of universality spontaneously springs. It must be holy, and must therefore exclude all profanity, not only from itself but also from the manner in which it is presented by those who execute it. It must be true art, for otherwise it cannot exercise on the minds of the hearers that influence which the Church meditates when she welcomes into her liturgy the art of music. But it must also be universal, in the sense that, while every nation is permitted to admit into its ecclesiastical compositions those special forms which may be said to constitute its native music, still these forms must be subordinated in such a manner to the general characteristics of sacred music, that no one of any nation may receive an impression other than good on hearing them."  This was expanded upon by Pope Pius XII in his Motu Proprio title Musicae Sacrae.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-370911847679369514?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/370911847679369514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/about-music-liturgy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/370911847679369514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/370911847679369514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/about-music-liturgy.html' title='ABOUT MUSIC LITURGY'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-1666633470548372418</id><published>2010-02-04T17:44:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T17:44:34.701-08:00</updated><title type='text'>Karl Edmund Prier SJ dan Musik Liturgi</title><content type='html'>Oleh DWIKORI SITARESMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl Edmund Prier SJ, pastor kelahiran Weinheim, Jerman, 72 tahun lalu, dikenal karena kiprahnya dalam musik liturgi gereja (Katolik). Kemampuannya mengolah dan mencipta lagu serta memainkan organ tidak diragukan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Prier berkenalan dengan musik klasik saat berusia delapan tahun. Perkenalan itu menjadi awal ketertarikannya menekuni musik. Prier muda belajar main organ dan piano. Saat berlatih memainkan alat musik itu, mau tidak mau dirinya harus memahami teori musik, ilmu harmoni, analisa lagu, dan komposisi.&lt;br /&gt;Pendidikan musiknya terus berlanjut ketika ia terpanggil menjadi imam dan menjadi anggota Societas Jesu (SJ), Serikat Yesus. Ketekunan itu membuahkan hasil.Karl Edmund Prier dipercaya menjadi guru musik di salah satu kolose di Austria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minatnya mempelajari musik berkembang ketika pimpinan Serikat Yesus mengutusnya dirinya menjadi misionaris di Indonesia. Prier jatuh cinta pada lagu-lagu tradisional. Itu berawal saat Prier tinggal di daerah Wonosari, Jogjakarta. Waktu itu ia masih frater. Ia tinggal di situ untuk mempelajari bahasa Jawa sebelum kuliah teologi di Sekolah Tinggi dan Filsafat Teologi Kentungan, Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1960-an itu keadaan Wonosari memprihatinkan. Listrik tidak ada. Kemiskinan di mana-mana. Nasi tidak ada. Gaplek menjadi makanan sehari-hari penduduk setempat. Ketika Natal dirayakan dengan sederhana di Gereja Wonosari, Prier merasa sedih. Matanya menerawang merindukan kampung halamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, seandainya saya berada di Jerman. Natal pasti terasa lain. Nyanyian Natal terdengar di mana-mana. Suasana sangat meriah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan ia merasakan sesuatu yang lain yang menyentuh hatinya. Seusai misa, Karl Edmund Prier melihat beberapa jemaat yang datang dari tempat yang jauh enggan pulang dan memilih tetap menginap di gereja. Mereka berkumpul dan merayakan Natal dengan makanan seadanya. Hal ini dilakukan karena takut dengan orang-orang komunis yang berada di sekitar gereja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di malam hari, tempat itu dipakai untuk berlatih gamelan. Keramahan orang-orang di sekitar yang selalu menyapanya, bahkan menyuruhnya ikut main gamelan, sungguh membuat Karl Edmund Prier makin dekat dengan budaya dan bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melanjutkan pendidikan teologi di STFT Kentungan, berbagai gagasan berkembang dalam benaknya. Ia mendapatkan ide-ide ketika membaca hasil Konsili Vatikan II yang salah satu poinnya berbunyi: "Hendaknya musik gereja berpangkal dari budaya setempat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl Edmund Prier berpikir, "Kalau begitu lagu-lagu inkulturasi harus diciptakan agar liturgi gereja bertambah semarak." Untuk itu, menurut Prier, sebuah pusat musik liturgi harus segera dibentuk. Tepat setelah ditahbiskan, Romo Karl Edmund Prier mengusulkan hal itu kepada pimpinan Serikat Yesus. Ternyata, idenya diterima dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jogjakarta dipilihnya sebagai tempat untuk mengembangkan lembaga itu. Karl Edmund Prier berlasan, Jogja masih sangat menjunjung budaya Jawa dibanding kota-kota lainnya. Karena itu, Pusat Musik Liturgi (PML) didrikan di Jogja pada 1971. "Kota ini akan menjadi tempat untuk mengolah lagu-lagu inkulturasi dari daerah lain," harap Karl Edmund Prier.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menciptakan musik inkulturasi, Karl Edmund Prier juga menciptakan pendidikan musik bagi umat Katolik di Jogjakarta. Ia memberi perhatian khusus terhadap pembinaan organis yang andal. Menurut dia, pendidikan musik harus diterapkan dengan serius dan berkesinambungan. Maka, dia membuat program pendidikan organis selama tiga tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang ingin mempelajari alat musik organ diberi pengetahuan tentang teori musik, teori dan praktik dirigen, liturgi, ilmu harmoni, membuat iringan, berlatih paduan suara, dan praktik organ dengan ujian. Juga ada pentas tiga kali setahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu lagu rohani yang selalu menjadi semboyan Karl Edmund Prier. Lagu itu berjudul NYANYIKAN LAGU BARU BAGI TUHAN. Kata demi kata yang menjadi syair kidung itu memberinya dorongan untuk terus berkarya,mencipta lagu, membuat komposisi musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menyanyikan lagu baru bagi Tuhan berarti menciptakan lagu baru. Lagu Indonesia yang inkulturatif sesuai dengan cita-cita Konsili Vatikan II," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karl Edmund Prier sangat menghargai kerja tim. Hal itu dibuktikan saat mengadakan lokakarya komposisi musik gereja. Acara itu selalu menghasilkan lagu-lagu liturgi yang baru. Ia menghendaki setiap lagu yang diciptakan tidak ada nama penciptanya. Maka, tiap karya seni yang dihasilkan lewat acara itu hanya mencantumkan nama "hasil lokakarya komposisi musik gereja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagu-lagu itu adalah hasil kerja tim PML Jogjakarta. Bukan hasil karya perorangan," ungkapnya.&lt;br /&gt;Karl Edmund Prier selalu memperjuangkan kelestarian lagu-lagu inkulturasi dalam gereja. Ketika pencipta-pencipta lagu rohani yang baru bermunculan, ia tidak merasa tersaingi, bahkan gembira. Namun, ia menyayangkan bila lagu-lagu baru dibuat asal-asalan, tidak liturgis, dan tidak sungguh-sungguh memperhatikan syair. Karya semacam itu hanya bertahan sebentar dan menjadi sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Karl Edmund Prier, lagu gereja harus dibuat sungguh-sungguh sehingga dapat digunakan untuk membantu umat berdoa. Ia prihatin melihat perkembangan lagu-lagu baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kini, banyak pencipta lagu rohani yang terpengaruh dengan budaya lagu-lagu pop di televisi sehingga mereka membuat lagu gereja yang ngepop. Mereka merasa bahwa lagu-lagu tersebut sesuai dengan selera anak-anak muda," ujarnya.&lt;br /&gt;Karl Edmund Prier berpendapat, pencipta lagu harus menyadari bahwa umat pergi ke gereja untuk mencari jawaban dari Tuhan atas segala permasalahan hidupnya. Kondisi itu sangat berbeda saat seseorang duduk di depan televisi dengan motivasi mencari hiburan. Maka, lagu gereja yang baik harus mempertimbangkan lirik dan nada yang dapat membantu umat berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Karl Edmund Prier mengingat saat-saat ketika ia masih berada di Jerman. Waktu itu gereja-gereja berusaha menarik kaum muda mengikuti perayaan ekaristi. Mereka boleh menggunakan band dan lagu-lagu pop rohani yang sama sekali tidak liturgis. "Tapi lambat laun anak-anak muda itu tidak menemukan makna liturgi yang sesungguhnya dalam setiap musik yang mereka mainkan," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, Karl Edmund Prier terus bersemangat dalam memperkenalkan pemahaman tentang lagu liturgi yang benar kepada masyarakat. Dia juga menginginkan paduan suara berkualitas untuk membawakan semua lagu yang diciptakannya bersama tim PML. Keinginan itu didengar oleh Paul Widyawan. Lahirlah Paduan Suara Vocalista Sonora di Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia 72 tahun, Karl Edmund Prier terus berkarya. Baginya, tiada hari tanpa musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Majalah HIDUP, Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-1666633470548372418?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/1666633470548372418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/karl-edmund-prier-sj-dan-musik-liturgi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1666633470548372418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/1666633470548372418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/karl-edmund-prier-sj-dan-musik-liturgi.html' title='Karl Edmund Prier SJ dan Musik Liturgi'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-3023710160741376841</id><published>2010-02-04T17:42:00.001-08:00</published><updated>2010-02-04T17:42:47.130-08:00</updated><title type='text'>Makan Siang Dengan Tuhan</title><content type='html'>Ada suatu kisah mengenai seorang pemuda kecil yang ingin bertemu dengan Tuhan. Ia tahu bahwa itu memerlukan sebuah perjalanan jauh untuk pergi ke tempat dimana Tuhan tinggal, jadi ia menyiapkan segala bawaannya yakni makanan kecil Twinkies dan sebuah enam pak rootbeer, dan ia memulai perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia pergi sejauh kira-kira tiga blok, ia bertemu dengan seorang wanita tua. Ia hanya duduk di taman memandang burung-burung merpati. Pemuda kecil itu duduk di sampingnya dan membuka tas perlengkapannya. Ia ingin untuk meminum root-beer¬nya dan ia memperhatikan bahwa wanita tua itu terlihat kelaparan jadi ia menawarkan wanita tua itu Twinkies-nya. Ia dengan senang hati menerimanya dan tersenyum kepadanya. Senyumnya begitu cantik hingga pemuda kecil itu ingin melihatnya lagi, jadi ia menawarkan wanita tua itu sekaleng root beer. Sekali lagi, ia tersenyum kepadanya. Pemuda kecil itu senang sekali! Mereka duduk di situ sepanjang sore hanya makan dan tersenyum, tetapi mereka tak mengucapkan sepatah kata pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu gelap pun mulai menyelimuti, pemuda kecil tu menyadari betapa lelahnya ia dan ia harus bangkit untuk pergi tetapi sebelum ia melangkah lebih jauh lagi; ia berputar kembali, berlari kepada sang wanita tua tadi, dan memberikan ia sebuah pelukan. Wanita tua itu memberikan senyum terbaiknya. Ketika pemuda kecil itu membuka pintu rumahnya, tak lama kemudian ibunya terkejut melihat kegembiraan yang teraut di wajah putranya. Ia bertanya kepadanya, "Apa yang kau lakukan pada hari ini hingga membuat kamu begitu gembira?" Ia menjawab, "Saya makan siang dengan Tuhan." Tetapi sebelum ibunya sudah merespon, ia menambahkan, "Ibu tahu? Ia memiliki senyum tercantik yang pernah saya lihat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang lain, sang wanita tua, yang juga tersuntik oleh kegembiraan, kembali ke rumahnya. Putranya terkejut oleh tampak kedamaian di wajah ibunya dan ia bertanya, "Ibu, apa yang Ibu lakukan hari ini hingga membuat Ibu begitu gembira?" Ibunya menjawab, "Saya memakan Twinkies di taman dengan Tuhan." Tetapi sebelum putranya merespon, ia menambahkan, "Kamu tahu, ia lebih muda dari yang saya perkirakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu sering kita meremehkan kekuatan dari sentuhan, sebuah senyuman, kata-kata yang manis, telinga yang mendengar, sebuah pujian yang tulus, atau perhatian yang kecil, yang semuanya memiliki potensi untuk mengubah kehidupan menjadi berbalik. Orang-orang datang ke dalam kehidupan kita untuk sebuah alasan, sebuah musim waktu, atau seluruh masa hidup kita. Rangkullah semuanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan yang ini bagus banget yah.&lt;br /&gt;Mungkin selama ini Tuhan ada didekat kita dalam bentuk orang - orang yang baik hati dan menyayangi kita.&lt;br /&gt;Jesus love us.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-3023710160741376841?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/3023710160741376841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/makan-siang-dengan-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3023710160741376841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/3023710160741376841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/02/makan-siang-dengan-tuhan.html' title='Makan Siang Dengan Tuhan'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-2291783432850073434</id><published>2010-01-24T20:49:00.000-08:00</published><updated>2010-02-03T00:13:24.906-08:00</updated><title type='text'>Tata Gerak dalam Berliturgi</title><content type='html'>Tata Gerak, Sikap Tubuh&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Prostratio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perayaan manusiawi, Perayaan Ekaristi juga memerlukan ekspresi diri manusiawi. Maka, tata gerak atau sikap tubuh seluruh jemaat dan para pelayannya juga menjadi bagian penting dalam simbolisasi kebersamaan dan kesatuan Gereja yang sedang berdoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Untuk Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata gerak dan sikap tubuh imam, diakon, para pelayan, dan jemaat tentu punya maksud. Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan Liturgi suci. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dan membangun sikap batin yang sama pula. Maka, jika dilakukan dengan baik:&lt;br /&gt;(1) seluruh perayaan memancarkan keindahan dan sekaligus kesederhanaan yang anggun;&lt;br /&gt;(2) makna aneka bagian perayaan dipahami secara tepat dan penuh; dan&lt;br /&gt;(3) partisipasi seluruh jemaat ditingkatkan (PUMR 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bolehkah Mengubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak secara mutlak dilarang untuk mengubah tata gerak dan sikap tubuh. Tapi, pesan PUMR 42 sebaiknya diperhatikan dengan baik: “... ketentuan hukum liturgi dan tradisi Ritus Romawi serta kesejahteraan rohani umat Allah harus lebih diutamakan daripada selera pribadi dan pilihan yang serampangan.” Jadi, wewenang itu bukan diserahkan kepada “selera pribadi”, seenak pelayan atau jemaat dan tanpa pemikiran-pertimbangan yang cukup matang. Untuk itu, adanya penyerasian dengan keadaan jemaat perlu diputuskan oleh Konferensi Uskup, dengan sepengetahuan Takhta Apostolik, Roma (PUMR 390). Hal itu sudah gamblang disebut dalam PUMR 43 juga: “... sesuai dengan ketentuan hukum, Konferensi Uskup boleh menyerasikan tata gerak dan sikap tubuh dalam Tata Perayaan Ekaristi dengan ciri khas dan tradisi sehat bangsa setempat. Namun, hendaknya Konferensi Uskup menjamin bahwa penyerasian itu selaras dengan makna dan ciri khas bagian perayaan Ekaristi yang bersangkutan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Apakah Perlu Diubah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini bisa dilontarkan ketika cita rasa budaya setempat (Gereja lokal) dirasa berbenturan dengan praktek liturgi yang disarankan Takhta Apostolik (Roma) dalam Pedoman Umum Misale Romawi. Maksudnya, jika jemaat merasa tidak cocok, kurang sreg, atau ada perbedaan makna, maka kiranya tata gerak dan sikap tubuh yang ada dalam buku pedoman bisa saja ditinjau kembali dan kemudian - jika dianggap perlu - diserasikan dengan cita rasa budaya jemaat setempat. Tentu saja perubahan itu tidak dilaksanakan secara gegabah atau serampangan. Maka, perlulah mengadakan semacam penelitian atau studi dialogis antara budaya setempat dengan pemahaman teologis dan liturgisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Bagaimana Supaya Kompak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cara. Sebaiknya sudah ada dulu petunjuk tata gerak untuk umat. Mungkin dalam teks atau buku Misa (dalam rubrik) juga dicantumkan bagaimana tata geraknya. Jika umat sudah mengenal dan terbiasa mungkin tidak perlu dikuatirkan. PUMR 43 juga menyebutkan: “Demi keseragaman tata gerak dan sikap tubuh selama perayaan, umat hendaknya mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh diakon, pelayan awam, atau imam, selaras dengan petunjuk buku-buku liturgis.” Praktisnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]  Ada petugas yang “mengajak” umat untuk melakukan tata gerak tertentu selama perayaan &lt;br /&gt;berlangsung;&lt;br /&gt;[2]  Umat dapat diberi petunjuk sebelum perayaan mulai, khususnya untuk tata gerak yang baru atau belum biasa dilakukan umat;&lt;br /&gt;[3]  Jika ada buku Misa untuk umat, sebelum perayaan dimulai umat dipersilakan menyimak setiap petunjuk yang tertulis dalam buku tersebut, khususnya yang berkaitan dengan tata gerak, dan peran umat pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Berkumpul dan Maknanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat pembaptisan kita dijadikan satu keluarga dalam Gereja yang kudus. Orang Kristiani adalah pribadi yang komuniter, selalu terpaut dalam kebersamaan. Kita tidak sendirian. Dalam nama Bapa dan Putera, kita juga dipersatukan oleh Roh Kudus. Itu tampak ketika kita berkumpul, khususnya dalam “tempat kudus.” Kita berkumpul sebagai orang-orang pilihan, yang terpanggil, yang dicintai Allah. Liturgi mengundang kita untuk menemukan kembali panggilan kita, yakni tumbuh dalam kesatuan, menjadi umat Allah, berkarya dengan dan bagi saudara-saudari dalam perayaan yang dinamis. Maka, berkumpul adalah bagian dari tata gerak kolektif. Agar pertemuan itu tidak kacau, tidak anarkis, tetap utuh, maka diperlukanlah keyakinan dan sikap yang sama. Di sinilah letak pentingnya suatu pedoman atau aturan bersama. Kita berkumpul untuk merayakan Ekaristi, suatu perayaan bersama yang bukan tanpa aturan. Selain itu, berkumpul juga menjadi tanda kehadiran Kristus sendiri,“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).&lt;br /&gt;   Makna Berdiri&lt;br /&gt;Sikap tubuh ini mengungkapkan kegembiraan jemaat. Gembira atas kebersamaan dan persaudaraan di dalam Kristus. Berdiri menyatakan keyakinan dan perasaan yang utuh, jiwa yang siaga di hadapan Allah, siap bertemu dan berdialog dengan yang Ilahi. Kita berdiri karena kita berada di hadapan yang menentukan dan menguasai hidup kita, yang memberi kekuatan dan menjaga kita. Berdiri untuk menyatakan bahwa Dia adalah satu-satunya Allah Tuhan kita. Kita berdiri untuk menghorrnati Allah Yang Mahatinggi (bdk. Kej 18:8). Jemaat yang berdiri menunjukkan rasa syukurnya dan keakrabannya dengan Allah. Jemaat yang berdiri juga mengungkapkan persaudaraan yang hidup, yang dipersatukan bagi dan oleh Allah. Maka, sangatlah tepat bila kita berdiri khususnya pada saat menyatakan iman (Syahadat) dan Doa Syukur Agung. Kita mengakui secara terbuka bahwa wafat dan kebangkitan Kristus (Misteri Paskah) adalah dasar kehidupan kita. Inilah dasar kegembiraan kita. Kegembiraan Paskah mengantar perjalanan kita menuju Allah. Kita seolah berdiri bersama Yesus Kristus berada di Yerusalem surgawi. Kita berpartisipasi, terlibat penuh dalam kemenangan Paskah yang dibawakan oleh Kristus. Maka dari itu, di beberapa gereja ada juga yang memberlakukan “berdiri” selama Masa Paskah, tidak ada berlutut, bahkan juga duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kapan Berdiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUMR 43 menunjukkan saat-saat jemaat berdiri, yakni:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[a]  Dari awal nyanyian pembuka, atau selama perarakan masuk menuju altar sampai dengan Doa &lt;br /&gt;Pembuka selesai;&lt;br /&gt;[b]  Pada waktu melagukan Bait Pengantar Injil (dengan atau tanpa “alleluya”);&lt;br /&gt;[c]  Pada waktu Injil dimaklumkan;&lt;br /&gt;[d]  Selama Syahadat (Credo);&lt;br /&gt;[e]  Selama Doa Umat;&lt;br /&gt;[f]  Dari ajakan “Berdoalah, Saudara...” sebelum Doa Persiapan Persembahan hingga akhir &lt;br /&gt;Perayaan Ekaristi, kecuali pada saat-saat tertentu yang ditentukan tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Imam Selebran saat-saat berdirinya hampir sama dengan jemaat. Ada beberapa perbedaan, misalnya, pada saat menyampaikan Homili, ia dapat berdiri atau duduk di kursi imam; pada saat Doa Syukur Agung ia harus tetap berdiri memimpin, sementara jemaat d jakan (“Marilah berdoa”) kepada jemaat. Tata gerak ini juga dilakukan oleh Diakon sebelum membawakan Injil (“Tuhan sertamu....”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan kaget kalau ternyata ada beberapa Imam yang tidak mempraktekkan ragam tata gerak di atas. Alasannya mungkin beraneka: karena tidak tahu, lupa, tidak mampu karena sakit, cuma malas, berpendirian lain, atau.... Sebaiknya tanyakan saja langsung kepada yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Perarakan Juga Bagian dari Tata Gerak&lt;br /&gt;Sering kali terlupakan bahwa perarakan juga merupakan tata gerak. Dari istilah ini kita tentu langsung bisa membayangkan bahwa pelakunya lebih dari satu orang. Juga, ada beberapa perlengkapan pendukung perarakan. Maka, istilah tata gerak mencakup juga segala jenis perarakan, seperti:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] tindakan dan perarakan imam bersama diakon dan para pelayan menuju altar;&lt;br /&gt;[2] perarakan diakon yang membawa Kitab Injil menuju mimbar sebelum pemakluman Injil;&lt;br /&gt;[3] perarakan umat beriman yang mengantar bahan persembahan dan maju untuk menyambut komuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perarakan menandakan suasana kemeriahan. Maka, hendaknya tata gerak ini dilaksanakan dengan anggun, sesuai dengan kaidah masing-masing, dan diiringi dengan nyanyian yang serasi (PUMR 44). Bahkan kalau dirasa perlu bisa juga dengan tarian atau ekspresi budaya lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Tata Gerak, Sikap Tubuh”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia); Jalan Nias 2, Bandung 40117; phone: 022 4207943 / 4217962 (ext 113)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-2291783432850073434?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/2291783432850073434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/tata-gerak-dalam-berliturgi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/2291783432850073434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/2291783432850073434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/tata-gerak-dalam-berliturgi.html' title='Tata Gerak dalam Berliturgi'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6016355286835418806</id><published>2010-01-22T00:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T00:59:35.292-08:00</updated><title type='text'>KURSUS ORGAN MUSIK GEREJA PAROKI SANTA BERNADET CILEDUG</title><content type='html'>KURSUS ORGAN MUSIK GEREJA PAROKI SANTA BERNADET CILEDUG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Mencetak kader-kader organis gereja yang diharapkan akan menjadi Organis Gereja di paroki St. Bernadet Ciledug.&lt;br /&gt;2. Mengumpulkan putera-puteri yang berbakat dan terpanggil menjadi pemusik dan penyanyi gereja di paroki St. Bernadet Ciledug.&lt;br /&gt;3. Membangun kelompok paduan suara anak paroki yang sekaligus belajar musik, mendalami iman dan kitab suci dan bermain bersama sebagai anak-anak seiman sekaligus menjadi calon-calon organis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurikulum Pembelajaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Belajar memainkan organ klasik untuk keperluan pelayanan di gereja atau dalam misa Wilayah. Sumbernya: Buku Menjadi Organis Jilid I – IIIB, dari Pusat Musik Liturgi Yogyakarta – PML A-25, A-26, A, 27, A-28.&lt;br /&gt;- Belajar solfegio untuk vokal dan bermain instrumen musik, mengacu pada Buku pengolahan vokal Nikolaii Vaccaj, 1999.&lt;br /&gt;- Belajar Teori Dasar Musik menggunakan buku Teori Dasar Musik dari Al. Sukohardi, PML Yogyakarta, 1997.&lt;br /&gt;- Berdoa dan mengenal Kitab Suci diasuh oleh Tim Pendampingan Liturgi Anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Pembelajaran :&lt;br /&gt;Setiap hari Minggu, pukul 10.00 – 12.00 wib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat Pembelajaran: Sanggar Liturgi Bernadet, alamat: Rumah Bapak Budiyono, Komplek&lt;br /&gt;                                   Pinang Griya Permai, Jl. Rajawali Raya A1 No. 200, Pinang, Tangerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontak Person  :  Sdri. Fannie (021 731 0130  atau  0898 98 455 33)&lt;br /&gt;          Bpk. Budiyono (021 731 0130  atau   0812 88 91 933)&lt;br /&gt;          Bpk. Leonardus (0852 1123 3125).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelengkapan Belajar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Sedapat mungkin membawa keyboard 1 buah per wilayah. Di Sanggar Liturgi Bernadet disediakan 4 buah keyboard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Membawa kitab suci untuk pendalaman iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria untuk dapat mengikuti Kursus ini:&lt;br /&gt;1. Setiap anak atau remaja mulai usia 6 – 15 tahun, berdomisili di paroki Santa Bernadet Ciledug.&lt;br /&gt;2. Sudah dibaptis dan atau diterima dalam Gereja Katolik.&lt;br /&gt;3. Bersedia menjadi pelayan liturgi tanpa pamrih untuk keperluan gerejawi.&lt;br /&gt;4. Transportasi disediakan oleh wilayah atau orang tua masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf pengajar:&lt;br /&gt;1. Bpk. Leonardus Joseph (Organ, Vokal, Kitab Suci)&lt;br /&gt;2. Bpk. Ignatius Budiyono (Vokal, Kitab Suci)&lt;br /&gt;3. Ibu Sita Sihombing (Organ, Vokal)&lt;br /&gt;4. Sdri. Stefannie (Vokal, Administrasi)&lt;br /&gt;5. Tim Pengajar Ascencio (Organ, Vokal).&lt;br /&gt;6. Suster Sang Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep pengajaran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul   10.00 – 11.00 : Berlatih Organ Gereja.&lt;br /&gt;11.00 – 11.45 : Berlatih Vokal/ Paduan Suara Anak.&lt;br /&gt;11.45 – 12.00 : Mengenal Kitab Suci/ Dinamika Kelompok/ Ibadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah anak/ remaja tergantung pada jumlah keyboard atau organ yang tersedia. Komposisi minimal adalah: 1 keyboard dipakai untuk 2 – 5 orang anak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6016355286835418806?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6016355286835418806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/kursus-organ-musik-gereja-paroki-santa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6016355286835418806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6016355286835418806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/kursus-organ-musik-gereja-paroki-santa.html' title='KURSUS ORGAN MUSIK GEREJA PAROKI SANTA BERNADET CILEDUG'/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4990027375640233838.post-6600964517679546124</id><published>2010-01-22T00:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-22T00:40:26.316-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Immanuel.... Tuhan beserta kita !!!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Saat ini telah terbit untuk Anda sekalian yang berjiwa Katolik dan mencintai liturgi suci, sebuah blog tempat kita belajar, berbagi informasi, mengirimkan uneg-uneg yang membangun dan wadah untuk berdiskusi. Anda sekalian, tua, muda, cantik, ganteng, pastor, suster, bruder, frater, awam .... pokoke, monggo ditunggu keterlibatannya untuk memperkaya liturgi Kristen dan memberi kedamaian bagi kita yang merayakannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Semoga Allah beserta kita. Mari, kita ciptakan liturgi yang Kristiani, Benar, Baik, Baru, Segar dan Menghidupkan di paroki kita dan bagi Gereja Semesta. Syaloom!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4990027375640233838-6600964517679546124?l=liturgikita.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://liturgikita.blogspot.com/feeds/6600964517679546124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/immanuel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6600964517679546124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4990027375640233838/posts/default/6600964517679546124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://liturgikita.blogspot.com/2010/01/immanuel.html' title=''/><author><name>Blog Liturgi Bersama</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716024043142441189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='21' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_fYELk32ITAU/S2uDW3t_kHI/AAAAAAAAAA4/oBGYG6_FEBg/S220/pakeyo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
